Oleh: Munarsih (Mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Manajemen Universitas Islam Bandung dan Dosen Universitas Pamulang Tangerang Selatan)
BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Momen Hari Raya Idul Fitri merupakan peluang strategis bagi pelaku usaha kuliner, khususnya pada segmen kue kering (kuker) dan camilan tradisional. Peningkatan permintaan masyarakat terhadap produk khas Lebaran membuka ruang yang luas bagi usaha rumahan seperti Nanda Cookies untuk berkembang, tidak hanya pada lingkup lokal, tetapi juga menjangkau pasar yang lebih luas melalui optimalisasi teknologi digital. Nanda Cookies merupakan usaha rumahan yang dirintis oleh seorang dosen dan saat ini juga sedang menempuh pendidikan doktoral (S3) pada salah satu perguruan tinggi swasta, penamaan “Nanda” yang diambil dari nama anak pendiri mencerminkan nilai kekeluargaan sekaligus memberikan identitas personal yang kuat dalam pembentukan merek.
Aspek ini menjadi nilai tambah tersendiri, karena usaha tidak semata berorientasi pada keuntungan ekonomi, melainkan juga mengandung nilai emosional dan makna personal.
Sebagai produsen camilan tradisional seperti kacang bawang, kacang kribo, dan biji ketapang, Nanda Cookies mencerminkan eksistensi usaha mikro dalam menjaga autentisitas cita rasa lokal sekaligus beradaptasi dengan dinamika pasar modern.
Tantangan yang dihadapi tidak hanya terbatas pada aspek produksi, tetapi juga mencakup strategi pemasaran yang efektif di tengah meningkatnya intensitas persaingan, terutama pada periode musiman seperti Idul Fitri.
Transformasi dari skala dapur rumahan menuju pasar digital menjadi langkah strategis yang relevan dengan perkembangan era saat ini. Pemanfaatan media sosial, seperti Instagram, Facebook dan WhatsApp memungkinkan perluasan jangkauan pasar tanpa batasan geografis.
Penyajian konten visual yang berkualitas, baik dalam bentuk fotografi produk maupun dokumentasi proses produksi, berperan penting dalam meningkatkan daya tarik sekaligus membangun kepercayaan konsumen terhadap kualitas produk yang ditawarkan.
Selain itu, penerapan strategi pemasaran berbasis narasi (storytelling) menjadi elemen penting dalam membangun kedekatan emosional dengan konsumen.
Penguatan cerita mengenai latar belakang pendiri sebagai akademisi, proses produksi yang higienis, penggunaan bahan baku berkualitas, serta pelestarian nilai tradisional, mampu memberikan nilai tambah pada produk.
Dalam konteks ini, produk tidak hanya diposisikan sebagai komoditas konsumsi, tetapi juga sebagai representasi nilai budaya, keluarga, dan dedikasi dalam berwirausaha.
Selanjutnya, implementasi strategi promosi musiman, seperti sistem pre-order, penawaran paket Lebaran, serta bundling produk menjadi instrumen yang efektif dalam meningkatkan volume penjualan.
Preferensi konsumen yang cenderung mengutamakan efisiensi dan nilai ekonomis menjadikan strategi tersebut sebagai daya tarik yang signifikan. Di samping itu, kualitas pelayanan yang responsif serta pengemasan produk yang rapi dan aman turut berkontribusi dalam membangun loyalitas pelanggan.
Meskipun demikian, keberhasilan pemasaran digital tidak hanya ditentukan oleh aktivitas promosi, tetapi juga oleh konsistensi dalam menjaga mutu produk seperti menggunakan bahan baku yang fresh/ bahan premium dan kualitas pelayanan, seperti pre order, pengantaran melalui jasa ekspedisi untuk pengantaran jarak jauh.
Reputasi yang positif akan mendorong terbentuknya promosi dari mulut ke mulut secara digital (electronic word of mouth) yang memiliki pengaruh besar terhadap proses pengambilan keputusan konsumen.
Dengan mengintegrasikan kekuatan nilai tradisional, latar belakang akademis, serta inovasi berbasis teknologi digital, Nanda Cookies memiliki potensi yang signifikan untuk berkembang menjadi merk yang kompetitif.
Momen Hari Raya Idul Fitri tidak hanya menjadi sarana peningkatan penjualan, tetapi juga sebagai kesempatan strategis untuk memperkuat citra merek dihadapan konsumen.
Pada akhirnya, transformasi dari usaha rumahan menuju pasar digital tidak sekadar mencerminkan perubahan metode pemasaran, melainkan menunjukkan kemampuan pelaku usaha dalam beradaptasi secara inovatif tanpa mengabaikan nilai-nilai autentik yang menjadi karakter utama produk.
Hal ini tidak terlepas dari saran serta kritik yang membangun untuk proses perbaikan agar dapat meningkatkan kualitas produk serta dapat menjangkau pasar yang lebih luas. (IG@munarsihnanda FB@Munarsih Tiktok@munarsih711)
Dok foto: Pribadi












