Rektor Unisba Paparkan Best Practice “Sampah Tuntas” dalam Program GRADASI LLDIKTI IV

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG – Rektor Universitas Islam Bandung (Unisba), Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menjadi pemateri dalam Program GRADASI (Gotong Royong Akademisi Bersinergi dan Berinovasi) Episode 1 “Sampah Tuntas” yang diselenggarakan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Rabu (30/9/2026).

Kegiatan berlangsung di Aula LLDIKTI Wilayah IV, Jalan K.H.P. Hasan Mustopa No. 38, Bandung. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Harits menyampaikan materi Best Practice “Sampah Tuntas” dengan mengangkat pengalaman Unisba dalam mengembangkan program Zero Waste melalui sinergi perguruan tinggi, pemerintah, mahasiswa, dosen, dan masyarakat.

Prof. Harits menjelaskan, pengelolaan sampah di Unisba dikembangkan tidak hanya sebagai kegiatan lingkungan, tetapi juga diarahkan menjadi bagian dari pembelajaran yang berdampak. Salah satu bentuknya diwujudkan melalui Living Laboratory TPS Berbudaya di Arcamanik.

“Zero Waste Unisba memprioritaskan rekayasa sosial dan kemitraan institusional untuk ekonomi sirkular,” ujar Prof. Harits dalam pemaparannya.

Menurutnya, pendekatan tersebut memungkinkan kegiatan pengelolaan sampah menjadi ruang belajar bagi mahasiswa sekaligus bagian dari pengabdian kepada masyarakat. Melalui program PkM Berdampak Zero Waste, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman di lapangan, tetapi juga diarahkan untuk menerjemahkan hasil asesmen menjadi aksi bersama masyarakat.

“Mahasiswa berperan sebagai pelaksana lapangan yang membantu menerjemahkan hasil asesmen menjadi aksi bersama warga,” jelasnya.

Program tersebut diawali dengan need assessment dan baseline untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi persampahan di wilayah sasaran. Mahasiswa bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kemudian menjalankan berbagai tahapan, mulai dari survei rumah tangga, pemetaan hotspot sampah, audit sampah, forum warga, pendampingan pilot aksi hingga evaluasi.

Dalam pelaksanaannya, kualitas data menjadi salah satu perhatian penting. Prof. Harits menekankan bahwa data yang dikumpulkan mahasiswa harus memenuhi prinsip etis dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan di tingkat masyarakat.

“Data harus etis, bisa dipertanggungjawabkan, dan cukup rapi untuk dipakai mengambil keputusan di tingkat RW,” ungkapnya.

Hal lain yang menjadi bagian dari praktik Unisba adalah menghubungkan aktivitas Zero Waste dengan proses pembelajaran mahasiswa. Dalam materi yang disampaikan, aktivitas mahasiswa dikembangkan agar dapat memperoleh pengakuan akademik melalui konversi Satuan Kredit Semester (SKS) maupun pencantuman capaian pada Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI).

Konsep tersebut menggunakan Taksonomi Bloom sebagai dasar pengakuan aktivitas. Aktivitas pada ranah kognitif diarahkan untuk dikonversi menjadi mata kuliah, sedangkan aktivitas pada ranah afektif dan psikomotorik dicatat sebagai capaian sikap dan keterampilan dalam SKPI.

Pada program PkM Berdampak Zero Waste Unisba 2026, terdapat 40 aktivitas mahasiswa. Sebanyak 33 aktivitas berada pada ranah kognitif dan diarahkan ke empat kelompok mata kuliah, sementara tujuh aktivitas pada ranah afektif dan psikomotorik diarahkan untuk menjadi capaian pada SKPI.

Secara keseluruhan, rancangan tersebut memungkinkan aktivitas Zero Waste memiliki beban pembelajaran hingga 450 jam yang dikonversikan menjadi maksimal 10 SKS per mahasiswa. Pengakuan tersebut tetap mengikuti mekanisme akademik yang melibatkan dosen wali, dosen pengampu, dosen pembimbing, program studi, dan fakultas.

Prof. Harits menilai, integrasi antara kegiatan lapangan dan pembelajaran menjadi bagian penting agar program pengelolaan sampah tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. “Mahasiswa berperan sebagai pelaksana lapangan yang membantu menerjemahkan hasil asesmen menjadi aksi bersama warga,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, Prof. Harits juga menyampaikan lima kunci yang dapat direplikasi dalam pengembangan program serupa. Kelima hal tersebut meliputi satu pintu data, pembagian peran unit yang jelas, pembelajaran yang terdesain, konversi yang terkendali, serta sistem dan monitoring.

Pada aspek kelembagaan, setiap tahapan program memiliki penanggung jawab yang jelas, mulai dari Kemahasiswaan, LPPM, P2AP, PSITEK, hingga program studi. Sementara itu, RPS dan logbook disiapkan untuk memastikan kegiatan lapangan memiliki keterkaitan dengan capaian pembelajaran.

Pendekatan tersebut menunjukkan upaya Unisba dalam menempatkan isu lingkungan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan tinggi. Pengelolaan sampah tidak hanya diarahkan pada perubahan perilaku masyarakat, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran, pengabdian, pengembangan inovasi, dan penguatan kemitraan antara perguruan tinggi dengan masyarakat.

Melalui Program GRADASI Episode 1 “Sampah Tuntas”, praktik yang dikembangkan Unisba diharapkan dapat menjadi bagian dari pertukaran pengalaman antarperguruan tinggi dalam mengembangkan solusi pengelolaan sampah yang berbasis kolaborasi dan pembelajaran berdampak. [ ]

Dok foto: HUMAS