BERITAUNGGULAN.COM, JAKARTA — Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Sekjen MUI), Buya Amirsyah Tambunan, mendorong penguatan diplomasi kemanusiaan melalui sinergi yang erat antara diplomasi resmi negara dan lembaga filantropi.
Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam menyelesaikan berbagai krisis dan konflik global melalui dialog yang konstruktif.
Gagasan tersebut disampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Aula Buya Hamka, Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (25/6/2026).
Diskusi ini merupakan bagian dari rangkaian pra-Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang akan mematangkan materi isu internasional sebelum kongres digelar pada akhir Juli mendatang.
Menurut Buya Amirsyah, di tengah ketegangan geopolitik yang semakin dinamis, penyelesaian krisis global tidak bisa lagi hanya bertumpu pada jalur birokrasi formal. Perlu ada keterlibatan aktif dari lembaga filantropi untuk bergerak bersama negara di garis depan.
“Penting mengembangkan diplomasi kemanusiaan, yakni sinergi antara diplomasi negara dengan peran lembaga filantropi dalam memperkuat kerja sama ekonomi, politik, dan kemanusiaan lintas negara,” ujar Buya Amirsyah.
Pembahasan dalam forum strategis ini memfokuskan pada dua isu utama dalam konteks politik internasional tatanan dunia multipolar, yaitu taqwiyatul ummah dan siyādat ad-daulah.
Buya Amirsyah menegaskan bahwa kedua isu tersebut harus menjadi landasan penting dalam membangun peradaban global yang berkeadaban dengan berpedoman pada paradigma Islam Wasathiyah (Islam moderat).
Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia sekaligus menyandang status middle power, Indonesia dinilai memiliki modal dan peluang besar untuk menjadi jembatan dialog di tengah ketegangan geopolitik.
“Peran ini diharapkan mendapat dukungan kuat dari negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI),” kata dia.
Sebagai bentuk komitmen nyata dalam mewujudkan visi tersebut, MUI telah mempelopori Pelatihan Diplomasi Wasathiyah.
“Program ini dirancang khusus untuk membekali para calon diplomat dengan nilai-nilai Islam moderat,” ujar dia.
Melalui program tersebut, MUI berharap dapat melahirkan aktor-aktor diplomasi baru yang tidak hanya fokus pada kepentingan politik, tetapi juga aktif menggerakkan bantuan kemaslahatan antarbangsa.
“Kami ingin para diplomat Indonesia tidak hanya membawa kepentingan nasional, tetapi juga membawa misi kemanusiaan dan perdamaian dunia sesuai nilai-nilai Islam Wasathiyah,” kata Buya Amirsyah. [ ]












