BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Tim dosen dan mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah Bandung melaksanakan pelatihan berbasis kompetensi untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader ‘Aisyiyah dalam melakukan skrining risiko kesehatan ibu. Kegiatan yang diselenggarakan bersama Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Sucinaraja, Kabupaten Garut, ini diikuti oleh 19 kader.
Program tersebut dilatarbelakangi oleh pentingnya pemantauan kesehatan ibu, terutama pada masa setelah melahirkan. Pada periode ini, ibu mengalami berbagai perubahan fisik, psikologis, dan sosial. Kelelahan, gangguan tidur, kecemasan, keterbatasan dukungan keluarga, serta kesulitan merawat diri dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan yang tidak selalu dikenali sejak awal.
Kader kesehatan memiliki posisi penting karena berada dekat dengan ibu dan keluarga. Mereka dapat membantu memberikan edukasi, melakukan skrining awal, mencatat hasil pemantauan, dan menghubungkan ibu dengan tenaga kesehatan apabila ditemukan risiko. Namun, kader tidak berperan menetapkan diagnosis. Hasil skrining digunakan sebagai dasar untuk menentukan apakah seorang ibu membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut atau rujukan ke fasilitas kesehatan.
Pelatihan dilaksanakan melalui penyampaian materi, diskusi interaktif, demonstrasi penggunaan instrumen, workshop praktik, simulasi kasus, dan latihan komunikasi suportif. Peserta juga berlatih menjelaskan tujuan skrining, meminta persetujuan ibu, menghitung skor, menafsirkan tingkat risiko, mengenali kebutuhan rujukan, menjaga kerahasiaan, serta mendokumentasikan hasil pemeriksaan.
Ketua tim pengabdian, Ariani Fatmawati, menjelaskan bahwa skrining di tingkat masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan.
“Kader perlu mampu menggunakan instrumen dengan benar, berkomunikasi secara empatik, mengenali hasil yang membutuhkan perhatian, dan memahami kapan ibu harus dirujuk kepada tenaga kesehatan,” jelasnya.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan skor pengetahuan kader setelah mengikuti pelatihan. Rata-rata skor peserta meningkat dari 25,2 pada pre-test menjadi 36,4 pada post-test. Nilai terendah juga meningkat dari 11 menjadi 29, sedangkan nilai tertinggi meningkat dari 35 menjadi 40. Hasil tersebut secara deskriptif menunjukkan bahwa peserta memperoleh pemahaman yang lebih baik setelah mengikuti rangkaian kegiatan.
Selain pengetahuan, tim melakukan observasi terhadap delapan komponen keterampilan. Kemampuan menjaga privasi dan kerahasiaan ibu menjadi capaian tertinggi, yaitu 94,7 persen. Sebanyak 78,9 persen kader dinilai kompeten dalam menjelaskan cara mengisi instrumen serta melakukan dokumentasi dan pelaporan. Kemampuan menjelaskan tujuan skrining dan meminta persetujuan dicapai oleh 73,7 persen peserta, sedangkan 63,2 persen telah mampu melakukan komunikasi suportif.
Meskipun demikian, beberapa keterampilan masih perlu diperkuat. Sebanyak 52,6 persen kader dinilai mampu menghitung skor dengan benar. Sementara itu, kemampuan menginterpretasikan tingkat risiko dan mengenali kondisi yang memerlukan rujukan segera masing-masing baru dicapai oleh 47,4 persen peserta.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan perlu dilanjutkan dengan latihan praktis secara berkala. Keterampilan menghitung skor, menafsirkan hasil skrining, dan mengambil keputusan rujukan membutuhkan pengulangan melalui simulasi kasus, pendampingan, dan supervisi tenaga kesehatan.
Ariani menegaskan bahwa kemampuan kader mengenali batas kewenangannya juga menjadi bagian penting dalam pelatihan. Kader bertugas melakukan deteksi awal dan mengarahkan ibu untuk memperoleh pertolongan yang tepat, bukan menggantikan peran bidan, perawat, dokter, atau tenaga kesehatan lainnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Universitas ‘Aisyiyah Bandung dalam memperkuat pelayanan kesehatan ibu berbasis masyarakat. Program tersebut juga mendukung peran ‘Aisyiyah dalam pendampingan perempuan dan keluarga, khususnya melalui kegiatan edukasi kesehatan, Balai Sakinah ‘Aisyiyah, dan pelayanan pada periode 1.000 hari pertama kehidupan.
Ke depan, tim merekomendasikan pelatihan lanjutan yang lebih banyak menggunakan simulasi kasus, latihan penghitungan skor, pengenalan tanda bahaya, dan praktik penentuan rujukan. Koordinasi antara kader dan fasilitas pelayanan kesehatan juga perlu diperkuat agar ibu yang teridentifikasi berisiko dapat memperoleh pemeriksaan dan tindak lanjut secara cepat.
Melalui peningkatan kapasitas yang berkelanjutan, kader diharapkan semakin siap menjadi penghubung antara ibu, keluarga, dan tenaga kesehatan. Kehadiran kader yang terlatih dapat membantu memperluas jangkauan edukasi dan deteksi dini risiko kesehatan ibu di lingkungan masyarakat.
Tim pelaksana kegiatan terdiri atas Ariani Fatmawati, Bhekti Imansari, Najma Sakhiyya Alia Arsy, dan Ristina Putri Rahmayanti. Kegiatan ini didukung oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas ‘Aisyiyah Bandung serta PCM dan PCA Sucinaraja. [ ]
Dok foto: UNISA Bandung












