Fakultas Dakwah Unisba Bekali Mahasiswa Jadi Insan Dakwah Profesional di Era Digital

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG – Ruang dakwah terus berkembang seiring perubahan teknologi dan pola komunikasi masyarakat. Bagi mahasiswa Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung (Unisba), perubahan tersebut menjadi ruang untuk memperluas peran dakwah melalui berbagai platform digital tanpa meninggalkan nilai dan prinsip yang menjadi pijakan. Hal tersebut menjadi salah satu pesan dalam kuliah umum bertema “Langkah Awal Menuju Insan Dakwah Profesional” yang digelar Fakultas Dakwah Unisba di Aula Utama Unisba, Jalan Tamansari No. 1, Bandung, Senin (21/9).

Kegiatan yang menjadi bagian dari orientasi dan matrikulasi mahasiswa tahun akademik 2026/2027 tersebut menghadirkan Rektor Unisba Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng. sebagai keynote speaker dan Meyda Sefira, S.T., M.T. sebagai narasumber. Kegiatan dimoderatori Dosen Fakultas Dakwah Unisba, N. Sausan Muhammad Sholeh, Lc., M.A.

Ketua Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Unisba, Dr. Ahmad Muttaqin, S.Th.I., M.Hum., mengatakan kuliah umum tersebut tidak hanya menjadi penanda dimulainya perkuliahan semester ganjil, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami kompetensi yang diperlukan dalam menghadapi perkembangan teknologi digital.

Menurutnya, kehadiran dua narasumber memberikan perspektif yang saling melengkapi. Rektor Unisba membahas karakter mujahid, mujtahid, dan mujaddid di era digital, sedangkan Meyda Sefira memberikan gambaran dari pengalaman praktis mengenai dakwah, komunikasi, kreativitas, dan pemanfaatan media.

Ahmad menjelaskan, dakwah saat ini tidak lagi terbatas pada ruang masjid maupun pengajian. Perkembangan media sosial membuka ruang yang lebih luas bagi penyampaian pesan keagamaan melalui berbagai platform digital. Karena itu, mahasiswa perlu memahami karakter media sekaligus mampu memanfaatkan perkembangan tersebut sebagai bagian dari aktivitas dakwah.

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan interdisipliner dalam dakwah. Latar belakang keilmuan yang beragam, menurutnya, dapat menjadi modal untuk memperkaya cara menyampaikan pesan Islam. Hal tersebut salah satunya tercermin dari latar belakang Meyda Sefira yang berasal dari bidang teknik lingkungan dan kemudian berkiprah di dunia perfilman serta digital.

“Dakwah membutuhkan interdisiplin. Dakwah perlu dikawinkan dengan berbagai pendekatan-pendekatan,” ujarnya.

Ahmad juga menyampaikan pentingnya keterbukaan dalam aktivitas dakwah, termasuk memberikan ruang bagi perempuan untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Menurutnya, dakwah perlu menjadi ruang yang terbuka dan inklusif sehingga mampu mengayomi berbagai kalangan.

Sementara itu, Dekan Fakultas Dakwah Unisba, Dr. Asep Ahmad Siddiq, Drs., M.Si., mengatakan tema kuliah umum tersebut relevan dengan kondisi dakwah saat ini. Perkembangan teknologi membuat ruang dakwah semakin luas, mulai dari siniar hingga berbagai platform media sosial.

Menurut Asep, mahasiswa Fakultas Dakwah tidak cukup hanya memiliki kedalaman ilmu. Mereka juga perlu membangun kompetensi, kreativitas, literasi digital, dan profesionalisme. Ilmu yang diperoleh di bangku kuliah perlu diwujudkan melalui karya dan amal nyata.

Ia mengajak mahasiswa untuk mulai membangun kompetensi sejak berada di bangku kuliah, bukan menunggu hingga menyelesaikan pendidikan. “Jangan hanya bertanya setelah lulus saya mau jadi apa? Tapi yang harus kita mulai bertanya, kompetensi apa yang harus saya bangun mulai hari ini?” katanya.

Asep juga mendorong mahasiswa agar tidak berhenti sebagai pengguna media. Mahasiswa Fakultas Dakwah diharapkan mampu menghasilkan gagasan yang memiliki nilai serta memberikan pengaruh positif melalui ruang digital.

“Jangan hanya menjadi pengguna media, tetapi jadilah produsen gagasan. Jangan mengejar viral, tapi hadirkan nilai. Kemudian jangan hanya mencari follower, bangun pengaruh positif,” tuturnya.

Pesan tersebut kemudian diperkuat melalui materi Rektor Unisba dalam tema “Menjadi Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid di Era Digital”. Dalam materinya, Prof. Harits menjelaskan bahwa perkembangan media sosial, kecerdasan buatan, dan berbagai teknologi komunikasi telah mengubah cara masyarakat memperoleh serta menyebarkan informasi. Kondisi tersebut menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi dakwah Islam.

Dalam konteks digital, karakter mujahid, mujtahid, dan mujaddid diarahkan pada tiga kemampuan yang saling melengkapi. Mujahid menjadi semangat untuk menghadirkan konten yang menjaga nilai Islam. Mujtahid menekankan kemampuan berpikir kritis, melakukan riset, membaca data, serta merumuskan pendekatan dakwah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat digital. Sementara mujaddid mendorong keberanian menghadirkan inovasi dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.

Mahasiswa KPI juga didorong untuk memanfaatkan berbagai teknologi seperti kecerdasan buatan, siniar, sinematografi pendek, virtual reality, hingga live streaming sebagai sarana pengembangan dakwah. Pemanfaatan teknologi tersebut tetap perlu disertai etika komunikasi Islam dan nilai akhlakul karimah.

Dalam materi yang disampaikan oleh Meyda Sefira, ditekankan bahwa menjadi insan dakwah profesional membutuhkan ilmu, karakter, kreativitas, keberanian, dan kemampuan beradaptasi. Perubahan dunia, media, serta pola komunikasi masyarakat menuntut cara berdakwah yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai dan prinsip.

“Jangan hanya menjadi mahasiswa yang merasa cukup dengan selesai kuliah, tapi jadilah insan dakwah yang setelah menyelesaikan sarjana S1 ini yang kemudian kehadirannya dirasakan oleh masyarakat,” tutur moderator dalam kesimpulan akhir.

Melalui kuliah umum tersebut, Fakultas Dakwah Unisba mendorong mahasiswa menjadikan masa perkuliahan sebagai proses membangun kompetensi dan karakter. Langkah tersebut diharapkan melahirkan insan dakwah yang profesional, berintegritas, kreatif, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat melalui karya dan ruang digital. [ ]

Dok foto: HUMAS