BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Upaya mewujudkan kampus berdampak kembali ditunjukkan Universitas Islam Bandung (Unisba) melalui gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Unisba menggelar Gebyar HI-CARE Zero Waste Arcamanik 2026 di GOR Gala Tangkas, Sport Jabar Arcamanik, Kota Bandung, Kamis (27/8/2026).
Mengusung tema “Dari Pilah Jadi Berkah”, kegiatan ini menjadi puncak sekaligus penutup Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Berdampak Unisba melalui HI-CARE Zero Waste di Kecamatan Arcamanik. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-68 Unisba.
Gebyar HI-CARE Zero Waste tidak hanya menjadi acara penutup, tetapi juga menjadi ruang untuk menampilkan hasil pendampingan dan mempertemukan berbagai pihak yang terlibat dalam pengelolaan sampah, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat, sekolah, mitra, hingga pekerja pengelola sampah.
Kegiatan ini menandai berakhirnya pendampingan di empat kelurahan di Kecamatan Arcamanik. Dalam kegiatan tersebut, Unisba menyerahkan model pengelolaan sampah kepada pemerintah daerah, memberikan apresiasi kepada 200 pekerja lapangan, serta mengajak kelompok baru melalui lomba video kampanye dan mini workshop bagi guru dan siswa sekolah menengah.

Program HI-CARE Zero Waste di Kecamatan Arcamanik merupakan kerja sama Unisba melalui Tim Zero Waste Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat. Program ini dilaksanakan di empat kelurahan yakni Kelurahan Sukamiskin, Kelurahan Cisaranten Bina Harapan, Kelurahan Cisaranten Endah, dan Kelurahan Cisaranten Kulon dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, sekolah, mitra, dan petugas pengelola sampah.
Salah satu agenda utama Gebyar HI-CARE Zero Waste Arcamanik 2026 adalah penyerahan Model Pengelolaan dan Penanganan Sampah HI-CARE Zero Waste Arcamanik dari Rektor Unisba Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., kepada Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat yang diterima Sekretaris Daerah Jawa Barat.
Rektor mengatakan, program ini merupakan bentuk kontribusi kampus dalam membantu menyelesaikan persoalan sampah di masyarakat. Dalam pelaksanaannya, dosen dan mahasiswa Unisba turun langsung mendampingi masyarakat di 54 RW di Kecamatan Arcamanik.
“Kalau dalam konteks yang sekarang adalah Kampus Berdampak. Inilah dampak yang signifikan yang kami berikan,” ujar Harits.
Program ini berlangsung selama tiga bulan. Kegiatannya diawali dengan pemetaan masalah sampah, kemudian dilanjutkan dengan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat.
Hasil pemetaan menunjukkan bahwa rumah tangga menjadi salah satu sumber terbesar sampah. Karena itu, masyarakat didorong untuk mulai memilah dan mengurangi sampah sejak dari rumah.
Unisba juga menggunakan pendekatan teknologi melalui reaktor plasma dingin yang ditempatkan di kawasan Arcamanik. Teknologi tersebut menjadi bagian dari Living Laboratory Unisba untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih bersih dan sehat.
Program ini menunjukkan hasil positif. Target awal pengurangan sampah dalam tiga bulan adalah 10 persen. Namun, hasilnya mencapai 16 persen.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat Ai Saadiyah Dwidaningsih, S.T., M.T., menyampaikan, pengurangan sampah di Arcamanik terus meningkat. Pada Juni 2026, persentasenya mencapai 24,81 persen.
Selain itu, pengolahan sampah organik juga meningkat. Jumlahnya naik dari 46,38 ton menjadi 92,32 ton dan mencapai 157,36 ton pada Juni.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan bahwa pengurangan sampah bisa dimulai dari lingkungan paling dekat, seperti rumah, RT, RW, kelurahan, dan komunitas.
Ia juga mengapresiasi peran Unisba dalam program tersebut. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat untuk belajar dan menghasilkan ilmu, tetapi juga harus hadir untuk menyelesaikan persoalan di masyarakat.
Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten Dr. Lukman, S.T., M.Hum., mengapresiasi program HI-CARE Zero Waste Unisba. Ia menilai perguruan tinggi memiliki ilmu, teknologi, dan solusi yang dapat digunakan untuk membantu menyelesaikan persoalan sampah.
Ia berharap model yang dikembangkan Unisba di Arcamanik dapat menjadi contoh bagi perguruan tinggi dan daerah lainnya.
Melalui HI-CARE Zero Waste, Unisba menunjukkan bahwa kampus berdampak dapat diwujudkan melalui program yang langsung dirasakan masyarakat. Dari kebiasaan memilah sampah, lahir perubahan yang diharapkan dapat terus berkembang dan diterapkan di wilayah lainnya. [ ]
Dok foto: Unisba











