BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Pagi di TPS (Tempat Pembuangan Sampah) Berbudaya Arcamanik tak lagi dipenuhi kepulan asap seperti yang sering dibayangkan orang tentang tempat pembakaran sampah. Di tengah suara mesin dan panas yang menyengat, Arya Widya berdiri sigap di dekat reaktor plasma dingin, salah satu dari tiga kegiatan dalam program Halal Ecosystem with Carbon Credit Campus Initiative, sebuah inisiatif zero waste berbasis kredit karbon yang digagas dosen Universitas Islam Bandung (Unisba). Teknologi ini kini menjadi harapan baru dalam pengelolaan sampah di Kota Bandung.
Sejak Desember lalu, Arya menjadi salah satu operator yang dipercaya mengoperasikan sekaligus merawat mesin tersebut. Lulusan SMK di Cimahi ini mengaku tak asing dengan dunia mesin, tapi reaktor plasma dingin tetap memberi pengalaman berbeda.
“Saya baru pegang mesin plasma seperti ini, kalau yang lain mah sudah biasa. Tapi alhamdulillah, karena ada dasar elektrikal dan maintenance, jadi bisa mengikuti,” ujar lelaki berusia 18 tahun itu.
Sebelum teknologi ini hadir melalui kolaborasi Unisba dengan pemerintah daerah dan dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), ritme kerja di TPS terasa jauh lebih padat. Sampah diangkut truk hampir setiap hari, tanpa jeda. Kini, situasinya mulai berubah.
“Dulu penarikan sampah bisa setiap hari. Sekarang cukup empat hari saja, Rabu, Jumat, Minggu sudah tidak ada pengambilan,” kata Arya.
Perubahan itu bukan sekadar angka. Volume sampah yang harus dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA) perlahan berkurang. Sampah yang telah dipilah dan diolah melalui reaktor plasma dingin tak lagi menumpuk. Ia berubah menjadi abu, bahkan bisa diolah menjadi liquid smoke yang bermanfaat sebagai sterilisasi, penghilang bau, hingga pupuk.
Namun, di balik inovasi itu, pekerjaan tetap bukan tanpa tantangan. Arya harus berhadapan langsung dengan suhu tinggi dari mesin. “Tantangan terbesar ya panasnya. Kadang bisa nyebrot ke tubuh, jadi harus ekstra hati-hati,” ujarnya.
Meski begitu, ia tetap melihat harapan besar dari teknologi ini, terutama untuk kota yang sedang menghadapi persoalan sampah. “Harapannya ke depan bisa lebih maksimal, mungkin sampahnya dikeringkan atau dicacah dulu, jadi pembakarannya lebih efisien,” pungkasnya.
Di sisi lain TPS, Dede R. Zuhaeri menjalankan peran yang tak kalah penting: memilah sampah sebelum masuk ke proses pembakaran. Sudah belasan tahun ia bergelut dengan sampah, tapi kehadiran reaktor plasma dingin membawa dinamika baru dalam kesehariannya.
“Saya mulai di sini akhir Desember, tugasnya memilah sampah siap bakar. Tapi kendalanya masih banyak, terutama sampah organik yang belum dipisah dari rumah,” katanya.
Bagi Dede, perubahan paling terasa bukan hanya pada volume sampah, tetapi juga pada ritme kerja. Jika dulu truk harus beroperasi setiap hari, kini ada waktu jeda yang memberi ruang bernapas. “Sekarang jadi ada waktu libur untuk sopir juga. Sampah dibakar setiap hari, jadi tidak terlalu numpuk,” ujarnya.
Namun, persoalan klasik masih membayangi. Kebiasaan masyarakat yang belum sepenuhnya memilah sampah dari rumah. Sampah basah yang tercampur membuat proses pembakaran lebih sulit dan memengaruhi suhu mesin.
“Kalau sampah basah masuk, suhu langsung drop. Jadi lama kebakarnya,” jelasnya.
Di balik itu semua, Dede tetap melihat sisi positif dari perubahan yang terjadi. Ia merasa pekerjaannya kini lebih teratur dan disiplin. “Alhamdulillah sekarang jadi lebih disiplin. Jam kerja jelas, jadi tidak sembarangan orang datang ke TPS,” katanya.
Meski begitu, ia juga menyuarakan harapan terkait keselamatan kerja. “Saya ingin ada dukungan penuh, terutama soal keselamatan. Walaupun tidak ada asap, abu tetap terhisap, kadang jadi sesak,” ungkapnya dengan jujur.
Di TPS Berbudaya Arcamanik, teknologi dan kerja manusia berjalan berdampingan. Ada mesin canggih yang mampu membakar sampah tanpa asap, tapi tetap ada tangan-tangan yang memilah, mengangkut, dan memastikan semuanya berjalan.
Bagi Arya dan Dede, perubahan ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal kebiasaan. Keduanya sepakat, keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada kesadaran masyarakat.
“Petugas di sini sudah keliling, sudah berusaha. Tapi kalau dari rumah sampahnya masih campur, jadi lebih berat. Harapannya masyarakat bisa mulai pilah dari rumah,” kata Arya.
Senada dengan itu, Dede menutup dengan harapan sederhana namun penting: “Mulai dari diri sendiri saja. Kalau sampah sudah dipilah dari rumah, semuanya jadi lebih mudah dikelola.”
Di tengah panas reaktor plasma dingin, ada semangat yang terus menyala. Perubahan besar bisa dimulai dari hal kecil, bahkan dari selembar plastik yang dipisahkan di rumah.
Ada pula rasa syukur yang tak terucap panjang. “Perasaan saya senang, dapat hampers, dapat rezeki. Alhamdulillah Unisba memberikan perhatian kepada pengelola TPS reaktor plasma dingin di sini,” tutup Arya.
Di balik inovasi dan kolaborasi besar, ada rasa kemanusiaan yang tetap dijaga. Sebab pada akhirnya, pengelolaan sampah bukan hanya tentang teknologi, tapi juga tentang menghargai orang-orang yang bekerja di dalamnya. [ ]
Dok foto: Humas Unisba












