BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Di tengah pesatnya perkembangan layanan keuangan digital, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Fikom Unisba) menggelar talk show bertajuk “Literasi Fintech Anak Muda: Smart Financial User” di Student Centre Unisba, Rabu (11/6). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Milad ke-43 Fikom Unisba yang terselenggara atas kerja sama dengan ASPIKOM, Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi), dan Trimegah Sekuritas.
Talk show menghadirkan Bhisma Herlambang dari Trimegah Sekuritas Indonesia dan Dr. M.E. Fuady, M.Si., dosen Fikom Unisba, dengan moderator Santi Indra Astuti, M.Si., Ph.D.
Dekan Fikom Unisba, Dr. Rini Rinawati, M.Si., mengatakan kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai perkembangan teknologi finansial (fintech) yang kini semakin dekat dengan kehidupan masyarakat digital.
“Talk show ini diharapkan dapat memberikan edukasi kepada peserta, khususnya mahasiswa Fikom Unisba, mengenai perkembangan produk fintech serta dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman yang baik sangat penting agar generasi muda dapat memanfaatkan layanan keuangan digital secara bijak dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Menurut Rini, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam membekali mahasiswa dengan kemampuan memahami perkembangan teknologi yang berdampak langsung pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Pada sesi pemaparan materi, M.E. Fuady menjelaskan bahwa perkembangan fintech saat ini berlangsung sangat pesat dan telah menjadi bagian dari gaya hidup digital masyarakat. Berbagai layanan seperti dompet digital, QRIS, pinjaman online, hingga investasi digital kini semakin banyak digunakan, terutama oleh generasi muda.
Namun, tingginya penggunaan layanan keuangan digital belum sepenuhnya diimbangi dengan literasi yang memadai. Fuady mengungkapkan bahwa berdasarkan sejumlah laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sekitar 38,7 persen korban pinjaman online ilegal berada pada rentang usia 26–35 tahun dan sekitar 35 persen berasal dari kelompok usia 16–25 tahun. Selain itu, sekitar 74 persen pengaduan terkait pinjaman online ilegal berasal dari kelompok usia muda.
“Di balik berbagai kemudahan yang ditawarkan, masyarakat perlu memahami risiko yang mungkin muncul. Literasi keuangan menjadi kunci agar pengguna tidak terjebak pada dampak negatif, seperti perilaku konsumtif, penyalahgunaan pinjaman online, maupun investasi yang tidak sesuai dengan profil risiko,” jelas Fuady.
Menurutnya, literasi keuangan dan literasi digital harus berjalan beriringan. Generasi muda perlu membiasakan diri melakukan verifikasi informasi, memahami karakteristik produk keuangan, serta mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan sebelum mengambil keputusan finansial.
Sementara itu, Bhisma Herlambang dari Trimegah Sekuritas memaparkan perkembangan investasi digital yang saat ini semakin diminati oleh generasi muda. Ia menyebutkan bahwa terdapat tiga instrumen investasi yang paling populer di kalangan investor saat ini, yaitu saham, reksa dana, dan obligasi.
Menurut Bhisma, ketiga instrumen tersebut dapat menjadi pilihan investasi yang sesuai dengan tujuan dan profil risiko masing-masing individu. Namun, sebelum memulai investasi, masyarakat perlu memahami karakteristik setiap instrumen agar dapat mengambil keputusan yang tepat.
Bhisma juga mengingatkan bahwa dinamika pasar merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dunia investasi. Menurutnya, kondisi pasar yang mengalami perlambatan tidak seharusnya membuat investor kehilangan optimisme. Ia mencontohkan bahwa Indonesia pernah menghadapi krisis moneter 1998 yang jauh lebih berat dibandingkan berbagai tantangan ekonomi saat ini, namun mampu bangkit kembali melalui berbagai kebijakan dan perbaikan ekonomi yang dilakukan secara bertahap.
“Dalam investasi, yang terpenting adalah memiliki perspektif jangka panjang. Pasar selalu mengalami siklus naik dan turun. Karena itu, investor perlu tetap rasional, tidak panik, serta terus meningkatkan literasi agar mampu mengambil keputusan yang tepat di tengah berbagai dinamika ekonomi,” ujarnya.
“Investasi bukan sekadar mengikuti tren. Generasi muda perlu memahami tujuan keuangan, profil risiko, dan strategi investasi yang sesuai. Dengan literasi yang baik, investasi dapat menjadi sarana untuk membangun masa depan keuangan yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, Fikom Unisba berharap mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna aktif teknologi keuangan, tetapi juga mampu menjadi generasi yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan berbagai layanan fintech di era digital. Selain itu, kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat literasi keuangan digital di kalangan mahasiswa sebagai bekal menghadapi tantangan ekonomi dan perkembangan teknologi yang semakin dinamis. [ ]
Dok foto: Fikom Unisba












