Aceh BMH

Tembus Lumpur Pascabanjir, Zakat dan Infak Umat Hangatkan Warga Aceh Tamiang

BERITAUNGGULAN.COM, ACEH TAMIANG — Lumpur tebal masih menyelimuti Dusun Ingin Jaya, Kecamatan Tamiang Hulu, Kabupaten Aceh Tamiang. Jalan desa yang sempit berubah menjadi lintasan licin dan lengket, sisa terjangan banjir bandang yang melanda kawasan tersebut beberapa pekan lalu. Kampung kecil di pedalaman Aceh itu bahkan sempat terisolasi lebih dari sepekan, nyaris tanpa akses bantuan.

Di tengah keterbatasan dan medan yang berat, kepedulian umat terus mengalir. Relawan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menembus lumpur dan sisa genangan air demi menunaikan amanah zakat, infak, dan sedekah dari para donatur, berupa santapan hangat bagi warga terdampak banjir.

Langkah relawan harus ekstra hati-hati. Setiap meter perjalanan dipenuhi risiko tergelincir. Jika hujan kembali turun, akses yang baru saja terbuka dapat tertutup total. Meski demikian, semangat kemanusiaan menjadi energi utama yang menguatkan langkah mereka.

Perjuangan Menembus Isolasi

Dusun Ingin Jaya tercatat sebagai salah satu wilayah yang paling lama terisolasi pascabanjir. Selama akses tertutup, bantuan nyaris tidak dapat masuk. Warga hanya mengandalkan sisa persediaan makanan yang kian menipis dari hari ke hari.

“Begitu jalur darat mulai bisa dilewati, meski masih berlumpur, kami langsung bergerak,” ujar Hengky, relawan BMH di lapangan, Jumat (19/12).

Ia mengungkapkan, perjalanan menuju lokasi penuh tantangan. Kendaraan harus berjalan perlahan, sementara relawan bersiap turun kapan saja untuk mendorong atau memandu agar tidak terjebak di kubangan lumpur.

“Risikonya besar. Tapi amanah donatur jauh lebih besar. Kami tidak ingin warga di sini terlalu lama menahan lapar,” katanya.

Senyum yang Kembali Mekar

Melalui program Stasiun Pelayanan Penyintas Bencana (SPPB), BMH mendistribusikan 300 porsi makan siang kepada warga Dusun Ingin Jaya. Menu sederhana namun bergizi itu menjadi wujud nyata kepedulian para muzaki yang menyalurkan zakat dan infaknya melalui BMH.

Pak Fadli, salah seorang warga setempat, mengenang masa-masa sulit pascabanjir. Pada hari-hari awal bencana, warga terpaksa berjalan kaki hingga 10 kilometer untuk mencari bantuan atau sekadar mendapatkan bahan makanan.

“Banjir datang cepat. Jalan putus. Mau ke mana-mana susah. Banyak yang bertahan dengan apa adanya,” tuturnya.

Saat makanan dibagikan, suasana dusun perlahan berubah. Wajah-wajah lelah mulai menampakkan senyum. Antusiasme warga terlihat jelas, terutama dari para ibu dan anak-anak.

Ibu Fatma, salah satu penerima manfaat, tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Hampir tiga pekan keluarganya jarang menikmati lauk bergizi seperti ikan atau ayam.

“Makanannya hangat dan enak. Alhamdulillah. Terima kasih relawan BMH yang sudah mau bersusah payah datang ke sini,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Zakat Umat Menjadi Kekuatan Harapan

Dusun Ingin Jaya menjadi titik ke-8 penyaluran bantuan SPPB BMH di Kabupaten Aceh Tamiang. Di tengah lumpur dan keterisolasian, sepiring nasi hangat menjelma simbol kuatnya solidaritas dan kepedulian umat.

Kehadiran relawan dan bantuan makanan tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menguatkan mental warga yang sempat merasa terpinggirkan di tengah bencana.

Perjalanan kemanusiaan ini kembali menegaskan bahwa zakat, infak, dan sedekah kaum Muslimin mampu menembus batas geografis dan kondisi ekstrem. Dari tangan para donatur, kebaikan itu sampai ke pelosok bencana, menghadirkan harapan dan senyum bagi mereka yang nyaris terlupa./Herim