Teknologi dan Social Engineering, Kunci Unisba Atasi Masalah Sampah

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG —  Focus Group Discussion (FGD) digelar Universitas Islam Bandung (Unisba) melalui Lembaga Penelitian Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM)  bertema ‘Program Social Engineering Pengelolaan Sampah di Kecamatan Arcamanik Kota Bandung’ di Ruang Pertemuan Gedung LPPM Unisba, pada Senin (2/3/2026).

Social engineering merupakan pendekatan rekayasa sosial yang dirancang untuk membangun kesadaran sekaligus mendorong partisipasi kolektif masyarakat dalam pengelolaan sampah.

Pendekatan ini menitikberatkan pada peningkatan pemahaman, keterlibatan aktif warga, hingga terwujudnya integrasi nilai dan budaya keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menegaskan komitmen Unisba dalam membantu penanganan persoalan sampah di Kota Bandung melalui pendekatan teknologi dan perubahan perilaku masyarakat.

Menurutnya, Unisba telah mengembangkan teknologi reaktor plasma dingin sebagai inovasi pengolahan sampah ramah lingkungan yang tidak menghasilkan polusi udara maupun asap.

“Teknologi ini dapat mengolah sekitar satu ton sampah per jam dan berpotensi membantu mengurangi volume sampah di Kota Bandung yang mencapai lebih dari 1.500 ton per hari. Namun, teknologi saja tidak cukup tanpa perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya,” ujarnya.

Ketua Tim Task Force Zero Waste Unisba, Dr. Imam Indratno, S.T., M.T., menjelaskan bahwa efektivitas pengolahan sampah menggunakan reaktor sangat dipengaruhi oleh kondisi sampah yang masuk, khususnya kadar airnya. Berdasarkan hasil uji coba tim, mesin dapat bekerja optimal jika kadar air sampah berada pada kisaran 20–30 persen.

“Kami pernah menguji sekitar satu ton sampah dari dua triseda yang telah dicacah dan dialirkan menggunakan conveyor. Proses pengolahannya dapat diselesaikan sekitar satu setengah jam. Artinya, jika sampah dicacah dengan baik dan kadar airnya sekitar 20 persen, mesin dapat bekerja jauh lebih optimal,” jelasnya.

Ia menambahkan, komposisi sampah yang ideal untuk dimasukkan ke dalam reaktor adalah perbandingan satu banding empat, yakni satu bagian sampah organik dan empat bagian non-organik. Karena itu, program social engineering diarahkan untuk mendorong proses pemilahan sejak dari sumber agar kadar air sampah dapat ditekan.

Tim Task Force Zero Waste Unisba juga telah memetakan kondisi pengelolaan sampah di TPS Arcamanik yang mencakup sembilan RW. Dari hasil pemetaan tersebut, wilayah diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu baik, sedang, dan kurang baik.

“Sekitar 50 persen wilayah sebenarnya sudah menunjukkan pengelolaan yang cukup baik. Namun masih ada beberapa titik yang sampahnya sangat basah, sehingga perlu intervensi melalui edukasi dan pendampingan, termasuk kepada tim Gaslah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah),” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Dr. Herman Suryatman, M.Si., menilai persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Ia berharap Kecamatan Arcamanik dapat menjadi model percontohan pengelolaan sampah berbasis kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi.

“Peradaban sebuah masyarakat juga dapat dilihat dari bagaimana mereka mengelola sampahnya. Karena itu, kolaborasi seperti ini penting untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, S.T., M.M., juga mengapresiasi inisiatif Unisba. Ia menyebutkan bahwa sekitar 60 persen sampah di Kota Bandung merupakan sampah organik sehingga membutuhkan pengelolaan yang lebih terstruktur sejak dari sumbernya.

Person in Charge Social Engineering Tim Zero Waste Unisba, Dr. Titik Respati, drg., M.Sc.PH.,  pada kesempatan tersebut,   memaparkan rencana program social engineering dalam pengelolaan sampah di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. Paparan tersebut kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab bersama para peserta. [ ]

Dok foto: Unisba