“ARISE “ KETIKA PELAPUKAN MENJADI TITIK BANGKIT- KARYA GUSTIYAN

Ulasan oleh: Komroden Haro

Ketua Umum API (Asosiasi Pematung Indonesia)

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Karya patung Gustiyan  Rachmadi yang berjudul  “Arise” terlihat  menampilkan kontras visual yang kuat antara alam dan elemen buatan manusia. Secara fisik, patung ini terdiri dari dua elemen utama yang dipadukan, Gustiyan merekonstruksi tekstur dan bentuk potongan kayu yang patah secara alami dengan bentuknya vertikal, tidak beraturan, dengan tonjolan, retakan, dan alur pelapukan yang mendetail.

Permukaannya tidak halus, melainkan “kasar” secara visual, menirukan ketidaksempurnaan alam. Warna finishing patina pada elektroplating tembaga memberikan rona cokelat tua kemerahan, memperkuat kesan usia dan pelapukan material organik. Tiga buah bola dengan permukaan yang sangat halus dan reflektif disematkan di dalam celah-celah alur kayu tersebut.

Bola-bola ini memiliki finishing elektroplating nikel (atau tembaga dipolish), yang membuatnya berkilau seperti cermin dan memantulkan cahaya di sekitarnya. Bentuk geometris yang sempurna (bola) berdiri secara paradoks di dalam bentuk organik yang tidak sempurna (kayu lapuk). Patung ini bertumpu pada alas kotak padat yang memiliki tekstur permukaan terpalu (hammered finish), memberikan kesan berat dan stabilitas. Sebuah batang penyangga vertikal tipis menghubungkan alas dengan patung utama, membuatnya seolah-olah “melayang” atau “bangkit” dari dasar.

Karya Gustiyan Rachmadi yang berjudul Arise tersebut, pernah dipamerkan di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, Bali, pada bulan Juli 2026.  ARMA yang sudah berdiri sejak tahun 1996 atas gagasan Agung Gede Rai, ARMA memposisikan diri sebagai ruang pertemuan lintas budaya.

Selama 30 tahun museum ini konsisten menggelar pameran berskala nasional dan internasional, baik secara mandiri maupun melalui kolaborasi dengan lembaga lain. Pameran yang diikuti oleh Gustiyan Rachmadi merupakan pameran internasional yang melibatkan peserta dari 8 negara: Belanda, Swiss, Amerika Serikat, India, Kenya, Iran, Jerman, dan Indonesia.

Sebanyak 51 perupa turut andil dalam acara tersebut dengan menampilkan 80 karya. Pameran ini melibatkan tiga kurator: Jean Couteau dari Prancis, Warih Wisatsana yang berlatar belakang sastra, dan Wayan Seriyoga Parta, seorang kurator nasional yang pernah menangani pameran seniman ASEAN di Galeri Nasional Malaysia. Seluruh tahapan pameran—mulai dari penataan ruang, pencahayaan, penulisan label, hingga publikasi berupa poster, katalog, dan rilis media dikerjakan sesuai dengan standar pameran internasional.

Karya Gustiyan yang dipamerkan di ARMA menyimpan makna filosofis mendalam yang terjalin erat dengan tema pameran Prakriti–Pustaka–Padma (Alam, Pengetahuan, dan Proses Menjadi). Keindahan karya ini berawal dari gagasan Prakriti (Alam), ketika Gustiyan mengeksplorasi tekstur kayu yang patah dan retak akibat cuaca.

Pelapukan tersebut tidak dipandang sebagai kehancuran, melainkan bagian dari siklus hidup alami. Perpaduan antara garis-garis halus yang teratur dan goresan acak yang bebas mencerminkan sebuah harmoni alami. Melalui bentuk tersebut, publik diingatkan bahwa alam memiliki iramanya sendiri yang telah digariskan, di mana ketidaksempurnaan justru menjadi sumber keindahan yang otentik.

Pemaknaan tersebut berlanjut pada gagasan Padma melalui judul karya, Arise (Bangkit). Pelapukan pada kayu tidak serta-merta menandakan akhir dari segalanya. Kehadiran tiga bola berkilau di celah-celah kayu lapuk menjadi simbol “benih harapan” sekaligus “proses pertumbuhan baru”. Hal ini selaras dengan filosofi bunga teratai (padma) yang tumbuh dari lumpur namun mampu mekar dengan indah.

Arise mengalaskan proses becoming (menjadi), sebuah penegasan bahwa proses penciptaan selalu lahir dari pergulatan, ketekunan, dan penemuan baru di tengah kondisi yang tidak sempurna. Seluruh muatan konseptual ini diwujudkan melalui Pustaka (Pengetahuan). Detail guratan tanah liat pada tahap permodelan memperlihatkan dedikasi seniman dalam memahami dan merawat karakter alam.

Rangkaian proses teknis yang rumit, mulai dari pembuatan cetakan, elektroplating tembaga-nikel, pemberian patina, hingga pelapisan akhir (coating), menegaskan bahwa karya ini lahir dari akumulasi pengetahuan yang hidup dalam keterampilan tangan serta eksperimen artistik sehari-hari.

“Saya melihat karya ini merespons isu global mengenai ancaman distopia dan kehancuran peradaban akibat eksploitasi alam secara kontekstual. Arise hadir menawarkan kontra-narasi melalui bentuk kerapuhan yang estetis secara intrinsik, sekaligus membawa nilai ekstrinsik berupa harapan dan ajakan untuk bangkit dari keterpurukan.”

Karya “Arise” dari Gustiyan Rachmadi bukan sekadar objek estetik. Melalui kontras bentuk organik yang lapuk dengan bentuk geometris yang murni, seniman berhasil menghadirkan dialog filosofis tentang ketahanan, harapan, dan siklus kehidupan. Ia menunjukkan bahwa dalam setiap kehancuran alami, terdapat benih untuk bangkit kembali, sebuah keindahan yang menyentuh dan bermakna mendalam bagi publik yang mengapresiasinya.

Sebagai anggota API (Asosiasi Pematung Indonesia), saya berharap karya Gustiyan dapat memberikan kontribusi serta memperkaya khazanah seni patung, khususnya dari segi konseptual maupun metode dan teknik penggunaan material alternatif, seperti elektroplating pada karya “Arise.” [ ]