"The Verses in Motion": Langkah Besar Santri Menembus Ekosistem Film Nasional

“The Verses in Motion”: Langkah Besar Santri Menembus Ekosistem Film Nasional

BERITAUNGGULAN.COM, JAKARTA — Selasa (22/09/2026) Pesantren selama ini identik dengan kitab, kajian dan tradisi keislaman. Namun, di tangan Neno Warisman sebagai Pendiri Gagasan SANFFEST, ruang pesantren dibuka lebih lebar: santri juga diajak membaca perubahan zaman melalui kamera dan layar film.

Gagasan itu menjadi salah satu napas utama Santri Film Festival (SANFEST) 2026 yang mengusung tema “The Verses in Motion.” Festival yang memasuki tahun kedua ini digagas Yayasan Indonesia Mengasuh Berbudaya (YIMB) bersama Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Sebagai penggagas sekaligus Ketua Komite SANFEST 2026, Neno Warisman ingin santri tidak berhenti pada kemampuan memahami teks keagamaan. Mereka juga didorong melihat persoalan di sekelilingnya, kemudian mengolahnya menjadi cerita yang memiliki nilai.

Menurut Neno, film tentang nilai-nilai Al-Qur’an tidak harus selalu berupa penggambaran langsung kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an.

“Jadi bukan memindahkan kisah-kisah dalam Al-Qur’an ke dalam film,” ujar Neno.

Yang lebih penting, kata dia, bagaimana santri membaca persoalan sosial maupun lingkungan yang berada di sekitar pesantren melalui perspektif Al-Qur’an.

Pendekatan kedua adalah mengambil hikmah dari kisah-kisah Al-Qur’an, kemudian menghubungkannya dengan kehidupan manusia hari ini.

Dengan cara itu, kamera tidak sekadar menjadi alat untuk merekam. Kamera menjadi medium bagi santri untuk bertanya: apa yang sedang terjadi di sekitar mereka, bagaimana persoalan itu dipahami, dan nilai apa yang dapat ditawarkan kepada masyarakat.

Dakwah Memasuki Layar

Festival Director SANFFEST 2026, Gus Achmad Ubaidillah, melihat perubahan cara masyarakat menerima informasi sebagai peluang baru bagi pesantren.

“Era dakwah sudah bertransformasi dengan instrumen online. Instrumen itulah yang kita ingin maksimalkan sebaik-baiknya,” katanya.

Film, dalam konteks tersebut, menjadi salah satu bahasa yang dekat dengan generasi muda. Santri tidak hanya menjadi penonton perkembangan teknologi, tetapi dapat mengambil posisi sebagai kreator.

Pesantren pun tidak lagi dipandang sebagai ruang yang terpisah dari perkembangan industri kreatif. Justru dari lingkungan pesantren dapat lahir cerita, gagasan dan perspektif baru yang kemudian dibawa ke ruang publik melalui film.

Ketua YIMB Putra Gara menegaskan, SANFFEST sekaligus menjadi jembatan antara dunia pesantren dengan ekosistem perfilman dan kebudayaan Indonesia.

“Sekaligus mempertemukan dunia pesantren dengan ekosistem perfilman dan kebudayaan Indonesia,” ujar Putra Gara.

Menurutnya, festival tersebut membuka ruang dialog mengenai potensi kreativitas santri dalam perfilman sekaligus melihat film sebagai medium ekspresi budaya generasi muda Indonesia.

Santri Bukan Sekadar Objek Cerita

Kehadiran sejumlah nama dari dunia film juga memperkuat ruang perjumpaan tersebut. Niniek L. Karim, misalnya, terlibat sebagai salah satu juri dengan pengalaman panjangnya di dunia seni peran dan perfilman.

Ada pula Mario Irwinsyah yang membawa perspektif dari industri film, serta Syakir Daulay yang memiliki kedekatan dengan dunia pesantren sebelum kemudian dikenal sebagai aktor.

Kehadiran mereka menunjukkan bahwa SANFFEST tidak sekadar menggelar kompetisi film. Festival ini ingin mempertemukan dua dunia yang selama ini kerap berjalan di jalur masing-masing: pesantren dan perfilman.

Pengalaman SANFEST 2025 menjadi pijakan penting. Ratusan santri terlibat dan menghasilkan karya film dalam berbagai kategori.

Kini, SANFFEST 2026 mencoba membawa langkah tersebut lebih jauh.

Neno Warisman melihat santri bukan semata-mata sebagai objek yang diceritakan dalam film. Santri justru ditempatkan sebagai subjek yang memiliki kamera, gagasan dan cara sendiri dalam membaca kehidupan.

Di titik itulah “The Verses in Motion” menemukan maknanya.

Ayat tidak berhenti sebagai teks. Nilai-nilainya bergerak, dibaca melalui realitas, kemudian diterjemahkan menjadi cerita visual.

Dari pesantren, kamera mulai diarahkan ke kehidupan. Dari kehidupan, lahir cerita. Dan dari cerita, santri mencoba menyampaikan nilai kepada dunia.

Dengan total hadia sebesar Rp 415 Juta, SANFFEST 2026 merupakan pintu gerbang membuka kesempatan bagi para Santri untuk membawa kisah dan Nilai nilai Al Quran ke layar melalui pendekatan yang Kreatif , Kontekstual dan Relevan.

Memasuki tahun kedua SANFFEST 2026 terus membawa semangat untuk membuka ruang bagi Santri dari berbagai latar belakang agar dapat bercerita, berkarya dan menghadirkan Nilai nilai Al Qu’ran dalam Bahasa Sinema.

Tentang SANFFEST 2026

Santri Film Festival disingkat SANFFEST merupakan Ajang Pencarian Bakat yang dikemas dalam Festival Film yang menjadi ruang bagi untuk Santri  untuk Berekspresi dan Berkarya melalui medium Sinema. SANFFEST mempertemukan nilai nilai pesantren dengan kreativitas perfilman, sekaligus mendorong lahirnya karya karya Santri yang memiliki nilai nilai, relevansi dan daya jangkau yang luas.

Untuk informasi Pendaftaran  SANFFEST 2026 mulai September sampai Desember 2026 bisa melalui website: https://www.sanffest.com atau SANFFEST 2026 whatsapp: 082310545407 dengan Instagram: @sanffest.id