kepemimpinan

Kasih Sayang dalam Kepemimpinan: Teladan Umar bin Khathab hingga Rasulullah SAW

BERITAUNGGULAN.COM, DEPOK – Banyak orang masih menganggap kasih sayang hanya sebatas urusan domestik, seperti hubungan suami-istri atau orang tua dan anak. Padahal, kasih sayang juga memegang peranan penting dalam kepemimpinan.

Pemimpin yang berlandaskan kasih sayang adalah mereka yang berkomitmen pada keadilan, kepedulian, serta kesejahteraan rakyat. Salah satu contoh agungnya adalah Khalifah Umar bin Khathab ra. Beliau dikenal jarang tidur nyenyak di malam hari karena kerap berpatroli, memastikan tidak ada rakyatnya yang kelaparan. Semua dilakukan tanpa pengawalan ajudan, apalagi sorotan media.

Suatu malam, Umar mendengar tangis anak-anak yang kelaparan dari sebuah rumah. Setelah mendekat, ia mendapati sang ibu tidak memiliki bahan makanan untuk dimasak. Dengan segera, Umar menuju gudang logistik, memanggul sendiri karung berisi bahan makanan, lalu membawanya ke rumah tersebut. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa kasih sayang dalam kepemimpinan bukan hanya wacana, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan.

Kasih Sayang sebagai Inti Kepemimpinan

Kisah Umar bin Khathab ra. menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati tidak semata-mata diukur dari kekuasaan, melainkan dari kepedulian dan pengorbanan demi kesejahteraan rakyat. Pemimpin yang berkasih sayang akan melayani dengan tulus, bahkan dalam kesunyian malam, jauh dari gemerlap panggung publik.

Sikap seperti ini melahirkan kepercayaan dan kecintaan rakyat. Inilah inti kepemimpinan yang berlandaskan kasih sayang—sikap yang sangat diharapkan lahir pada pemimpin Indonesia.

Balasan Ilahi bagi Pemimpin yang Penyayang

Kasih sayang dalam kepemimpinan bukan hanya menyangkut hubungan horizontal antara pemimpin dan rakyat, tetapi juga hubungan vertikal dengan Allah SWT. Al-Qur’an menegaskan bahwa orang-orang beriman yang beramal saleh akan memperoleh kebahagiaan dan tempat kembali yang terbaik (QS. Ar-Ra’du: 29).

Janji ini ditujukan bagi mereka yang memimpin dengan hati, bukan hanya dengan kekuasaan. Pemimpin yang menebar kasih sayang akan menuai balasan terbaik, baik di dunia maupun di akhirat. Kepemimpinan semacam ini adalah jalan keberkahan sekaligus kebaikan bagi masa depan umat.

Tidak heran jika hingga kini manusia terus membicarakan Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah teladan pemimpin sempurna di semua level. Kasih sayang beliau laksana samudera luas, mengalir dari rumah tangga hingga ke skala negara, bahkan untuk seluruh umat manusia.

Oleh: Mas Imam Nawawi