FEB Unisba Dorong Penguatan Green Finance untuk Mendukung Ekonomi Daerah Rendah Karbon di Indonesia

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Bandung (FEB Unisba) turut mendorong penguatan kebijakan green finance sebagai instrumen penting dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan transformasi menuju ekonomi daerah rendah karbon di Indonesia.

 

Hal tersebut menjadi salah satu isu utama dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) “Efektivitas Kebijakan Green Finance dalam Mendorong Pembangunan Berkelanjutan dan Kinerja LULUCF: Peran Inovasi Teknologi dalam Mendukung Ekonomi Daerah Rendah Karbon di Indonesia” yang diselenggarakan di Student Center Universitas Islam Bandung, Kamis (1/10/2026).

 

FGD merupakan bagian dari penelitian kolaborasi antar Perguruan tinggi unisba dengan universitas bengkulu, adapun tim penelitinya Dr. Handri, Dr. Hutapia, Nadia meirani SE., MSM, Chindy Octavia Kenang, Astrid Ananta Arofaturrahman.

 

Kegiatan tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, regulator, lembaga keuangan, pelaku lingkungan hidup, hingga mahasiswa untuk membahas efektivitas kebijakan pembiayaan hijau serta tantangan dan peluang implementasinya di tingkat daerah.

Kegiatan dibuka oleh Dr. Rabiatul Adwiyah, S.E., M.Si., selaku Wakil Dekan Bidang Alumni, Kerja Sama, dan Kemahasiswaan FEB Unisba.

 

Dalam sambutannya, Dr. Rabiatul Adwiyah menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendorong agenda pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, transisi menuju ekonomi rendah karbon tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan pemerintah, tetapi membutuhkan sinergi antara perguruan tinggi, sektor keuangan, dunia usaha, masyarakat, serta berbagai lembaga terkait.

 

“Green finance bukan hanya berbicara mengenai pembiayaan yang ramah lingkungan, tetapi juga bagaimana pembiayaan tersebut mampu menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang berkelanjutan. Karena itu, diperlukan kolaborasi dan inovasi agar kebijakan yang dirancang dapat benar-benar memberikan manfaat bagi daerah dan masyarakat,” ujar Dr. Rabiatul Adwiyah.

 

Ia juga menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menghasilkan kajian berbasis data dan memberikan rekomendasi kebijakan yang relevan terhadap kebutuhan pembangunan.

 

“FEB Unisba berkomitmen untuk terus memperkuat peran akademik melalui riset, diskusi ilmiah, dan kolaborasi dengan para pemangku kepentingan. Isu green finance dan ekonomi rendah karbon merupakan isu strategis yang membutuhkan pendekatan multidisiplin serta keterlibatan generasi muda,” tambahnya.

 

FGD menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, antara lain Fauqi Muhtaromun Nazwan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Arieck Priyatna sebagai perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat, Siti Muarofah dari Bank Indonesia, Dr. Achmad Kemal Hidayat, S.E., M.Sc. selaku ahli keuangan/akademisi ekonomi, serta Prof. Dr. Renea Shinta Aminda, S.E., M.M. selaku ahli ekonomi/akademisi ekonomi.

 

Diskusi membahas berbagai perspektif mengenai kebijakan green finance, termasuk peran sektor keuangan dalam mendukung proyek dan aktivitas ekonomi yang berwawasan lingkungan, penguatan kinerja LULUCF (Land Use, Land-Use Change and Forestry), serta pentingnya inovasi teknologi dalam mempercepat transformasi ekonomi rendah karbon.

 

LULUCF menjadi salah satu aspek penting dalam agenda pengurangan emisi karena berkaitan erat dengan pengelolaan lahan, perubahan penggunaan lahan, kehutanan, dan kemampuan ekosistem dalam menyerap karbon.

 

Dalam konteks tersebut, inovasi teknologi dinilai memiliki peran strategis, baik dalam pemantauan lingkungan, pengelolaan sumber daya, pengukuran emisi, maupun penyediaan data yang dapat mendukung pengambilan keputusan dan penyaluran pembiayaan hijau secara lebih tepat sasaran.

 

Kegiatan FGD juga menjadi ruang dialog antara akademisi dan praktisi untuk mengidentifikasi berbagai tantangan implementasi green finance, termasuk kebutuhan akan tata kelola, transparansi, kualitas data, literasi keuangan hijau, serta kesiapan daerah dalam mengembangkan aktivitas ekonomi yang lebih berkelanjutan.

 

Melalui kegiatan ini, FEB Unisba berharap dapat memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam membangun ekosistem kolaboratif yang mendukung kebijakan pembangunan berkelanjutan.

 

“Harapannya, diskusi hari ini tidak berhenti sebagai forum akademik, tetapi dapat menghasilkan gagasan dan rekomendasi yang dapat dikembangkan lebih lanjut melalui riset, kolaborasi, maupun kebijakan yang memberikan dampak nyata bagi pembangunan daerah,” pungkas Dr. Rabiatul Adwiyah.

 

FGD tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kesadaran akademisi dan mahasiswa mengenai pentingnya pembiayaan berkelanjutan serta peran generasi muda dalam mendukung transformasi menuju ekonomi rendah karbon di Indonesia. [ ]

Dok foto: Unisba