Perkuat Kompetensi Kepemimpinan Tendik, Unisba Gelar Leadership Training Batch 2

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG – Universitas Islam Bandung (Unisba) kembali menyelenggarakan Leadership Training bagi tenaga kependidikan (tendik) Batch 2 sebagai upaya memperkuat kompetensi kepemimpinan di lingkungan kerja. Kegiatan yang masih bekerja sama dengan Fulivia tersebut dilaksanakan di Aula Utama Unisba, Kamis (1/10).

 

Pelatihan ini ditujukan bagi para kepala seksi (kasie) di lingkungan Unisba yang memiliki peran penting dalam mengelola tim serta memastikan pelaksanaan tugas di unit kerja berjalan secara efektif. Melalui pelatihan tersebut, peserta diarahkan untuk tidak hanya memahami konsep kepemimpinan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

 

Kepala Bagian SDM dan Administrasi Umum Unisba, Yanti Yulianti, S.T., mengatakan Leadership Training menjadi bagian dari upaya pengembangan kompetensi tendik, khususnya dalam menjalankan peran sebagai pemimpin di unit masing-masing.

“Teman-teman kasie diharapkan bisa mengelola tim, mengoordinasikan pelaksanaan tugas, mengambil keputusan, menyelesaikan permasalahan, serta mendorong pencapaian kinerja Unisba,” ujarnya.

 

Menurutnya, kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam memimpin orang lain. Seorang pemimpin juga perlu memiliki kemampuan untuk mengelola dan memimpin dirinya sendiri sebelum menjalankan peran terhadap lingkungan kerja.

 

Dalam pelaksanaan Batch 2, peserta terlebih dahulu mengikuti pre-test untuk mengetahui pemahaman awal mengenai kepemimpinan. Setelah mengikuti rangkaian pelatihan, peserta akan menjalani post-test untuk melihat perubahan pemahaman yang diperoleh.

 

“Dari sebelum mereka ikut pelatihan, apa yang mereka pikirkan tentang kasie itu seperti apa, setelahnya nanti akan terlihat dari hasil pelatihan ini,” jelas Yanti.

 

Ia menambahkan, evaluasi terhadap hasil pelatihan tidak hanya dilakukan melalui pre-test dan post-test. Dampak pelatihan juga akan dilihat dalam proses kerja peserta setelah kembali ke unit masing-masing. Sebab, menurutnya, pengembangan kepemimpinan merupakan proses yang membutuhkan waktu dan tidak dapat diukur secara instan.

 

“Yang pasti, selain itu nanti kita akan melihat berjalannya waktu. Hasil dari pelatihan ini bukan sesuatu yang instan, nanti evaluasinya akan dilihat kemudian,” katanya.

 

Salah satu kompetensi yang turut diperkuat dalam pelatihan adalah kemampuan komunikasi dan delegasi. Perubahan peran dari staf menjadi kepala seksi menuntut seseorang untuk tidak lagi hanya berfokus pada penyelesaian tugas pribadi, tetapi juga mampu membagi tugas, mengoordinasikan pekerjaan, serta memastikan pekerjaan tim berjalan sesuai tujuan.

 

Yanti menjelaskan, kemampuan delegasi juga perlu diiringi dengan kemampuan bekerja sama dan melakukan pengawasan. Seorang kasie tidak hanya memberikan arahan kepada bawahan, tetapi juga perlu mampu berkoordinasi dengan rekan kerja maupun pimpinan.

 

“Bukan hanya menyuruh ke bawah, tetapi mereka sebagai kasie juga harus bersama-sama bekerja. Jadi bukan hanya ke atas atau ke bawah, tapi juga ke samping,” tuturnya.

 

Lebih lanjut, penerapan hasil Leadership Training diharapkan dapat mendorong peserta untuk lebih proaktif dalam melihat pekerjaan dan menemukan ruang untuk melakukan perbaikan. Menurut Yanti, peserta perlu memiliki pola pikir bahwa penyelesaian satu pekerjaan bukan berarti berhenti mencari hal lain yang dapat dikembangkan.

 

“Harapannya semua dari pelatihan ini mendapatkan insight, jadi tahu apa yang harus mereka lakukan. Pekerjaan itu harus dituntaskan dan mereka juga harus punya inovasi,” ungkapnya.

 

Inovasi tersebut, lanjutnya, juga perlu dikomunikasikan dan dibagikan kepada rekan kerja, bawahan, maupun pimpinan. Dengan demikian, gagasan yang muncul dari masing-masing unit dapat berkembang menjadi perbaikan bersama di lingkungan Unisba.

 

Selain memberikan tugas kepada anggota tim, seorang kasie juga perlu memastikan bahwa tugas yang telah didelegasikan benar-benar selesai. Pengawasan tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab kepemimpinan agar pekerjaan tidak berhenti pada tahap pemberian arahan.

 

“Ketika sudah mendelegasikan ke bawahannya, bukan berarti sudah tuntas. Dia juga harus mengontrol apakah pekerjaan itu memang sudah selesai atau belum. Setelah itu, harus melihat lagi inovasi apa yang akan kita lakukan, jadi harapannya tidak stuck di situ,” katanya.

 

Melalui penyelenggaraan Leadership Training Batch 2, Bagian SDM dan Administrasi Umum Unisba berharap pengembangan kapasitas kepemimpinan tendik dapat terus berlanjut dan memberikan dampak terhadap lingkungan kerja.

 

“Harapannya teman-teman bisa lebih maju, bisa lebih membawa Unisba sebagai seorang leader, leader untuk dirinya sendiri dan leader untuk lingkungannya juga, sehingga Unisba bisa jauh lebih terasa,” pungkas Yanti. [ ]

Dok foto: HUMAS