Tim PKM FK Unisba (Asep Saefulloh, Roslaini, Nuri Amalia)
BERITAUNGGULAN.COM, KABUPATEN BANDUNG — Nyeri punggung bawah sering kali dianggap sebagai keluhan biasa. Padahal, rasa nyeri pada bagian belakang tubuh dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan pada kondisi tertentu dapat berkaitan dengan gangguan pada saraf maupun struktur tulang belakang. Karena itu, mengenali gejala dan memahami cara mencegahnya menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan masyarakat.
Persoalan tersebut menjadi perhatian Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) dalam kegiatan Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Kemitraan di Dusun III, Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Melalui kegiatan pendampingan, ibu-ibu PKK tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai penyakit saraf, tetapi juga dibekali keterampilan untuk mengenali tanda-tanda gangguan saraf dan menjadi bagian dari upaya kesehatan di lingkungan masyarakat.
Dari pengetahuan menuju pemberdayaan
Penyakit saraf merupakan salah satu masalah kesehatan yang memiliki dampak luas. Dalam laporan kegiatan ini disebutkan bahwa pada 2021 sekitar 3,4 miliar orang atau 43,1 persen populasi dunia mengalami kondisi neurologis yang berkontribusi terhadap 11,1 juta kematian. Stroke, demensia, dan nyeri punggung bawah termasuk masalah kesehatan saraf yang banyak dijumpai pada layanan kesehatan primer.
Di Dusun III Desa Cimekar, kelompok ibu-ibu PKK telah aktif dalam kegiatan masyarakat. Namun, hasil analisis situasi menunjukkan masih terdapat keterbatasan pengetahuan mengenai pencegahan penyakit saraf. Kondisi tersebut menjadi penting karena berbagai gangguan neurologis berkaitan dengan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, pola makan tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik.
Melihat kondisi tersebut, tim pengabdian FK Unisba memilih pendekatan pemberdayaan. Ibu-ibu PKK tidak ditempatkan hanya sebagai peserta penyuluhan, tetapi diarahkan untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat diteruskan kepada masyarakat di lingkungannya.
Belajar mengenali nyeri punggung bawah
Salah satu materi utama dalam kegiatan adalah nyeri punggung bawah atau low back pain. Kondisi ini ditandai dengan rasa nyeri pada bagian belakang tubuh yang dapat mengganggu aktivitas. Pada sebagian kasus, nyeri dapat dirasakan hingga bokong, paha, bahkan menjalar ke kaki.
Nyeri punggung bawah juga tidak selalu memiliki penyebab yang sama. Keluhan dapat berkaitan dengan kekakuan otot, gangguan sendi, pengeroposan tulang, gangguan saraf tulang belakang, maupun kondisi lain seperti batu ginjal. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa setiap keluhan nyeri punggung perlu diperhatikan berdasarkan karakteristik dan perjalanan gejalanya.
Gejalanya dapat berupa nyeri seperti ditusuk atau tersetrum listrik, nyeri yang menjalar ke bagian tubuh lain, termasuk kaki, maupun kedutan otot. Pengenalan terhadap karakteristik nyeri menjadi penting karena keluhan tertentu dapat berkaitan dengan gangguan saraf dan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Jangan abaikan tanda bahaya
Dalam edukasi kepada ibu-ibu PKK, perhatian juga diberikan pada tanda bahaya atau red flag. Tidak semua nyeri punggung bawah dapat diperlakukan dengan cara yang sama.
Beberapa kondisi yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut antara lain dugaan keganasan, infeksi, patah tulang belakang, sindrom kauda equina, gangguan neurologis berat, sindrom radikuler, serta keluhan pada kelompok usia tertentu. Adanya tanda-tanda tersebut menjadi alasan untuk tidak mengabaikan keluhan dan mempertimbangkan evaluasi medis lebih lanjut.
Pengetahuan semacam ini menjadi penting di tingkat masyarakat karena dapat membantu kader mengenali kapan suatu keluhan dapat dipantau dan kapan seseorang perlu diarahkan untuk mendapatkan pemeriksaan tenaga kesehatan.
Tidak hanya mendengar, tetapi belajar secara langsung
Kegiatan yang dilaksanakan pada 16 Juni 2026 tersebut menghadirkan dokter spesialis saraf FK Unisba untuk memberikan edukasi mengenai penyakit saraf, khususnya nyeri punggung bawah. Setelah edukasi, ibu-ibu PKK mendapatkan pelatihan secara hands-on sebagai kader kesehatan masyarakat, termasuk dalam mengenali dan melakukan skrining tanda-tanda bahaya penyakit saraf.
Pendekatan praktik secara langsung menjadi bagian penting dalam proses pemberdayaan. Pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada pemahaman materi, tetapi diarahkan agar dapat digunakan ketika kader berinteraksi dengan masyarakat.
Untuk melihat peningkatan pengetahuan, kegiatan juga dilengkapi dengan evaluasi melalui pre-test dan post-test. Program ini menargetkan adanya peningkatan pengetahuan yang terukur serta terbentuknya kader kesehatan desa yang dapat berperan sebagai agen perubahan di masyarakat.
Ibu PKK sebagai agen perubahan kesehatan
Pemberdayaan ibu-ibu PKK memiliki arti strategis karena mereka merupakan bagian dari masyarakat dan memiliki ruang interaksi yang dekat dengan keluarga serta lingkungan sekitarnya. Dengan pengetahuan yang memadai, kader dapat membantu menyampaikan pesan kesehatan yang sederhana dan mudah dipahami masyarakat.
Dalam kegiatan ini, tim pengabdian FK Unisba juga menyediakan modul edukasi berkelanjutan berupa buku saku mengenai penyakit saraf. Materi tersebut dirancang agar menarik dan mudah dipahami sehingga dapat menjadi sumber informasi yang dapat digunakan kembali setelah kegiatan pendampingan selesai.
Dengan demikian, pemberdayaan tidak berhenti ketika kegiatan penyuluhan berakhir. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat terus digunakan dan disebarluaskan melalui aktivitas kader di lingkungan masyarakat.
Mencegah lebih baik daripada mengabaikan
Selain mengenali gejala dan tanda bahaya, masyarakat perlu memahami bahwa kesehatan punggung juga berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari. Materi edukasi dalam kegiatan ini menekankan beberapa langkah sederhana untuk membantu menjaga kesehatan punggung.
Aktivitas fisik secara rutin, seperti berjalan kaki, berenang, yoga, atau pilates, menjadi salah satu kebiasaan yang diperkenalkan. Selain itu, postur tubuh ketika duduk dan berdiri perlu diperhatikan. Menjaga berat badan, memperbaiki posisi tidur, tidak merokok, serta menghindari mengangkat beban berat secara berlebihan juga menjadi bagian dari pesan pencegahan yang diberikan.
Pesan tersebut sederhana, tetapi penting karena pencegahan penyakit sering kali dimulai dari kebiasaan yang dilakukan setiap hari. Masyarakat tidak harus menunggu munculnya keluhan berat untuk mulai memperhatikan kesehatan tubuh.
Kolaborasi untuk kesehatan masyarakat
Kegiatan pendampingan ini merupakan kolaborasi antara FK Unisba, ibu-ibu PKK, pemerintah desa, mahasiswa, serta rumah sakit jejaring. Tim pengabdian diketuai oleh dr. Asep Saefulloh, SpN., bersama dr. Roslaini, SpN., dan dr. Nuri Amalia, SpN., MMRS., dengan melibatkan mahasiswa akademik maupun profesi.
Dekan FK Unisba menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata peran perguruan tinggi dalam menjembatani ilmu kedokteran agar dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat dipraktikkan oleh ibu-ibu PKK di lingkungan Desa Cimekar.
Dukungan dari pemerintah desa dan lingkungan masyarakat juga menjadi bagian penting. Kepala Desa Cimekar bersama Ketua RW 21 menyampaikan dukungan terhadap kegiatan yang dinilai dapat memberdayakan masyarakat sekaligus membantu meningkatkan upaya pencegahan penyakit saraf, khususnya nyeri punggung bawah.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan saraf bukan hanya tanggung jawab fasilitas kesehatan. Pengetahuan yang benar, kemampuan mengenali tanda bahaya, serta kebiasaan hidup yang lebih sehat dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan yang dilakukan sejak dari lingkungan keluarga dan masyarakat.
Melalui pemberdayaan ibu-ibu PKK di Dusun III Desa Cimekar, FK Unisba mendorong terbentuknya masyarakat yang lebih mengenal kesehatan saraf dan mampu mengambil langkah yang tepat ketika menghadapi keluhan. Dari lingkungan masyarakat, upaya menjaga kesehatan dapat dimulai—satu pengetahuan, satu kebiasaan, dan satu keluarga pada satu waktu. [ ]
Dok foto: FK Unisba











