BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Kesempatan untuk belajar teknologi sekaligus berbagi dengan mahasiswa lain membawa tiga mahasiswa Universitas Islam Bandung (Unisba) terpilih sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2026 Batch 2. Mereka adalah Laelani Kurnia dari Program Studi Ahwal Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syari’ah Angkatan 2024, serta Nafisa Firyal Salma dan Safarnaddin dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Unisba angkatan 2024.
Ketiganya terpilih melalui program yang diinisiasi Google untuk membentuk mahasiswa sebagai penggerak pemanfaatan teknologi dan Artificial Intelligence (AI) di lingkungan kampus. Program ini tidak hanya memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal teknologi lebih jauh, tetapi juga mengembangkan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan membangun jejaring dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Bagi Laelani, terpilih menjadi GSA merupakan kebanggaan tersendiri. Terlebih, ia berhasil masuk dalam sekitar 2.000 peserta terpilih dari kurang lebih 300.000 pendaftar dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. “Jujur saya senang dan bangga bisa mewakili Unisba. Ini juga menjadi kesempatan untuk belajar dan mengembangkan skill tentang teknologi dan AI, memperluas relasi dengan mahasiswa di seluruh Indonesia, serta berkontribusi di lingkungan kampus,” ujar Laelani.
Sebagai GSA, Laelani ingin menjadi penghubung antara Google dan mahasiswa Unisba. Ia berencana mengadakan sharing session maupun workshop sederhana mengenai AI dan teknologi Google. Menurutnya, mahasiswa perlu dikenalkan dengan teknologi bukan hanya sebagai pengguna, tetapi juga agar mampu memanfaatkannya secara bijak, kreatif, dan produktif untuk menunjang kegiatan akademik maupun pengembangan diri.
Sementara itu, Nafisa melihat program GSA sebagai kesempatan untuk berkembang sekaligus berbagi. Ia mengaku tertarik mengikuti program tersebut karena teknologi dan AI saat ini semakin dekat dengan kehidupan mahasiswa. “Saya ingin belajar lebih jauh mengenai teknologi sekaligus menjadi bagian dari lingkungan yang mendorong mahasiswa menggunakan teknologi secara lebih kreatif, produktif, dan bertanggung jawab,” kata Nafisa.
Nafisa juga melihat GSA sebagai ruang untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan networking. Ia ingin menghadirkan kegiatan yang membuat mahasiswa merasa bahwa AI bukan sesuatu yang sulit atau jauh dari kehidupan sehari-hari.
Salah satu gagasan yang ingin dibawanya adalah sharing session mengenai pemanfaatan AI untuk membantu mahasiswa belajar, mencari ide, mengembangkan kreativitas, dan meningkatkan produktivitas. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tetap harus diiringi kemampuan berpikir kritis dan sikap bertanggung jawab. “Jadi, mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memahami bagaimana menggunakannya secara bertanggung jawab,” tuturnya.
Cerita berbeda datang dari Safarnaddin. Menjadi GSA bukanlah pengalaman pertamanya mencoba program tersebut. Ia sebelumnya pernah mendaftar, tetapi belum berhasil lolos. Pengalaman itu justru menjadi dorongan untuk kembali mencoba hingga akhirnya berhasil terpilih pada Batch 2.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Sebelumnya saya pernah mendaftar dan tidak lolos, sampai akhirnya di Batch 2 ini saya bisa lolos untuk mewakili Unisba,” ungkapnya. Safarnaddin tertarik mengikuti GSA karena sejak awal telah memantau program tersebut dan melihat banyak kesempatan yang bisa diperoleh. Selain mendapatkan pengalaman baru, ia berharap dapat bertemu dan membangun relasi dengan mahasiswa dari berbagai universitas.
Sebagai GSA, Safarnaddin akan berperan sebagai jembatan antara Google dan lingkungan kampus, terutama dalam memperkenalkan pemanfaatan AI seperti Google Gemini serta berbagai tools produktivitas Google. Di Unisba, ia ingin memberikan pengarahan mengenai penggunaan AI yang tepat sekaligus memperkenalkan berbagai tools yang dapat dimanfaatkan mahasiswa dalam aktivitas perkuliahan.
Keikutsertaan Laelani, Nafisa, dan Safarnaddin menjadi pengalaman baru sekaligus peluang untuk membawa pengetahuan teknologi lebih dekat kepada mahasiswa Unisba. Ketiganya berharap pengalaman selama mengikuti program dapat diteruskan melalui kegiatan berbagi dan edukasi di lingkungan kampus.
Bagi mereka, keberanian untuk mencoba menjadi bagian penting dari proses tersebut. “Jangan takut untuk mencoba. Jangan pantang menyerah dengan penolakan. Kita bisa menjadikan kegagalan dan kesedihan sebagai pelajaran untuk menjadi lebih kuat,” pesan Safarnaddin.
Sementara Nafisa mengajak mahasiswa untuk tidak menunggu sampai merasa benar-benar siap untuk mencoba sesuatu yang baru. “Mulai saja dari hal kecil, berani keluar dari zona nyaman, dan jangan takut gagal. Manfaatkan setiap kesempatan di masa perkuliahan untuk belajar, membangun relasi, dan menemukan potensi diri,” ujarnya. [ ]
Dok foto: Unisba












