Seminar Impactful Professorship Dorong Dosen Unisba Hasilkan Riset Berdampak di Era AI

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Universitas Islam Bandung (Unisba) terus mendorong penguatan budaya riset yang tidak hanya berorientasi pada publikasi, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam Seminar Impactful Professorship bertema Sustainable Impactful Research in the AI Era yang digelar di Aula Utama Unisba, Rabu (23/9/2026).

Kegiatan dibuka oleh Rektor Unisba Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., serta dihadiri oleh para wakil rektor, Ketua dan anggota Dewan Guru Besar Unisba, serta para dekan di lingkungan Unisba.

Seminar menghadirkan Prof. Dr. Deshinta Arrova Dewi dari INTI International University, Malaysia, yang mengikuti kegiatan secara daring melalui Zoom Meeting, dan Dr. Yoga Agung Sembada dari Swinburne University, Australia, yang hadir secara langsung. Kegiatan dimoderatori Guru Besar Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unisba, Prof. Dr. Ike J. Triwardhani, S.Sos., M.Si.

Dalam sambutannya, Rektor Unisba mengatakan, keberadaan profesor dan Lektor Kepala memiliki peran penting dalam memperkuat kinerja dan rekognisi perguruan tinggi. Karena itu, karya ilmiah yang dihasilkan perlu terus diarahkan agar sesuai dengan kepakaran sekaligus memberikan dampak yang lebih luas.

“Yang paling utama adalah karya ilmiahnya. Karya ilmiahnya ini betul-betul harus relate dengan apa yang menjadi kekuatan Bapak Ibu sekalian,” ujar Rektor.

Menurutnya, Unisba memiliki potensi besar untuk memperkuat produktivitas riset. Saat ini terdapat 129 Lektor Kepala dan sekitar 28 profesor aktif. Potensi tersebut diharapkan dapat menjadi kekuatan untuk menghasilkan karya ilmiah berkualitas sekaligus meningkatkan rekognisi Unisba.

Rektor juga mengajak para profesor dan Lektor Kepala untuk tidak berhenti pada pencapaian jabatan akademik. Karya yang dihasilkan perlu menjadi bagian dari hilirisasi riset dan memberikan manfaat di tengah masyarakat.

“Wahai para Profesor dan associate professor, mari kita jadi pejuang untuk publikasi karya ilmiah yang tentunya bisa berdampak di era digital,” tuturnya.

Sementara itu, Prof. Dr. Deshinta Arrova Dewi membahas perubahan dunia riset di tengah perkembangan kecerdasan artifisial (AI). Menurutnya, saat ini persoalannya bukan lagi apakah akademisi akan menggunakan AI, tetapi bagaimana teknologi tersebut digunakan secara tepat dan etis.

AI, kata Prof. Deshinta, dapat membantu peneliti dalam berbagai tahapan riset, mulai dari mencari literatur, menemukan persoalan penelitian, hingga membantu proses penulisan. Namun, tanggung jawab terhadap validitas dan hasil penelitian tetap berada pada peneliti.

“AI changes the tool, but it does not remove scholarly responsibility,” jelasnya.

Ia juga melihat perkembangan AI membuka banyak peluang penelitian baru. Salah satunya dalam bidang komunikasi yang kini semakin dipengaruhi algoritma dan personalisasi. Hal tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai topik riset, seperti kepercayaan audiens, kredibilitas informasi, misinformation, hingga komunikasi lintas negara.

Prof. Deshinta memperkenalkan kerangka IMPACT sebagai salah satu pendekatan dalam membangun riset yang berkelanjutan, yaitu Identify human problem, Measure audience impact, Preserve human judgment, Apply ethical AI, Collaborate across discipline and country, dan Translate research into society.

Menurutnya, keberhasilan sebuah riset tidak hanya dilihat dari jumlah publikasi, sitasi, maupun H-index. Peneliti juga perlu melihat perubahan yang dihasilkan dari penelitian tersebut.

“Impactful itu bukan tentang publication saja, sitasi, conference, atau H-index, tapi kita juga memikirkan apakah misinformasinya berkurang, policy-nya improve atau tidak, apakah keadaan menjadi lebih baik,” ujarnya.

Pandangan mengenai kolaborasi riset internasional juga disampaikan Dr. Yoga Agung Sembada. Peneliti dari Swinburne University, Australia, tersebut membagikan pengalamannya mengenai perbedaan ekosistem dan sistem insentif akademik antara Indonesia dan Australia.

Menurutnya, perbedaan tersebut terkadang menjadi tantangan dalam membangun kolaborasi. Namun, dengan memahami kebutuhan dan sistem masing-masing, perbedaan tersebut justru dapat menjadi ruang untuk menemukan titik temu.

“Kalau kita paham bahwa permainan dan aturan mainnya beda, kita bisa mencari titik temu. Yaitu bagaimana memadukan kebutuhan akan impact, quality, dan kolaborasi yang saling menguntungkan,” jelasnya.

Selain seminar, kegiatan juga diisi dengan penguatan Dewan Guru Besar Unisba melalui pembentukan kelompok kepakaran. Ketua Dewan Guru Besar Unisba, Prof. Dr. Hj. Atie Rachmiatie, M.Si., menjelaskan bahwa kelompok ini dibentuk untuk memperkuat peran guru besar dalam pengembangan akademik dan riset di Unisba.

Ada empat kelompok kepakaran yang direncanakan, yaitu Dirasah Islamiyah, Sosio-Humaniora, Sains dan Teknik, serta Kesehatan dan Lingkungan.

Kelompok kepakaran ini akan menjadi wadah untuk memperkuat kerja sama dalam riset dan menjalankan berbagai program Dewan Guru Besar. Program tersebut antara lain memberikan pertimbangan akademik, menyusun naskah akademik, merumuskan standar etika, melakukan audit akademik, mengevaluasi kinerja guru besar, serta meningkatkan mutu pendidikan doktoral dan riset.

Melalui Seminar Impactful Professorship dan pembentukan kelompok kepakaran, Unisba terus membangun lingkungan akademik yang mendorong dosen menghasilkan riset yang berkualitas, berkelanjutan, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Prof. Atie menegaskan, peran guru besar tidak berhenti pada pencapaian jabatan, tetapi juga membimbing dan mengembangkan generasi akademisi berikutnya. “Kalau sudah jadi guru besar tugasnya apa? Ya itu, mengguru-besarkan junior-juniornya,” ujarnya. [ ]

Dok foto: Unisba