BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG BARAT – Sabtu dini hari, tepat sekitar pukul 03.00 WIB, alam menunjukkan murkanya di Kampung Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Hujan deras yang mengguyur tanpa jeda sejak malam sebelumnya akhirnya memicu bencana tanah longsor besar. Dalam hitungan menit, puluhan rumah warga tertimbun material tanah dan bebatuan. Jerit minta tolong bercampur suara runtuhan menjadi saksi betapa rapuhnya kehidupan manusia di hadapan kuasa alam.
Memasuki hari kedua pascabencana, Desa Pasirlangu tak lagi sekadar nama di peta. Ia menjelma menjadi pusat duka, harapan, dan perjuangan. Gundukan tanah cokelat basah kini menggantikan rumah-rumah sederhana yang selama ini menjadi tempat berlindung puluhan keluarga.
Di tengah suasana penuh keprihatinan itu, relawan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) bersama tim gabungan hadir sejak detik-detik awal kejadian. Mereka bukan hanya membawa logistik dan peralatan, tetapi juga empati dan keteguhan hati untuk menemani warga yang kehilangan segalanya.
“Yang paling berat bukan hanya medan, tapi melihat langsung warga berdiri mematung menatap lokasi rumahnya yang sudah tak ada,” tutur salah satu relawan BMH di lokasi.
Bertaruh Nyawa di Antara Reruntuhan
Ahad pagi (25/1), situasi evakuasi sempat berubah menjadi sangat menegangkan. Saat tim gabungan tengah melakukan pencarian terhadap 73 warga yang dilaporkan masih hilang, suara gemuruh kembali terdengar dari arah perbukitan. Pukul 10.30 WIB, longsor susulan terjadi, memaksa seluruh tim untuk segera mengamankan diri.
“Kami harus menarik seluruh personel dari zona utama. Keselamatan relawan menjadi prioritas,” ujar Koordinator Lapangan BMH, Yusep Suhendar, dengan raut wajah tegang.
Ancaman longsor susulan membuat proses evakuasi berjalan sangat dinamis. Namun, langkah mundur itu bukan tanda menyerah. Setelah kondisi dinilai cukup aman, relawan BMH bersama Basarnas, BNPB, dan unsur terkait kembali menyusuri area terdampak. Dengan perlengkapan seadanya, mereka menyisir lumpur dan reruntuhan, berharap menemukan tanda-tanda kehidupan di balik timbunan tanah.
Setiap ayunan cangkul dan setiap penggalian manual dilakukan dengan penuh kehati-hatian, sebab satu kesalahan kecil bisa berujung petaka.
Angka yang Bermakna Nyawa
Hingga Minggu sore, data sementara mencatat sebanyak 17 korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Sementara itu, puluhan warga lainnya masih dinyatakan hilang, membuat proses pencarian menjadi lomba melawan waktu dan kondisi alam.
Sebanyak 23 warga berhasil selamat, namun selamat dari maut bukan berarti terbebas dari penderitaan. Sekitar 30 rumah rusak berat dan tertimbun total. Harta benda, kenangan, dan sumber penghidupan hilang dalam sekejap.
Di posko pengungsian, suasana sunyi kerap menyelimuti. Tangis lirih sesekali terdengar, diselingi doa dan harapan agar anggota keluarga yang belum ditemukan bisa segera diketahui nasibnya. Anak-anak, lansia, dan perempuan menjadi kelompok paling rentan dalam kondisi darurat ini.
“Mereka tidak hanya membutuhkan bantuan logistik, tapi juga dukungan moril dan kepastian bahwa mereka tidak sendirian,” ungkap Yusep.
Uluran Tangan di Tengah Dinginnya Cisarua
Suhu dingin kawasan Cisarua semakin menambah berat beban para pengungsi. Saat ini, kebutuhan mendesak meliputi makanan siap saji, selimut, perlengkapan pengungsian, serta alat pelindung diri bagi relawan yang terus berjibaku di lapangan.
BMH terus membuka dapur umum darurat dan menyalurkan bantuan kepada warga terdampak. Koordinasi intensif dilakukan bersama Basarnas, BNPB, TNI, Polri, dan relawan lintas lembaga guna memastikan distribusi bantuan berjalan merata dan tepat sasaran.
“BMH akan terus bersiaga. Selama masih ada harapan dan kebutuhan warga, kami akan tetap di sini,” tegas Yusep.
Di tengah lumpur, air mata, dan ancaman longsor susulan, kisah Pasirlangu menjadi pengingat bahwa solidaritas dan kepedulian adalah cahaya yang tak pernah padam, bahkan di saat paling gelap sekalipun./Herim












