BERITAUNGGULAN.COM, KABUPATEN BANDUNG — Desa Mekarmanik adalah salah satu dari 4 (empat) Desa di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung, di mana kami telah melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi yaitu Pendidikan, Penelitian (kasus lapangan) dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Yakni tepatnya pada 5 Juli – 18 Juli lalu, Program Studi Farmasi Fakultas Farmasi Dan Sains Universitas Islam Bandung (Unisba) telah menyelesaikan salah satu kurikulum wajibnya yaitu Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk Mahasiswa Semester 6 berbasis kasus lapangan dan PkM Dosen yang ditutup dengan kegiatan puncaknya yaitu “Pameran dan Penyuluhan Produk Inovasi Komoditas Pertanian Desa Mekarmanik”.
Desa Mekarmanik adalah salah satu dari 9 Pemerintahan Desa dan 2 Kelurahan di dalam wilayah administratif Kecamatan Cimenyan yang memiliki luas wilayah keseluruhan sebesar 74,8 km2. Topografi dari sebagian besar wilayah desa berada di tepi/sekitar kawasan hutan yang juga merupakan lereng-lereng dan puncak dengan ketinggian bervariasi dari 600 – 1.200 mdpl.
Geografis Desa Mekarmanik membuatnya menjadi lahan yang sangat subur untuk komoditas pertanian. Sekretaris Desa Bapak Ridwan Maulana, berujar bahwa “Desa kami memiliki komoditas pertanian khas yang paling terkenalnya adalah Kopi, kemudian Cengkeh lalu ada pembibitan Cengkeh yang tidak ada di Desa lainnya”.

Berdasarkan data statistik resmi desa, diperoleh informasi bahwa jumlah penduduknya sebesar 9.307 orang dengan sebaran rentang usia produktifnya (15-64 tahun) sebesar 6.649 orang (71,44%).
Populasi penduduk berdasarkan jenis pekerjaannya, diketahui bahwa terdapat 3 (tiga) kategori utamanya yaitu antara lain: (1) Belum/Tidak bekerja sejumlah 2.964 (31,8%) dengan 1.601 orang diantaranya adalah Laki-laki (54%); (2) Mengurus Rumah Tangga yaitu 2.629 (28,25%); dan (3) Buruh harian lepas yaitu 1.601 orang (17,02%).
Beranjak dari temuan ini, dapat diidentifikasi beberapa permasalahan, yakni: (1) potensi komoditas cengkeh yang menjadi salah satu kekhasan desa belum dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai guna dan nilai jual; (2) populasi penduduk dengan kategori pekerjaan yaitu mengurus rumah tangga cukup tinggi mencapai 2.629 orang (28,25%), sehingga diperlukan kegiatan produktif yang dapat dikembangkan dalam lingkungan rumah tangga; dan (3) cengkeh memiliki potensi untuk diolah menjadi produk herbal yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Berdasarkan data kasus lapangan tersebut, maka kami melakukan riset lapangan berupa pengolahan cengkeh menjadi sirup herbal. Produk ini diolah dengan memanfaatkan cengkeh sebagai bahan utama yang memiliki aroma khas serta secara tradisional telah digunakan dalam berbagai olahan herbal.
Sirup herbal cengkeh diharapkan dapat menjadi produk rumah tangga yang praktis untuk dikonsumsi serta memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai produk unggulan desa. Selain meningkatkan pemanfaatan komoditas cengkeh, kegiatan ini juga diharapkan dapat membuka peluang usaha bagi masyarakat, khususnya kelompok ibu rumah tangga, melalui pengolahan cengkeh menjadi produk bernilai tambah.
Setidaknya terdapat beberapa senyawa aktif yang menjadi kekhasan dari buah cengkeh, di antaranya Eugenol dan flavonoid. Eugenol merupakan senyawa utama yang terdapat dalam cengkeh dan memiliki aktivitas antioksidan serta antimikroba.
Senyawa ini juga memberikan aroma dan rasa khas pada cengkeh. Sementara itu, senyawa flavonoid merupakan kelompok senyawa yang memiliki sifat antioksidan dan berperan dalam membantu melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.
Secara empiris, cengkeh telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan herbal untuk membantu menjaga kesehatan tubuh. Cengkeh umumnya digunakan dalam bentuk seduhan atau campuran minuman herbal karena memiliki aroma yang khas dan rasa yang kuat.
Pemanfaatan cengkeh secara turun-temurun tersebut menjadi salah satu latar belakang kami untuk mengembangkan produk turunan cengkeh berupa Sirup Herbal Cengkeh. Produk ini diharapkan dapat menjadi alternatif olahan cengkeh yang praktis, memiliki cita rasa dan aroma khas, serta berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas cengkeh di lingkungan masyarakat.
Pembuatan Sirup Herbal Cengkeh dilakukan dengan memanfaatkan buah cengkeh sebagai bahan utama. Cengkeh terlebih dahulu dibersihkan untuk menghilangkan kotoran yang menempel, kemudian direbus atau diekstraksi menggunakan air hingga diperoleh ekstrak cengkeh yang berwarna kecokelatan dan memiliki aroma khas.
Ekstrak tersebut kemudian disaring untuk memisahkan ampas cengkeh. Selanjutnya, ekstrak cengkeh dimasak kembali dengan penambahan gula hingga diperoleh larutan dengan tingkat kemanisan dan kekentalan yang sesuai.
Proses pemasakan dilakukan menggunakan api kecil sambil diaduk secara perlahan hingga gula larut dan sirup mencapai konsistensi yang diinginkan. Setelah matang, sirup didinginkan dan dikemas dalam wadah yang bersih dan tertutup.
Pengolahan buah cengkeh menjadi sirup herbal diharapkan tidak hanya menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan dalam rumah tangga, tetapi juga menjadi salah satu bentuk diversifikasi produk berbahan dasar cengkeh.
Dengan adanya pengolahan tersebut, cengkeh tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah dan berpotensi menjadi produk unggulan masyarakat desa.
Kegiatan “Pameran dan Penyuluhan Produk Inovasi Komoditas Cengkeh Batu Desa Mekarmanik” yang dihadiri oleh Perangkat Kecamatan Cimenyan, Perangkat Desa, Ketua RW Desa, Karang Taruna Mekar Harapan, Kelompok Tani Desa, Ibu-ibu Kader Desa ini dirasakan manfaatnya oleh masyarakat yang dapat dilihat dari antusiasme para peserta terutama para ibu-ibu .
Kepala Desa Mekarmanik Bapak Nanang Suryana, S.IP. berujar “Kami sangat berterima kasih atas edukasi yang telah diberikan oleh Program Studi Farmasi Unisba kepada kami, dan semoga kegiatan yang bermanfaat ini dapat terus berkelanjutan untuk Desa kami”. Para peserta juga mengungkapkan bahwa “cara pembuatan yang diajarkan tidak sulit, dan kebutuhan alat bahan yang digunakan pun mudah diperoleh”.
Bapak apt. Gita Cahya Eka Darma, S.Farm., M.Si. selaku Ketua Tim KKN dan PkM Dosen Desa Mekarmanik mengutarakan bahwa “Tahun ini adalah tahun kedua kami diterima dengan baik oleh Desa Mekarmanik dalam penyelenggaraan KKN, dan baru pertama kalinya dilaksanakan PkM Dosen Farmasi. Harapannya tahun depan kami dapat kembali memberikan manfaat yang berdampak positif kepada masyarakat desa dari keilmuan yang kami miliki”. [ ]
Dok foto: Unisba











