Memahami Perilaku Anak Berkebutuhan Khusus: Peran Instrumen ABC-K di SLB

Penilaian perilaku yang tepat membantu guru memahami kebutuhan siswa, bukan sekadar mengidentifikasi masalah.

Penulis: Gemah Nuripah

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Setiap anak memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan perasaan, berkomunikasi, belajar, dan berinteraksi dengan lingkungan. Pada anak berkebutuhan khusus, perbedaan tersebut terkadang muncul dalam bentuk perilaku seperti mudah marah, sulit berkonsentrasi, menarik diri dari lingkungan sosial, melakukan gerakan berulang, atau mengalami kesulitan mengikuti instruksi.

Di lingkungan Sekolah Luar Biasa (SLB), perilaku tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Ketika seorang siswa menangis, menolak mengikuti kegiatan belajar, atau menunjukkan perilaku agresif, guru perlu memahami apa yang terjadi, bukan hanya berusaha menghentikan perilaku tersebut.

Pertanyaannya, bagaimana guru dapat menilai perilaku siswa secara lebih sistematis dan objektif?

Salah satu instrumen yang dapat membantu penilaian perilaku siswa adalah Aberrant Behavior Checklist–Komunitas (ABC-K) versi bahasa Indonesia yang dapat diisi oleh guru maupun orang tua.

Mengapa penilaian perilaku penting?

Penilaian perilaku merupakan langkah penting untuk memahami karakteristik dan kebutuhan setiap siswa. Melalui penilaian yang tepat, guru dapat mengenali perilaku yang perlu mendapatkan perhatian, memantau perubahan perilaku dari waktu ke waktu, serta merencanakan pendekatan pembelajaran yang lebih sesuai.

Selama ini, informasi mengenai perilaku siswa sering diperoleh melalui wawancara dengan orang tua dan observasi langsung di sekolah. Kedua cara tersebut tetap penting untuk digunakan, tetapi lebih baik apabila terdapat penilaian yang dilakukan secara terstruktur untuk membantu guru mencatat dan menilai perilaku secara lebih konsisten. Penilaian terstruktur juga dapat menjadi dasar untuk mendiskusikan kebutuhan siswa bersama orang tua dan tenaga profesional.

Mengenal ABC-K: alat bantu untuk memahami perilaku siswa

Aberrant Behavior Checklist–Komunitas  (ABC-K) merupakan instrumen penilaian perilaku yang dikembangkan untuk mengukur tingkat keparahan berbagai perilaku bermasalah pada individu dengan disabilitas perkembangan. Instrumen ini telah digunakan dalam berbagai penelitian dan dapat membantu pemantauan perilaku dalam konteks kehidupan sehari-hari.

ABC-K mencakup 58 butir penilaian yang dikelompokkan ke dalam lima domain perilaku, yaitu:

  1. Iritabilitas, agitasi, dan menangis. Mencakup perilaku mudah marah, ledakan emosi, atau tangisan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
  2. Letargi dan penarikan diri sosial. Berkaitan dengan rendahnya keterlibatan dalam aktivitas serta kecenderungan menarik diri dari interaksi sosial.
  3. Perilaku stereotipik. Mencakup gerakan atau pola perilaku berulang yang perlu dinilai sesuai konteks dan dampaknya terhadap aktivitas.
  4. Hiperaktivitas dan ketidakpatuhan. Meliputi aktivitas berlebihan, kesulitan mengendalikan impuls, atau kesulitan mengikuti arahan.
  5. Bicara yang tidak tepat. Berkaitan dengan pola bicara tertentu yang dinilai tidak sesuai dengan konteks komunikasi.

Kelima domain tersebut membantu memberikan gambaran yang lebih terarah mengenai perilaku yang diamati. Dengan demikian, guru tidak hanya mencatat bahwa seorang siswa “sulit diatur”, tetapi dapat mengidentifikasi aspek perilaku yang perlu dipahami lebih lanjut.

Penting untuk diingat bahwa ABC-K bukan alat untuk memberikan label negatif kepada anak dan bukan pula alat diagnosis mandiri. Hasilnya perlu ditafsirkan secara hati-hati oleh pihak yang memahami instrumen tersebut, dengan mempertimbangkan kondisi perkembangan, kebutuhan komunikasi, lingkungan, dan informasi lain yang relevan.

Dari mengamati menjadi memahami

Bayangkan seorang siswa sering meninggalkan tempat duduk saat pembelajaran berlangsung. Tanpa penilaian yang terarah, perilaku tersebut mungkin langsung dianggap sebagai ketidakpatuhan.

Namun, ada berbagai kemungkinan yang perlu dieksplorasi. Apakah siswa kesulitan mempertahankan perhatian? Apakah instruksi terlalu panjang? Apakah aktivitas belajar terlalu sulit atau terlalu mudah? Apakah siswa membutuhkan jeda gerak atau mengalami kesulitan menyampaikan kebutuhannya?

ABC-K dapat membantu mengidentifikasi pola perilaku yang perlu diperhatikan. Guru kemudian dapat menggabungkan hasil penilaian dengan observasi situasional, berdiskusi dengan orang tua, dan menyusun strategi pembelajaran yang sesuai.

Misalnya, guru dapat mencoba memberikan instruksi lebih singkat, menggunakan jadwal visual, membagi tugas menjadi beberapa tahap, atau menyediakan jeda aktivitas jika memang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Penilaian berfungsi sebagai salah satu sumber informasi untuk menyusun dan mengevaluasi intervensi yang lebih individual.

Dengan pendekatan ini, fokus pembelajaran bergeser dari sekadar menghentikan perilaku yang dianggap mengganggu menjadi memahami kebutuhan anak dan membantu mereka berpartisipasi secara lebih optimal.

Meningkatkan kapasitas guru melalui pelatihan dan pendampingan

Pentingnya penilaian perilaku yang terstruktur menjadi dasar pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk sosialisasi dan pendampingan penilaian perilaku siswa menggunakan ABC-K kepada guru SLB di Kota Bandung. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim Pengabdi dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung.

Kegiatan pelatihan dilaksanakan pada 16 Juni 2026 di SLB Az-Zakiyah. Sebanyak 60 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas 30 peserta yang hadir secara langsung dan 30 peserta yang mengikuti secara daring.

Materi pelatihan mencakup pengenalan perilaku pada anak dengan Gangguan Spektrum Autisme (GSA), penanganan perilaku, penggunaan ABC-K, serta simulasi pengisian kuesioner. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, pelatihan, praktik, diskusi, dan simulasi agar peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memperoleh gambaran tentang penerapannya.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata pengetahuan peserta dari 82,50 pada pre-test menjadi 91,43 pada post-test. Artinya, terdapat peningkatan sebesar 8,93 poin setelah pelatihan. Rentang nilai juga berubah dari 20–100 pada pre-test menjadi 60–100 pada post-test.

Hasil ini memberikan indikasi bahwa pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan peserta mengenai penilaian perilaku menggunakan ABC-K. Meski demikian, peningkatan skor pengetahuan belum dengan sendirinya membuktikan bahwa keterampilan penerapan instrumen di lapangan telah meningkat atau bahwa perilaku siswa mengalami perubahan.

Karena itu, kegiatan dilanjutkan dengan pendampingan di tiga sekolah, yaitu SLB Jatis Hurip, SLB Az-Zakiyah, dan SLB Prananda. Pendampingan ini bertujuan untuk melihat penerapan penilaian perilaku dengan menggunakan ABC-K di sekolah, mendiskusikan kesulitan dalam pengisian kuesioner, serta mendorong pemanfaatannya secara rutin.

Penilaian berkala untuk memantau perkembangan siswa

Salah satu tujuan penting penggunaan ABC-K adalah membantu sekolah memantau perubahan perilaku siswa dari waktu ke waktu.

Penilaian dapat dipertimbangkan saat penerimaan siswa baru dan pada akhir semester, sesuai kebutuhan, kebijakan sekolah, serta rekomendasi profesional yang relevan. Apabila terdapat perubahan perilaku yang signifikan atau kebutuhan intervensi tertentu, penilaian tambahan dapat dipertimbangkan.

Hasil penilaian berkala dapat menjadi bahan diskusi untuk mengevaluasi apakah strategi pembelajaran dan intervensi yang diberikan sudah sesuai. Guru juga dapat membandingkan catatan perilaku dengan informasi dari orang tua agar memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai kondisi anak di berbagai lingkungan.

Namun, penilaian yang dilakukan berulang kali harus memperhatikan konsistensi cara pengisian, konteks pengamatan, dan perubahan kondisi siswa. Perubahan skor tidak selalu mencerminkan perubahan perilaku secara langsung tanpa interpretasi yang tepat.

Yang tidak kalah penting, hasil penilaian harus digunakan untuk mendukung kebutuhan siswa, bukan untuk membandingkan anak satu dengan lainnya atau menentukan kemampuan anak hanya berdasarkan skor.

Kolaborasi guru, orang tua, dan tenaga profesional

Keberhasilan pendampingan anak berkebutuhan khusus tidak dapat dibebankan kepada guru saja. Orang tua memiliki informasi penting mengenai kebiasaan anak di rumah, sedangkan guru mengamati perilaku anak dalam kegiatan belajar dan interaksi sosial di sekolah.

Kolaborasi keduanya dapat membantu mengidentifikasi situasi yang memicu perilaku tertentu, mengenali strategi yang efektif, serta menyelaraskan pendekatan di rumah dan sekolah.

Apabila ditemukan perilaku yang membahayakan diri sendiri atau orang lain, perubahan perilaku yang mencolok, atau kesulitan yang sangat menghambat aktivitas sehari-hari, maka sekolah dan keluarga perlu mempertimbangkan untuk melakukan konsultasi dengan tenaga profesional yang sesuai.

Membangun sekolah yang lebih memahami kebutuhan anak

Penggunaan ABC-K merupakan salah satu langkah untuk membangun budaya penilaian perilaku yang lebih sistematis di SLB. Instrumen ini dapat membantu guru menyusun gambaran perilaku siswa secara terstruktur, memantau perkembangan, dan merencanakan dukungan yang lebih sesuai dengan kebutuhan individual.

Kegiatan pelatihan dan pendampingan bagi guru SLB di Kota Bandung menjadi langkah awal untuk memperkuat pengetahuan dan mendorong penerapan penilaian perilaku secara lebih terarah. Keberlanjutan program memerlukan praktik yang konsisten, pendampingan, evaluasi, serta kerja sama antara sekolah, keluarga, dan tenaga profesional.

Pada akhirnya, tujuan penilaian perilaku bukanlah mencari kesalahan anak, melainkan memahami apa yang mereka butuhkan agar dapat belajar dan berkembang dengan lebih baik.

Setiap perilaku memiliki konteks. Ketika guru berusaha memahami konteks tersebut, sekolah memiliki peluang yang lebih besar untuk menghadirkan pembelajaran yang aman, inklusif, dan menghargai keunikan setiap anak. [ ]