BERITAUNGGULAN.COM, PALU – Komitmen untuk membantu dan menguatkan generasi bangsa, khususnya para santri penghafal Al-Qur’an, terus digelorakan oleh Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Lembaga amil zakat nasional ini meyakini, para santri bukan hanya penerus estafet keilmuan Islam, tetapi juga aset strategis bagi kemajuan negeri di masa depan.
Namun, di balik semangat itu, realitas di lapangan tidak selalu mudah. Tantangan jarak, medan berat, dan keterbatasan akses logistik kerap menjadi penghalang. Meski demikian, semangat dakwah dan kepedulian sosial tak pernah padam di hati para relawan BMH.
Tepat pada Sabtu, 11 Oktober 2025, tim BMH Perwakilan Sulawesi Tengah kembali menapaki perjalanan panjang menuju wilayah utara Kota Palu, berbatasan langsung dengan Kabupaten Donggala. Tujuan mereka: memastikan kebutuhan logistik santri tetap terpenuhi di Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an Hidayatullah Pantoloan, yang berlokasi di Jl. Hi. Patila Dusun Ova, Kelurahan Pantoloan, Kecamatan Tawaeli.
Perjalanan menuju lokasi ini memakan waktu sekitar satu jam dari pusat kota. Jalan yang berliku dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan tidak menjadi penghalang. Justru di situlah letak makna perjuangan: menyalurkan kebaikan hingga ke pelosok yang jarang tersentuh.
Pesantren yang dipimpin oleh Ustaz Muhammad Ali Murtadho ini menaungi 15 santri yang dengan tekun menghafal ayat-ayat suci Al-Qur’an. Mereka hidup sederhana, namun semangat belajar dan beribadah begitu tinggi. Untuk mendukung aktivitas mereka, BMH menyalurkan Program Beras untuk Santri Tahfidz Qur’an, sebuah bentuk perhatian nyata terhadap kebutuhan dasar para penghafal kalam Ilahi.
Kepala BMH Sulawesi Tengah, Ahmad Lasamuri, menjelaskan bahwa penyaluran bantuan logistik ini merupakan bukti nyata dari sinergi antara donatur dan lembaga dalam menjaga keberlangsungan pendidikan para santri.
“Dengan adanya bantuan logistik ini, para santri dapat bernapas lega. Mereka kini bisa lebih fokus menghafal tanpa harus khawatir terhadap kebutuhan dasar sehari-hari,” ujarnya penuh syukur.
Lebih dari sekadar beras, bantuan ini menjadi energi kehidupan bagi para santri. Setiap butir beras yang dimasak di dapur pesantren seolah menjadi bahan bakar semangat mereka untuk terus menuntaskan hafalan, satu demi satu ayat, hingga menjadi generasi penghafal Qur’an yang tangguh.
BMH sadar, pendidikan karakter dan spiritual yang tumbuh dari pondok pesantren seperti ini merupakan pondasi kuat bagi lahirnya masyarakat yang berakhlak dan berdaya.
“Dengan dukungan para donatur, BMH terus membuktikan bahwa gerakan kebaikan ini benar-benar nyata. Kami ingin memastikan masa depan para penghafal Qur’an tetap terjaga, karena dari merekalah kelak cahaya kebaikan negeri ini bersinar,” tambah Lasamuri.
Ia menutup dengan pesan optimistis yang menjadi semangat gerakan BMH di seluruh pelosok negeri.
“Kita berbuat baik terus, siapa tahu kelak mereka menjadi generasi yang bisa membawa Indonesia Emas.”
Gerakan kecil yang dilakukan dengan keikhlasan ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian sosial tidak mengenal batas wilayah. Dari ujung utara Palu, jejak kebaikan itu terus mengalir, menguatkan harapan dan masa depan para penjaga Kalamullah. */Herim











