Oleh dr. Ermina Widiyastuti, SpJP-FIHA
BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Sering kali kita menyaksikan di televisi, dalam film atau masuk dalam pemberitaan adanya aksi heroik yang mampu menyelamatkan nyawa seseorang yang mengalami henti jantung. Ya, henti jantung, bukan serangan jantung. Perbedaan katanya tipis sekali, namun maknanya bisa jauh berbeda, apabila kita bisa mengenali keduanya. Henti jantung pada dewasa memang paling sering terjadi akibat serangan jantung.
Henti jantung adalah kondisi dimana jantung telah berhenti bekerja, sehingga tidak ada darah yang dipompakan ke seluruh tubuh, akibatnya dalam hitungan menit, organ tubuh penting seperti otak pun dapat berhenti bekerja dan menyebabkan kematian. Meskipun kejadiannya berlangsung tiba-tiba dan memiliki potensi besar menuju kematian bila tidak segera mendapatkan pertolongan yang memadai, namun pemberian pertolongan pertama kejadian henti jantung dapat menyelamatkan korban dari ancaman kematian. Bahkan bila pertolongan tersebut diberikan oleh orang awam.
Data yang dicatatkan pada jurnal dari American Heart Association (AHA) pada tahun 2025 menyebutkan, pertolongan pertama bantuan hidup dasar oleh awam yang menyaksikan kejadian henti jantung di luar rumah sakit, dapat meningkatkan kemungkinan bertahan hidup hingga 3x lipat, dibandingkan bila tidak mendapat pertolongan pertama bantuan hidup dasar.
Potensi bertahan hidup korban henti jantung dapat lebih meningkat apabila diberikan pertolongan terpadu dengan pemberian resusitasi jantung paru disertai kejut listrik menggunakan alat defibrilator otomatis (Automated External Defibrillator/AED) dan dilanjutkan dengan tata laksana bantuan hidup lanjut di rumah sakit.
Intinya, bantuan hidup sederhana di menit awal kejadian, dapat menyelamatkan nyawa korban henti jantung. Lantas, seperti apakah bantuan hidup dasar yang dapat diberikan oleh awam tersebut, dan bagaimanakah cara melakukannya?
Bantuan hidup dasar adalah pertolongan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup manusia, yakni tersedianya sirkulasi darah ke seluruh tubuh yang akan dapat menghantarkan oksigen ke seluruh tubuh, terutama ke organ-organ vital. Singkatnya, pada kejadian henti jantung, disaat jantung berhenti bekerja atau memompa darah, maka bantuan yang diberikan adalah dengan membantu jantung agar dapat memompa darah dan memberikan oksigen yang dibutuhkan, itulah yang kita sebut sebagai resusitasi jantung dan paru (RJP).
Fungsi kedua organ inilah yang menjadi pusat pemberian pertolongan RJP pada korban henti jantung.
Untuk mudahnya, langkah-langkah dalam melakukan bantuan hidup dasar terangkum sebagai berikut:
- Kenali kejadian henti jantung
- Amankan diri, korban dan sekitar
- Cek respon
- Teriak minta pertolongan dan alat defibrillator otamatis (AED)
- Telpon 119 atau ambulans
- Lakukan RJP, kompresi jantung dan bantuan napas 30:2
Yuk kita bahas satu-persatu. Pertama, kita harus bisa mengenali dengan cepat kejadian henti jantung. Cirinya mudah, henti jantung dapat terjadi pada beberapa kondisi berikut:
- Korban tidak sadar
- Korban henti napas atau napas tidak normal
- Korban tersedak dan tersumbat jalan napas
Apabila kita mendapati seseorang yang sebelumnya terlihat sadar atau kita saksikan sehat atau beraktivitas normal, kemudian tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri, maka bisa jadi dia mengalami henti jantung. Seseorang yang tiba-tiba mengalami henti napas, bisa kita kenali dengan tidak adanya gerakan dinding dada, atau terlihat gerakan dinding dada yang naik turun secara tidak normal atau mengalami napas agonal. Pada korban yang tersaksikan mengalami tersedak dapat menjadi tersumbat total jalan napasnya, hingga akhirnya jatuh tidak sadarkan diri karena berlanjut menjadi henti jantung.
Bila kita menyaksikan ketiga kejadian tersebut dan mencurigai adanya henti jantung, maka kita perlu segera memberikan pertolongan dengan memastikan diri kita, korban dan orang di sekitar korban aman apabila kita memberikan pertolongan. Contoh mudahnya, jangan memberikan pertolongan di tengah jalan, atau di dekat area berarus listrik atau berair, terutama apabila kita akan memberikan kejut listrik dengan AED.
Berikutnya setelah memastikan aman, maka kita dapat melakukan cek respon korban dengan menepuk keras sambil menggoyangkan bahu korban dan berteriak memanggilnya, untuk memastikan bahwa korban benar-benar tidak sadar karena henti jantung dan bukan hanya pingsan. Apabila korban tidak berespon, maka kita segera berteriak minta tolong orang sekitar dan minta diambilkan alat AED dan memanggil ambulan atau menelepon 119.
Selanjutnya kita berikan pertolongan RJP dengan penolong tunggal atau ganda, dengan pemberian kompresi atau penekanan dinding dada disertai bantuan napas dengan perbandingan 30:2.
Langkah-langkah RJP adalah sebagai berikut:
- Letakkan korban telentang di tempat datar beralas keras.
- Berlutut di samping dada korban, lutut dekat dengan badan korban.
- Buka area dada, letakkan satu tumit tangan di setengah bawah tulang dada, sekitar area tepat di antara dua puting pada laki-laki dewasa.
- Letakkan tangan yang lain di atas punggung tangan pertama, dan posisikan jari-jari mengait dan mengunci satu sama lain.
- Luruskan lengan dengan bahu, dan posisikan bahu tegak lurus di atas titik tumpu tangan di dinding dada.
- Tekan kuat dan dalam sekitar 5-6 cm, dan tekan cepat dengan kecepatan 100-120 kali per menit, dengan menghitung sebanyak 30 kali. Gunakan beban badan untuk mendorong ke bawah, bukan dengan kekuatan lengan. Lakukan 30 kali penekanan terus-menerus tanpa jeda. Biarkan dada mengembang sempurna saat antara penekanan, jangan menyandarkan tangan ke dada korban. Beri kesempatan jantung terisi darah sebelum ditekan ulang.
- Dorong dahi korban dengan 1 tangan hingga sedikit menengadah ke atas, kemudian ambil napas biasa, buka mulut korban, hembuskan napas ke mulut korban dengan memastikan hidung tertutup rapat sambil menjepit hidung menggunakan jari kita saat memberikan napas ke korban.
- Ambil napas, kemudian hembuskan napas kedua ke korban dengan cara yang sama.
- Lakukan ulang siklus kompresi jantung: bantuan napas 30:2 sebanyak 5x atau selama 2 menit.
- Cek kembali respon kesadaran dan napas korban setelah 5 siklus. Bila korban masih tidak berespon atau tidak kembali bernapas dengan normal, lakukan ulang RJP sebanyak 5 siklus, dengan berganti kompresor bila dengan 2 penolong.
- Apabila saat melakukan RJP didapatkan AED oleh penolong lain, maka lanjutkan RJP sampai AED telah terpasang dengan baik dan siap dioperasikan. Hentikan RJP dan ikuti perintah selanjutnya dari AED.
RJP dapat dihentikan oleh penolong bila korban telah sadar dan bernapas normal, atau bila ambulans atau petugas 119 atau petugas kesehatan telah datang, atau bila penolong lelah. Apabila kita khawatir saat akan memberikan pertolongan bantuan napas, maka dapat dilakukan dengan menggunakan penghalang seperti sapu tangan tipis atau pelindung diri.
Itulah tadi seputar RJP, sederhana bukan? Langkah-langkah ini dapat dilatihkan oleh tenaga kesehatan terlatih pada orang awam, agar pertolongan pertama dapat diberikan dengan memadai dan mampu mengembalikan kesadaran korban dan menyelamatkan nyawanya dari kematian.
Untuk meningkatkan kompetensi anda dalam menolong korban henti jantung, silahkan hubungi rumah sakit atau perhimpunan dokter jantung di kota tempat tinggal anda untuk mendapatkan pelatihan RJP bagi awam.
Penjelasan di atas, disampaikan pada kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat Hibah Internal Unit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (UPPM) Fakultas Kedokteran Unisba Tahun 2025-2026, dengan Judul PKM: Pelatihan Resusitasi Jantung dan  Pendampingan Tata Laksana Henti Jantung pada Ibu-ibu Komunitas 3iKB UNISBA Bandung, tanggal 20 Juni 2026. [ ]












