BERITAUNGGULAN.COM, DEPOK – Dalam perjalanan hidup, tidak mungkin semua orang akan menyukai kita. Ada yang awalnya menyukai kemudian berbalik arah, atau sebaliknya, yang dulu tidak suka kini menjadi sahabat dekat. Itulah dinamika kehidupan. Bahkan sosok besar seperti Cristiano Ronaldo pun pernah tidak disukai oleh Andrea Pirlo. Artinya, ketidaksukaan adalah hal wajar yang bisa dialami siapa saja.
Sebagian orang mungkin bertanya, “Bagaimana kalau ada yang tidak suka dengan saya?” Jawabannya sederhana: santai saja. Suka atau tidak suka itu persoalan perasaan—dan perasaan manusia bisa berubah. Nabi Muhammad SAW pun pernah dibenci oleh kaum kafir Quraisy, namun beliau tidak menghentikan dakwahnya. Justru kebencian itu menjadi motivasi untuk semakin teguh dan konsisten dalam berdakwah.
Seiring waktu, banyak di antara mereka yang semula membenci Nabi SAW kemudian berbalik arah menjadi pengikut setia, bahkan membelanya dengan sepenuh hati.
Fokus pada Hal yang Penting
Pelajaran dari kisah itu jelas: kita harus tetap fokus. Fokus pada hal-hal yang penting untuk kita lakukan. Jika ada yang tidak menyukai kita, biarkan saja. Waktu akan berjalan, dan sering kali kebencian itu memudar dengan sendirinya.
Tetaplah tenang, jangan terpancing emosi, dan selalu jaga sikap elegan serta profesional. Dalam dunia kerja misalnya, kita bisa menjaga jarak seperlunya tanpa harus bermusuhan. Hindari interaksi yang tidak perlu, namun tetap tunjukkan sikap positif dan menghormati.
Bagaimana bila orang tersebut terus menyebar hal negatif tentang kita? Abaikan. Jangan beri ruang dalam pikiranmu. Fokuslah kembali pada hal-hal yang membuatmu tumbuh dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Lupakan dan Maafkan
Hidup memang tidak lepas dari orang yang tidak menyukai kita. Bahkan Nabi Yusuf AS pun mengalaminya. Saudara-saudaranya pernah berbuat zalim karena iri dan benci. Namun ketika takdir membalikkan keadaan, Nabi Yusuf menjadi bendahara Mesir dan justru memaafkan mereka dengan tulus.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Yusuf ayat 92:
“Dia (Yusuf) berkata: ‘Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.’”
Sikap itu menjadi teladan nyata. Lupakan masa lalu, maafkan kesalahan orang lain, dan jadikan semua pengalaman itu sebagai pengingat untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah.
Karena pada hakikatnya, Allah menciptakan kita hanya untuk satu tujuan—beribadah kepada-Nya. Dan salah satu bentuk ibadah terbaik adalah menjaga hati agar tetap bersih dari dendam dan kebencian.
Oleh: Mas Imam Nawawi












