Dibangun hanya sebagai lintasan kereta pengangkut hasil kebun teh dan karet, viaduk peninggalan Belanda ini kini menjelma menjadi bangunan bersejarah yang layak dirawat.
Oleh: Mafazi Qisthi
BERITAUNGGULAN.COM, JATINANGOR — Kalau mendengar kata Jatinangor, apa yang langsung terlintas di kepala? Kemungkinan besar tidak jauh dari kampus, mahasiswa, deretan tempat kos, atau padatnya kegiatan akademik. Padahal, jauh sebelum suasana akademik mewarnai kawasan ini, Jatinangor sudah punya sejarah panjang. Salah satu jejaknya masih berdiri gagah di Desa Hegarmanah, tak jauh dari kawasan Cikuda (Jembatan Cincin).
Uniknya, jembatan ini sama sekali tidak dibangun untuk menjadi objek wisata atau monumen. Jembatan ini lahir dari kebutuhan praktis pada masa kolonial Hindia Belanda, yakni sebagai lintasan kereta api. Perjalanan Jembatan Cincin dari hanya sarana transportasi menjadi bangunan bersejarah inilah yang membuatnya menarik untuk dibahas lebih jauh.
Dari Kebun Karet ke Rel Kereta
Sebelum dikenal sebagai kota mahasiswa, Jatinangor adalah kawasan perkebunan. Pada era kolonial, wilayah ini dipenuhi kebun teh dan karet yang dikelola perusahaan swasta milik Belanda. Hasil perkebunan membutuhkan sarana angkut yang memadai sehingga dibangun jalur kereta Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari. Selain berkaitan dengan kebutuhan transportasi dan ekonomi, pembangunan jalur ini juga memiliki kaitan dengan kepentingan pertahanan kolonial. Ermahri, Rubiati, dan Djakaria (2021) menjelaskan bahwa arah jalur yang diusulkan pihak militer mencakup Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari-Citali. Rencana perpanjangan jalur hingga Kota Sumedang juga berkaitan dengan kepentingan pertahanan dan ekonomi.
Jembatan Cincin, yang bernama resmi Viaduk Cikuda, dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda, sekitar tahun 1917–1918. Jalurnya mulai beroperasi pada 1921. Julukan “cincin” sendiri datang dari deretan lengkungan setengah lingkaran di bagian bawahnya, yang dari kejauhan tampak seperti cincin berjajar.

Ketika Fungsi Hilang, Makna Justru Muncul
Menariknya, sebuah bangunan jarang langsung bernilai sejarah sejak pertama berdiri. Pada awalnya, Jembatan Cincin hanyalah sarana penunjang transportasi biasa. Nilainya justru tampak ketika keadaan di sekitarnya berubah. Pada 1942, jalur Rancaekek-Tanjungsari berhenti beroperasi dan sebagian relnya dibongkar pada masa pendudukan Jepang. Fungsi awal jembatan pun ikut hilang, tetapi bangunannya tetap berdiri kokoh hingga kini.
Di sinilah perubahan makna itu terjadi. Bangunan yang dulu dilihat sebagai jalur lalu lintas kereta, sekarang dipandang sebagai peninggalan masa lalu. Fungsi utamanya memang sudah tidak ada, tetapi keberadaannya memberi kesempatan bagi masyarakat sekarang untuk melihat bagaimana Jatinangor pernah berkembang dengan cara yang berbeda. Jembatan ini menjadi pengingat bahwa wilayah yang sekarang ramai oleh mahasiswa ternyata pernah punya kehidupan yang sangat dekat dengan perkebunan dan kereta api.
Perubahan itu tampak jelas jika membandingkan dua wajah jembatan ini. Dulu, jembatan ini berperan penting dalam kelancaran pengangkutan hasil perkebunan melalui jalur kereta api. Kini, nilainya justru terletak pada usianya yang lebih dari satu abad, lengkungan batu khas zaman kolonial, dan cerita yang melekat padanya. Kereta tak lagi melintas, tetapi Jembatan Cincin tetap berdiri sebagai saksi sejarah perkeretaapian di Priangan.
Lebih dari sebatas Latar Foto
Tentu saja, peninggalan sejarah tak banyak berarti jika hanya dianggap sebagai bangunan tua atau tempat berfoto. Lengkungan dan konstruksi Jembatan Cincin bukan hanya bentuk arsitektur, melainkan jejak kehidupan masyarakat masa lalu. Dari sana, kita bisa membaca hubungan antara perkebunan, transportasi, perkembangan wilayah, hingga perubahan kehidupan warganya.
Cerita inilah yang membuat Jembatan Cincin berpotensi menjadi destinasi wisata sejarah. Pengembangannya tidak harus mengubah jembatan menjadi tempat hiburan. Yang terpenting adalah membagikan kisah di baliknya, seperti lewat papan informasi, atau tur jalan kaki bertema sejarah Jatinangor. Dengan begitu, pengunjung tidak hanya melihat sebuah jembatan, tetapi juga memahami mengapa bangunan ini layak dijaga.
Mahasiswa bisa mengambil peran penting di sini. Sebagai kelompok yang menghabiskan bertahun-tahun di Jatinangor, mahasiswa seharusnya ikut peduli pada lingkungan tempat mereka belajar, misalnya melalui konten media sosial, riset, atau kegiatan pengabdian masyarakat yang mengangkat sejarah lokal. Dengan begitu, Jembatan Cincin tidak hanya dikenal sebagai jalan pintas atau latar foto, tetapi sebagai bangunan bersejarah yang punya cerita.
Merawat Ingatan
Pada akhirnya, Jembatan Cincin menunjukkan bahwa fungsi sebuah bangunan bisa berubah seiring waktu. Ketika perannya sebagai jalur kereta api berakhir, ia tidak lantas kehilangan arti. Justru dari perubahan itulah nilai sejarahnya muncul. Merawat Jembatan Cincin bukan hanya menjaga bangunan lama, melainkan menghidupkannya sebagai ruang wisata heritage yang edukatif. Bukan hanya tempat berfoto, tetapi juga sarana merawat ingatan agar kisah Jembatan Cincin tidak hilang begitu saja dari generasi sekarang. [ ]












