BERITAUNGGULAN.COM, BEKASI – Setiap sore, suasana Masjid Asy-Syuhada di kawasan Harapan Indah, Kota Bekasi, terasa begitu hidup. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema dari suara jernih 115 santri cilik yang sebagian besar berasal dari kalangan yatim dan dhuafa. Dengan semangat membara, mereka duduk bersaf-saf, menekuni huruf demi huruf, ayat demi ayat, demi meraih keberkahan ilmu.
Di saf terdepan, berdiri seorang imam muda yang memimpin salat berjamaah. Kehadirannya menjadi simbol lingkaran kebaikan yang terus berputar. Dulu, ia hanyalah seorang santri kecil di TPQ yang sama. Kini, ia kembali untuk mengabdi, membalas kebaikan dengan kebaikan, sekaligus menjadi teladan bagi adik-adik santrinya.
Sosok penting di balik perjalanan panjang TPQ Asy-Syuhada adalah Ustaz Mu’min, Kepala Sekolah yang telah mengabdikan diri sejak 2009. Baginya, mengajar bukan sekadar tugas profesi, melainkan panggilan jiwa.
“Tempat ini sudah menjadi rumah kedua saya. Di sinilah hidup saya terasa paling berarti,” ungkapnya penuh haru.
Tak hanya fokus pada pembelajaran Al-Qur’an, Ustaz Mu’min kini tengah merajut mimpi besar: menghadirkan kelas komputer untuk para santri. Ia berharap ada sekitar 10 hingga 20 perangkat komputer yang bisa disediakan, agar anak-anak tidak hanya mahir membaca Al-Qur’an, tetapi juga memiliki kecakapan teknologi yang akan berguna bagi masa depan mereka.
Melihat semangat mulia ini, Baitul Maal Hidayatullah (BMH) turut ambil bagian dalam mendukung. Implementator BMH Jakarta, Adi Yusuf, menegaskan bahwa TPQ Asy-Syuhada adalah gambaran nyata dari sinergi kebaikan yang hidup di tengah masyarakat.
“Inisiatif seperti ini adalah aset berharga bagi umat. Kebaikan yang tumbuh di sini harus dirawat bersama,” ujarnya, Kamis (18/9).
Lebih jauh, Adi menambahkan bahwa BMH bersama salah satu mitra strategis telah rutin memberikan dukungan kepada TPQ Asy-Syuhada setiap bulan selama lebih dari satu dekade. Konsistensi itu menjadi bukti bahwa komitmen kebaikan dapat melahirkan generasi yang lebih kuat, berkarakter, dan berdaya saing.
Kisah TPQ Asy-Syuhada menjadi bukti nyata bahwa benih kebaikan yang ditanam dengan ketulusan akan tumbuh subur. Dari santri dhuafa yang dulu belajar dengan penuh keterbatasan, kini lahir imam-imam muda yang siap memimpin. Satu alumni telah kembali menjadi imam, dan ratusan lainnya tengah mempersiapkan diri untuk menyusul jejak yang sama.
Mendukung mimpi mereka bukan sekadar membantu sebuah lembaga, melainkan juga ikut merawat masa depan generasi Qur’ani yang melek ilmu pengetahuan. Dari Masjid Asy-Syuhada, lingkaran kebaikan itu terus berputar, membawa harapan besar bagi umat dan bangsa. */Herim












