BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG – Di balik menggeliatnya gerakan literasi di berbagai daerah, ada satu nama yang layak mendapat tempat istimewa: Ferry Curtis. Musisi balada asal Bandung kelahiran Purwakarta ini adalah sosok di balik lagu “Mari Membaca”, sebuah lagu yang kini telah bertransformasi menjadi hymne pemersatu bagi para pegiat literasi di seluruh Indonesia.
Kehadiran lagu ini menjadi titik temu yang selama ini dinantikan. Jika sebelumnya komunitas taman baca, pegiat literasi sekolah, hingga relawan buku bergerak dengan iramanya masing-masing, “Mari Membaca” hadir sebagai simfoni yang menyelaraskan visi. Kehadiran lagu ini menyatukan mereka dalam satu semangat yang sama: melawan buta huruf dan menumbuhkan cinta pada buku.
Banyak yang mengira lagu ini baru populer dan digunakan secara massal pada tahun 2019. Namun faktanya di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Jauh sebelum itu, “Mari Membaca” sudah sangat akrab di telinga anak-anak sekolah. Lagu ini telah diadopsi secara organik oleh komunitas baca, guru-guru Sekolah Dasar, hingga pembina Pramuka sejak Gerakan Literasi Sekolah (GLS) digalakkan oleh Kemendikbud pada tahun 2015-2016.
Liriknya yang lugas, mudah dihafal, dan penuh semangat membuatnya cepat diterima oleh anak-anak. Konsistensinya Ferry Curtis di jalur literasi memang bukan hal baru. Kepeduliannya terhadap dunia buku sudah ia suarakan sejak awal 2000-an melalui lagu berjudul “Ke Pustaka” yang ia rilis pada tahun 2001. Bagi Ferry, musik adalah kendaraan paling efektif untuk menyampaikan pesan sosial.
“Musik punya kaki dan sayap untuk mengantarkan pesan. Saat menciptakan ‘Mari Membaca’, harapan saya simpel, anak-anak di pelosok tidak lagi menganggap buku itu sebagai beban pelajaran, tapi sebagai jendela menuju petualangan baru. Lagu ini bukan lagi milik saya, tapi milik semua orang yang yakin membaca adalah obat dari ketidaktahuan,” ungkap Ferry saat ditemui belum lama ini.
Melalui “Mari Membaca”, Ferry Curtis membuktikan bahwa sebuah lagu tidak hanya sekadar rangkaian nada. Ia adalah warisan harmoni yang mampu mengikat emosi, membakar semangat, dan menjaga bara gerakan literasi agar terus menyala di seluruh penjuru Nusantara. [ ]
Dok foto: Cap26












