Perkuat Kader Posbindu, FK Unisba Dorong Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular di Cimekar

Oleh: Tim PkM Fakultas Kedokteran (FK) Unisba

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Penyakit tidak menular (PTM) menjadi salah satu tantangan kesehatan yang perlu mendapat perhatian, terutama pada kelompok lanjut usia. Deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan sederhana merupakan salah satu langkah penting untuk mengenali faktor risiko dan kondisi kesehatan masyarakat sejak awal. Dalam konteks masyarakat desa, keberadaan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) memiliki peran strategis karena menjadi salah satu ruang pelayanan kesehatan yang dekat dengan masyarakat.

Namun, keberadaan Posbindu belum selalu diikuti dengan optimalnya keterampilan kader dalam melakukan pemeriksaan kesehatan sederhana. Kondisi tersebut juga ditemukan di Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Posbindu telah berjalan, tetapi masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain keterbatasan keterampilan kader dalam melakukan pemeriksaan sesuai standar, keterbatasan sarana pemeriksaan, serta masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini. Selain itu, integrasi kegiatan Posbindu dengan program desa lainnya masih perlu diperkuat agar keberlanjutan kegiatan dan dampaknya dapat berlangsung dalam jangka panjang.

Berangkat dari kondisi tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) melalui Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Kemitraan melakukan pendampingan pemeriksaan kesehatan sederhana oleh kader kesehatan Posbindu pada masyarakat Desa Cimekar. Kegiatan ini dirancang bukan hanya sebagai pelayanan kesehatan sesaat, tetapi sebagai upaya untuk memperkuat kapasitas kader agar mereka mampu menjalankan peran kesehatan di tengah masyarakat secara lebih mandiri.

Membangun kapasitas kader melalui pelatihan dan pendampingan

Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan membutuhkan proses yang memungkinkan masyarakat menjadi pelaku utama dalam menjaga kesehatan lingkungannya. Dalam kegiatan ini, kader Posbindu ditempatkan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan sederhana di tingkat komunitas.

Untuk mendukung peran tersebut, tim PKM FK Unisba memberikan pelatihan kader menggunakan modul yang berbasis pada pedoman Kementerian Kesehatan. Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan pendampingan langsung oleh dosen dan mahasiswa FK Unisba serta dokter dari rumah sakit jejaring. Kegiatan pendampingan dan edukasi yang dilaksanakan pada 16 Juni 2026 diikuti oleh 43 kader Posbindu dan 7 petugas ambulans Desa Cimekar.

Pendekatan ini penting karena keterampilan pemeriksaan kesehatan tidak cukup hanya dipahami secara teoritis. Kader perlu memperoleh kesempatan untuk melihat, mempraktikkan, dan memperoleh pendampingan ketika melakukan pemeriksaan. Melalui proses tersebut, pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam pelayanan Posbindu secara rutin.

Dari pelatihan menuju pelayanan nyata

Pemberdayaan kader kemudian diterapkan dalam kegiatan pemeriksaan kesehatan masyarakat. Pelayanan dilakukan dengan pola lima meja sebagaimana kegiatan Posbindu, sehingga kader dapat mempraktikkan keterampilan yang telah diperoleh dalam situasi pelayanan yang nyata.

Pada meja pertama dilakukan pendaftaran dan penggalian keluhan masyarakat. Selanjutnya, meja kedua digunakan untuk pemeriksaan tinggi badan dan berat badan. Meja ketiga mencakup pemeriksaan tekanan darah, nadi, suhu, dan frekuensi pernapasan. Pada meja keempat dilakukan pemeriksaan gula darah, asam urat, dan kolesterol. Sementara itu, meja kelima menjadi ruang konsultasi dan edukasi kesehatan.

Kegiatan pemeriksaan tersebut melibatkan 200 orang masyarakat Desa Cimekar. Pelayanan dilakukan oleh kader kesehatan Posbindu dengan pendampingan dokter spesialis saraf FK Unisba, mahasiswa akademik dan profesi FK Unisba, serta dukungan RS Al-Islam Bandung sebagai rumah sakit jejaring.

Model pelayanan seperti ini memberikan pengalaman langsung kepada kader bahwa Posbindu bukan sekadar tempat melakukan pengukuran kesehatan, tetapi juga dapat menjadi ruang edukasi dan komunikasi kesehatan. Pemeriksaan sederhana dapat menjadi pintu masuk untuk mengenali kondisi kesehatan masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya melakukan pemeriksaan secara berkala.

Kader sebagai penggerak kesehatan masyarakat

Salah satu kekuatan utama kegiatan berbasis komunitas terletak pada kedekatan kader dengan masyarakat. Kader merupakan bagian dari komunitas sehingga memiliki posisi yang strategis untuk mendorong masyarakat memanfaatkan pelayanan kesehatan yang tersedia di lingkungannya.

Karena itu, peningkatan keterampilan kader tidak hanya memberikan manfaat bagi kader secara individual. Keterampilan tersebut berpotensi memperkuat fungsi Posbindu sebagai layanan kesehatan berbasis masyarakat. Semakin baik kemampuan kader dalam melakukan pemeriksaan sederhana dan memberikan edukasi, semakin besar pula peluang Posbindu untuk menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat dalam melakukan deteksi dini.

Dalam kegiatan ini, dukungan dari akademisi dan rumah sakit jejaring juga memberikan penguatan bagi kader dalam menjalankan perannya. Pendampingan yang dilakukan secara langsung diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi menjadi bagian dari dukungan berkelanjutan bagi kader Posbindu Desa Cimekar.

Menguatkan kesadaran deteksi dini

Deteksi dini memiliki arti penting karena berbagai faktor risiko penyakit tidak menular dapat ditemukan melalui pemeriksaan kesehatan sederhana. Pengukuran tekanan darah, indeks massa tubuh, kadar gula darah, kolesterol, maupun pemeriksaan lainnya dapat memberikan informasi awal mengenai kondisi kesehatan seseorang.

Namun, pemeriksaan saja tidak cukup. Hasil pemeriksaan perlu dipahami oleh masyarakat dan diikuti dengan edukasi mengenai langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan. Oleh karena itu, keberadaan meja konsultasi dan edukasi dalam rangkaian pelayanan menjadi bagian penting dari kegiatan.

Pendekatan tersebut menjadikan pelayanan kesehatan tidak berhenti pada angka hasil pemeriksaan. Masyarakat memperoleh kesempatan untuk berkomunikasi mengenai kondisi kesehatannya, sedangkan kader memperoleh pengalaman dalam mengintegrasikan pemeriksaan dengan edukasi kesehatan.

Kolaborasi sebagai fondasi keberlanjutan

Kegiatan di Desa Cimekar menunjukkan bahwa pemberdayaan kesehatan masyarakat membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Perguruan tinggi memberikan dukungan keilmuan dan pendampingan, mahasiswa memperoleh pengalaman belajar langsung di masyarakat, kader menjadi pelaksana utama pelayanan berbasis komunitas, sedangkan rumah sakit jejaring turut memberikan dukungan profesional.

Dekan Fakultas Kedokteran Unisba, Dr. Santun Bekti Rahimah, dr., M.Kes., dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata peran perguruan tinggi dalam menjembatani ilmu kedokteran agar dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Harapannya, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kader dapat terus dikembangkan dan diterapkan dalam kegiatan Posbindu untuk mendukung upaya pencegahan penyakit tidak menular di Desa Cimekar.

Dukungan pemerintah desa juga menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Kepala Desa Cimekar, Iwan Dharmawan, menyampaikan dukungan terhadap kegiatan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan, khususnya dalam upaya pencegahan penyakit tidak menular dan peningkatan kesehatan masyarakat, termasuk kelompok lansia.

Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa penguatan Posbindu tidak dapat hanya dibebankan kepada kader. Dibutuhkan ekosistem yang mendukung agar kader memiliki pengetahuan, keterampilan, sarana, serta jejaring yang diperlukan untuk menjalankan perannya.

Menuju Posbindu yang lebih berdaya

Program pemberdayaan masyarakat berbasis kemitraan ini menargetkan peningkatan keterampilan kader Posbindu dalam melakukan pemeriksaan kesehatan sederhana sekaligus meningkatkan jumlah masyarakat Desa Cimekar yang secara rutin melakukan skrining kesehatan.

Lebih dari sekadar kegiatan pemeriksaan kesehatan, program ini merupakan proses membangun kapasitas masyarakat. Kader tidak hanya menjadi penerima pengetahuan, tetapi didorong menjadi pelaksana pelayanan kesehatan sederhana di komunitasnya. Masyarakat pun tidak hanya menjadi sasaran pelayanan, tetapi diharapkan semakin sadar akan pentingnya mengenali kondisi kesehatannya sejak dini.

Ke depan, keberlanjutan program menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Keterampilan yang telah diberikan perlu terus dipraktikkan dalam kegiatan Posbindu, sementara dukungan lintas pihak perlu dipertahankan agar kegiatan tidak berhenti setelah program pengabdian selesai. Integrasi Posbindu dengan program kesehatan desa juga dapat menjadi langkah penting untuk memperkuat keberlanjutan pelayanan.

Pada akhirnya, pengalaman di Desa Cimekar memperlihatkan bahwa pelayanan kesehatan sederhana dapat menjadi titik awal bagi pemberdayaan masyarakat. Ketika kader dibekali keterampilan, masyarakat diberikan akses terhadap pemeriksaan dan edukasi, serta perguruan tinggi dan jejaring pelayanan kesehatan hadir sebagai mitra, Posbindu dapat berkembang menjadi salah satu kekuatan kesehatan berbasis komunitas.

Program ini menjadi contoh bahwa ketahanan kesehatan masyarakat tidak hanya dibangun melalui fasilitas kesehatan, tetapi juga melalui masyarakat yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan untuk berperan aktif dalam menjaga kesehatannya. [ ]