BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Bandung (FEB Unisba) mengembangkan pembahasan ekonomi karbon melalui sektor pertanian. Hal ini dibahas dalam Kuliah Umum “Peluang Bisnis Karbon pada Sektor Pertanian di Indonesia” di Student Center Unisba, Jumat (2/10/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan Dosen Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Mataram, Liana Suryaningsih B., S.P., M.Sc., dan Founder Agricultural Value Chain and Consulting (AgriTC), M. Munir Ubaedy, S.P.

Wakil Dekan Bidang Alumni dan Kerja Sama FEB Unisba, Dr. Rabiatul Adwiyah, S.E., M.Si., mengatakan isu karbon kini tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga mulai masuk ke bidang ekonomi dan bisnis.
“Karbon yang sebelumnya lebih banyak dipandang sebagai persoalan lingkungan, kini mulai dipandang pula sebagai bagian dari ekosistem bisnis dan peluang ekonomi baru,” ujarnya.
Menurutnya, sektor pertanian memiliki peluang dalam pengembangan ekonomi karbon karena berkaitan dengan ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya alam, dan peningkatan nilai ekonomi bagi petani.
Dalam kegiatan tersebut, FEB Unisba dan AgriTC juga menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) dan Implementation Agreement (IA). Kerja sama ini mencakup bidang pertanian, lingkungan, ekonomi karbon, riset, pembelajaran, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam sambutannya, Founder AgriTC, M. Munir Ubaedy, mengatakan AgriTC selama ini mendampingi petani melalui pengembangan rantai nilai pertanian, mulai dari penyediaan sarana produksi hingga akses pasar. Pengembangan tersebut kini juga mencakup ekonomi sirkular dan ekonomi karbon.
“Ketika kita berbicara tentang ekologi, lingkungan, ekonomi karbon, perspektifnya sangat luas. Akan banyak peluang investasi, peluang riset, peluang pembiayaan, dan peluang kerja sama,” jelasnya.
Selain kerja sama, FEB Unisba menyerahkan policy brief tentang rekomendasi penerapan Alternate Wetting and Drying (AWD) di Jawa Barat dengan fokus Kabupaten Subang.
AWD merupakan metode pengaturan air sawah secara berselang yang dapat membantu mengurangi emisi metana sekaligus membuka peluang ekonomi bagi petani.
Dalam kajian tersebut, terdapat 11.523 hektare sawah di luar area SIMURP pada empat kecamatan yang dikaji di Subang. Dari luasan tersebut, penerapan awal AWD direkomendasikan pada area 5.000–10.000 hektare.
Kecamatan Patokbeusi menjadi lokasi prioritas dengan luas 6.858 hektare sawah. Lima desa yang direkomendasikan sebagai lokasi awal yaitu Jatiragas Hilir, Ciberes, Rancabango, Tambakjati, dan Gempolsari.
Penerapan AWD pada musim tanam 2026/2027 perlu didukung kesiapan lahan dan tata air, pendampingan petani, serta pemantauan yang jelas.
Melalui kuliah umum, kerja sama, dan policy brief tersebut, FEB Unisba mengembangkan pembahasan ekonomi karbon agar dapat diterapkan dalam riset dan kegiatan nyata di sektor pertanian. [ ]
Dok foto: Unisba












