Dari Ruang Kepresidenan ke Panggung Pemuda: Misi Narasraya Raksaka Indonesia Menggembleng Fondasi Berpikir Kritis

Dari Ruang Kepresidenan ke Panggung Pemuda: Misi Narasraya Raksaka Indonesia Menggembleng Fondasi Berpikir Kritis

BERITAUNGGULAN.COM, JAKARTA – Selasa (27/10/2026) Memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98, Narasraya Raksaka Indonesia berkolaborasi dengan Yayasan Restorasi Jiwa Indonesia menggelar Narasraya Literasi 2026 di Ballroom Hotel Ra Suites Simatupang, Jakarta Selatan, Sabtu (24/10/2026). Mengusung semangat pembangunan karakter, kesehatan mental, dan penguatan fondasi berpikir kritis, ajang ini dihadiri oleh mahasiswa dari 28 perguruan tinggi se-Jabodetabek serta pegiat literasi dari pelbagai kalangan.

Organisasi Narasraya Raksaka Indonesia sendiri memiliki latar belakang historis yang unik. Awalnya dibentuk pada 1 April 1980, komunitas ini wadah perhimpunan bagi para mantan dan ajudan aktif para menteri serta pimpinan lembaga tinggi negara. Setelah perjalanan panjang selama lebih dari empat dekade, Narasraya resmi memperoleh legalitas sebagai organisasi sosial nasional pada awal April 2025 di bawah naungan Kementerian Hukum dan HAM. Melalui legalitas tersebut, para ajudan ingin mendedikasikan pengalaman, disiplin, dan rekam jejak kepemimpinan mereka untuk masyarakat luas, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha.

Rangkaian acara dimulai sejak pagi pukul 08.30 WIB dengan registrasi peserta dan penyanyian lagu Indonesia Raya, dilanjutkan pembacaan naskah Sumpah Pemuda oleh perwakilan mahasiswa. Pembukaan resmi ditandai secara simbolis lewat pemukulan gong setelah sambutan dari Sponsor (PT Dayananta Megah Karya), Ketua Umum Narasraya Raksaka Indonesia Suparjo, S.Ap., M.AP., serta Ketua Dewan Pembina Mayjen TNI Choirul Anam.

Sebagai wujud kepedulian sosial, acara diteruskan dengan penyerahan bantuan buku bacaan dan literasi pendidikan dari Yayasan Restorasi Jiwa Indonesia kepada perwakilan Sekolah Rakyat Kementerian Sosial yang diwakili oleh Sekretaris Itjen Kemensos, Ferry Syahminan, S.Sos., M.Si., serta empat perwakilan kampus unggulan.

“Literasi bukan sekadar membaca teks, melainkan kemampuan membaca keadaan, memilah fakta dari opini, dan mengolahnya menjadi gagasan yang cerdas,” tegas Ketua Umum Narasraya, Suparjo. Ia menekankan bahwa pengalaman berharga para ajudan lintas generasi harus diwariskan agar menjadi pelajaran nyata bagi kemajuan bangsa.

Sesi diskusi dibuka dengan Talkshow I bersama Syam Basrijal, Founder Restorasi Jiwa Indonesia, yang membawakan tema “Dari Membaca Buku Menuju Membaca Diri”. Syam menekankan pentingnya literasi diri—sebuah proses memahami pola pikir, mengenali emosi, dan meruntuhkan mental pembatas demi arah hidup yang lebih bermakna.

Setelah jeda ishoma dan kompetisi Sistem Kesadaran Diri yang dipandu oleh Nuryadi (Ajudan Purna Menteri Sosial), acara berlanjut ke Talkshow II bersama wirausahawan muda Zaki Wijaya, CEO PT InKanteen Technology Solutions. Dengan topik “Dream It, Build It, Make It Matter”, Zaki memotivasi mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman dan berani menyusun visi 5 hingga 10 tahun ke depan.

Sesi pemungkas menghadirkan AKBP Ema Rahmawati, S.IK dari Bareskrim Polri yang memaparkan empat dimensi pemuda berdaya: Literasi, Kompetensi, Integritas, dan Kepedulian. Rangkaian acara diakhiri dengan permainan interaktif Kahoot, pengumuman pemenang lomba video kreatif, serta penutupan resmi oleh panitia pelaksana. Narasraya Literasi 2026 menjadi bukti nyata bahwa keberdayaan pemuda bukan hanya diukur dari prestasi pribadi, melainkan dari manfaat nyata bagi lingkungan masyarakat.**red.djaddie