Qurban

Mengapa Qurban Penting dalam Kehidupan Seorang Muslim?

BERITAUNGGULAN.COM, DEPOK — Ibadah qurban hadir setiap tahun sebagai panggilan seorang muslim  untuk mengorbankan harta terbaik demi mendekatkan diri kepada Allah. Tapi, apakah kita pernah bertanya: *mengapa qurban begitu penting?

Dalam Al-Qur’an, ada dua kisah yang memberikan jawaban mendalam.

Pertama, kisah Habil dan Qabil, putra Nabi Adam. Saat mereka mempersembahkan qurban, hanya Habil yang diterima oleh Allah. Mengapa? Karena qurban bukan sekadar ritual fisik, tetapi simbol ketakwaan.

Allah berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 27:

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertakwa.”

Inilah esensi utama qurban: menjaga api taqwa tetap menyala dalam hati.

Ia adalah ujian kesadaran bahwa apa pun yang kita miliki berasal dari-Nya, dan siap dikorbankan untuk-Nya.

Kisah kedua adalah teladan Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Ketika Nabi Ibrahim bermimpi diperintah untuk menyembelih Ismail, sang putra justru menyambut dengan sabar dan tunduk pada takdir Ilahi.

“Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS Ash-Shaffat: 102).

Dari sini kita belajar: qurban adalah latihan totalitas dalam ketaatan. Bukan hanya soal menyembelih hewan, tapi melatih jiwa untuk berserah diri, sabar, dan percaya pada rencana Allah.

Qurban mengajarkan kita untuk peduli pada sesama, melatih rasa syukur, serta memperkuat iman.

Maka, jangan lihat qurban sebagai beban, tapi sebagai peluang untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berbagi kebahagiaan di hari raya Idul Adha.

Berdasarkan penjelasan Quran tentang qurban itu, maka pantas jika Nabi SAW memberi peringatan tegas. Bahwa siapa yang punya kelapangan rezeki, tapi enggan dan tidak berqurban, agar jangan sekali-kali mendekati tempat shalat Nabi, yakni Masjid Nabawi.

Ini bermakna bahwa qurban itu sangat penting. Penting untuk kita memelihara taqwa dan sabar. Pada sisi lain, qurban penting untuk menjaga keseimbangan sosial, pemerataan ekonomi dan gizi bagi mereka yang tidak mampu.

Alhasil, apakah sampai titik ini sudah ada keinginan atau niat mau berqurban?

 

Oleh : Mas Imam Nawawi