71 Apoteker Unisba Resmi Diambil Sumpah, Siap Mengabdi dengan Ilmu dan Amanah

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Sebanyak 71 lulusan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker Fakultas Farmasi dan Sains (FFDS) Universitas Islam Bandung (Unisba) resmi mengucapkan sumpah profesi sebagai apoteker. Prosesi Pengambilan Sumpah Apoteker Gelombang ke-10 tersebut dilaksanakan di Ballroom Hotel Grandia, Jalan Cihampelas No. 80–82, Kota Bandung, pada Sabtu (3/10/2026).

 

Pengambilan sumpah menjadi awal bagi para lulusan untuk menjalankan tanggung jawab profesional sebagai apoteker dan memberikan pelayanan kefarmasian kepada masyarakat. Dekan FFDS Unisba, Dr. Apt. Suwendar, M.Si., mengatakan, setelah mengucapkan sumpah, para lulusan berhak memperoleh sertifikat kompetensi dan sertifikat profesi yang menjadi salah satu syarat mendapatkan Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA).

 

“Yang diambil sumpah sebanyak 71 orang. Setelah disumpah ini, mereka berhak mendapatkan sertifikat kompetensi dan sertifikat profesi sebagai persyaratan untuk mendapatkan surat tanda registrasi apoteker yang mereka perlukan untuk menjalankan tugas keprofesiannya di masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, prosesi tersebut bukan sekadar tahapan administratif, tetapi memiliki makna penting dan sakral karena menjadi pengikat moral bagi para apoteker dalam menjalankan profesinya.

 

Dalam menjalankan profesi di tengah perkembangan teknologi, FFDS Unisba juga mempersiapkan mahasiswa agar mampu beradaptasi dengan perkembangan kecerdasan artifisial (AI). Dr. Apt. Suwendar mengatakan, mahasiswa diberikan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan AI, dengan tetap memperhatikan kebijakan akademik dan kemampuan dalam menyeleksi informasi.

 

“Kami tidak mengharamkan AI. Kami persilakan menggunakan AI selama masih dalam koridor kebijakan akademik. Yang penting mereka bisa menyeleksi informasi yang didapat dari AI,” katanya.

 

Ia menegaskan, perkembangan teknologi tidak serta-merta menghilangkan peran apoteker. Justru, kemampuan profesional untuk menilai dan memastikan kebenaran informasi menjadi semakin penting karena AI dapat menyajikan data yang belum tentu seluruhnya benar.

 

“Kamipun sebagai apoteker yang wajib atau punya kemampuan untuk melakukan seleksi, mana informasi yang benar, mana informasi yang tidak benar. Dengan demikian, kemampuan seorang apoteker dalam memberikan informasi yang benar itu masih dibutuhkan,” jelasnya.

 

Selain perkembangan teknologi, aspek kehalalan obat menjadi salah satu tantangan yang terus menjadi perhatian FFDS Unisba. Dr. Apt. Suwendar menjelaskan, masih terdapat bahan-bahan tertentu yang digunakan dalam produk farmasi yang perlu dikaji dari perspektif kehalalan, termasuk bahan hewani pada kapsul, etanol, serta bahan yang digunakan dalam pembuatan vaksin.

 

Dalam menghadapi persoalan tersebut, FFDS Unisba membekali calon apoteker dengan pemahaman keislaman agar mampu mempertimbangkan aspek kehalalan sekaligus kebutuhan pasien.

 

Penguatan kompetensi tersebut sejalan dengan pesan Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., kepada para apoteker muda agar tidak berhenti belajar dan mampu mengintegrasikan ilmu kefarmasian dengan nilai-nilai Islam.

 

Rektor  menyampaikan bahwa lulusan Unisba tidak hanya dituntut memiliki knowledge dan skill, tetapi juga attitude. Menurutnya, kompetensi akademik perlu berjalan bersama adab, integritas, dan amanah dalam menjalankan profesi. “Dahulukan adab daripada ilmu,” pesannya.

 

Ia juga mengingatkan para apoteker muda untuk menjadikan sumpah profesi sebagai amanah yang diwujudkan dalam praktik. Ketika menerima resep, misalnya, seorang apoteker perlu memastikan aspek keamanan, kebermanfaatan, serta kehalalan obat bagi pasien.

 

“Ketika dokter memberikan sebuah resep, maka resep itu dibaca oleh kalian. Maka kehalalan obat itu, kebermanfaatan obat itu, dan upaya untuk menyembuhkan bagi pasiennya apakah sudah terpenuhi semuanya? Maka masuklah di dalamnya adalah fikih Islam,” tuturnya.

 

Rektor juga mendorong para lulusan untuk terus berkembang sebagai mujahid yang memperjuangkan ilmu dan profesi, mujtahid yang mampu berpikir dan mengambil keputusan secara tepat, serta menjadi mujaddid/inovator dalam menjawab berbagai tantangan kefarmasian di era digital dan globalisasi.

 

Sementara itu, Ketua Badan Pengurus Yayasan Unisba, Prof. Dr. K.H. Miftah Faridl, mengingatkan para apoteker muda bahwa tantangan setelah menyelesaikan pendidikan justru akan semakin beragam. Karena itu, ilmu yang diperoleh selama berada di Unisba perlu diwujudkan dalam sikap dan pengabdian yang nyata.

 

Menurutnya, salah satu bekal penting dalam menghadapi tantangan kehidupan adalah rasa syukur. Syukur tidak cukup hanya diwujudkan melalui ucapan, tetapi juga dengan memanfaatkan ilmu dan nikmat yang diberikan Allah untuk memberikan manfaat.

 

“Wujud syukur dalam agama kita bukan hanya mengucapkan Alhamdulillah, tetapi memanfaatkan segala ilmu yang didapat dan nikmat yang didapat untuk ditunjukkan kepada Allah,” tutur Prof. Miftah.

 

Ia juga berpesan agar para lulusan membangun ketangguhan spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan profesi. Mengutip nilai-nilai dalam Surah Al-Mu’minun ayat 1–9, Prof. Miftah menekankan pentingnya iman, meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat, menjaga kekhusyukan dalam beribadah, menunaikan amanah, serta membangun kejujuran dalam kehidupan.

 

“Kejujuran menjadi bagian dari akhlak kita. Hidup jujur harus menjadi bagian sikap hidup keseharian,” pesannya.

Menurutnya, kejujuran menjadi nilai penting bagi seorang tenaga kesehatan karena keputusan dan tindakan yang dilakukan dapat berdampak langsung terhadap kehidupan orang lain. Karena itu, lulusan Unisba diharapkan tetap memegang nilai-nilai keislaman ketika menjalankan profesinya di tengah masyarakat.

 

Prof. Miftah juga mengingatkan bahwa tantangan tidak dapat dihindari. Namun, dengan bekal ilmu, spiritualitas, dan keteguhan dalam memegang amanah, para lulusan diharapkan mampu menghadapi berbagai persoalan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

 

“Selamat berjuang. Anda tetap warga Unisba, walaupun sudah lulus dari Unisba. Mudah-mudahan Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberkahi kita,” ungkapnya.

 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, dr. Raden Vini Adiani Dewi, M.MRS., mengatakan, pengambilan sumpah menjadi gerbang awal bagi para lulusan untuk memasuki dunia pengabdian yang sesungguhnya. Setelah melalui pendidikan profesi dan uji kompetensi, para lulusan dinyatakan sebagai tenaga kefarmasian yang kompeten.

 

Ia mengingatkan bahwa praktik kefarmasian akan mempertemukan para apoteker dengan berbagai kompleksitas pelayanan kesehatan, termasuk keterbatasan fasilitas dan tantangan distribusi tenaga kefarmasian. Kondisi tersebut akan menguji integritas dan profesionalisme para apoteker dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

 

Ia juga menyampaikan pentingnya pembelajaran sepanjang hayat. Sejalan dengan perkembangan teknologi digital dan kompleksitas tantangan kesehatan, para apoteker perlu terus memperbarui kompetensinya serta memenuhi 100 Satuan Kredit Profesi (SKP) dalam lima tahun sebagai bagian dari pengembangan profesional berkelanjutan.

 

“Pembelajaran sepanjang hayat bukan lagi pilihan, tetapi merupakan sebuah keharusan,” ujarnya.

Pesan serupa disampaikan Kolegium Farmasi yang diwakili Prof. Dr. Apt. Ida Masfiroh, M.Si. Ia menyampaikan bahwa Kolegium Farmasi pada 2026 telah menerbitkan Standar Kompetensi Tenaga Kefarmasian melalui Surat Keputusan Konsil Kesehatan Indonesia. Standar tersebut diharapkan menjadi pijakan bagi institusi pendidikan untuk terus meninjau dan mengembangkan kurikulum sesuai perkembangan kompetensi kefarmasian.

 

Di tengah perkembangan tersebut, para apoteker baru juga diharapkan mampu mengambil peran dalam berbagai persoalan kesehatan masyarakat, termasuk penanggulangan tuberkulosis, penurunan stunting, serta penguatan layanan promotif dan preventif.

 

Perwakilan apoteker baru, Qpt. Rahma Azizah, S.Farm., menyampaikan bahwa sumpah yang diucapkan menjadi komitmen untuk menjalankan profesi berdasarkan ilmu dan etika. Menurutnya, perjalanan pendidikan profesi yang telah dilalui menjadi bekal untuk menjalankan amanah di berbagai bidang kefarmasian.

 

“Mulai hari ini kita tidak hanya menyandang gelar apoteker, tetapi juga menerima amanah dan tanggung jawab,” ujarnya.

Rahma berharap para apoteker baru dapat menjaga nilai-nilai yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Unisba, baik ketika bekerja di rumah sakit, industri, pemerintahan, pendidikan, maupun bidang pelayanan kefarmasian lainnya. [ ]

Dok foto: Unisba