BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Udara pagi di Gegerkalong Girang terasa sejuk, diiringi lantunan takbir yang menggema dari pengeras suara Dome Central V, Bandung. Pagi ini, ribuan jemaah berbondong-bondong memenuhi kawasan wakaf Daarut Tauhiid untuk menunaikan salat Idul Fitri. Suasana syahdu dan penuh kekhusyukan terasa di antara saf-saf yang tersusun rapi, menandakan kebersamaan yang telah lama dirindukan.
Bagi sebagian jemaah, salat Ied kali ini bukan sekadar ritual ibadah tahunan, melainkan momen yang membawa mereka kembali ke kenangan lama. Salah satu jemaah, Rizal (45), mengungkapkan betapa mendalamnya perasaannya saat kembali sujud di tempat yang pernah menjadi bagian dari rutinitas ibadahnya.
“Sudah beberapa tahun saya tidak salat Ied di sini karena berbagai kesibukan. Begitu kembali, rasanya seperti pulang ke rumah. Suasananya masih sama—hangat, damai, dan penuh keberkahan,” tutur Rizal dengan mata berbinar.
Di sekelilingnya, wajah-wajah penuh kebahagiaan terlihat di antara jemaah. Banyak yang datang bersama keluarga, beberapa bahkan membawa anak-anak kecil yang tertawa ceria setelah prosesi salat usai. Kawasan wakaf Daarut Tauhiid yang selama ini menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam, kembali menjadi saksi perayaan Idul Fitri nan penuh makna.
Walau salat Ied kali ini tanpa kehadiran KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) yang memberikan khutbah, suasana khidmat tetap terasa. Para jemaah mendengarkan khutbah Ied dengan penuh khusyuk.
Setelah salat dan khutbah, jemaah saling bersalaman, melebur dalam kehangatan ukhuwah. Beberapa mengambil kesempatan untuk berfoto bersama, mengabadikan momen penuh kebersamaan ini. Di sudut lain, relawan Daarut Tauhiid sibuk mengatur para jemaah yang hendak meninggalkan area salat. Tak lupa mereka menebar 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) kepada setiap jemaah. Menambah nuansa kebersamaan yang khas di tempat ini.
Bagi Rizal dan banyak jemaah lainnya, salat Ied di Daarut Tauhiid punya makna mendalam. Layaknya sebuah perjalanan spiritual yang membawa mereka lebih dekat dengan Allah dan sesama.
“Saya berharap bisa kembali setiap tahun, merasakan kembali ketenangan yang hanya bisa ditemukan di tempat ini,” ujar Rizal sebelum akhirnya beranjak pulang dengan hati yang lapang dan penuh syukur.
Idul Fitri di Daarut Tauhiid bukan hanya tentang hari kemenangan. Tetapi juga tentang merajut kembali kebersamaan yang sempat terpisah, dalam sujud penuh makna dan doa yang mengangkasa. (Cahya) [ ]
Dok foto: Daarut Tauhiid
