BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG – Syamsi Dhuha Foundation (SDF) – lembaga nirlaba yang berfokus pada kesehatan, pendidikan dan pemberdayaan, kembali serahkan Beasiswa SDF XVI senilai total Rp. 199 juta kepada 51 penerima – 33 mahasiswa/pelajar umum serta 18 mahasiwa/pelajar penyandang difabel netra dan autoimun, lusa 23 Agustus di Bandung.
Sejak 2012, SDF telah salurkan lebih dari Rp. 2,4 Milyar kepada 379 penerima beasiswa. Mereka adalah mahasiwa dan pelajar berprestasi yang butuh dukungan finansial tuk kelancaran studinya. Simbolisasi penyerahan beasiswa disaksikan oleh perwakilan mitra dari Direktorat Kemahasiswaan (Ditmawa) ITB, SMAN 1, SMAN 5, SMAN 3, SMAN 19, SMAN 20 – Bandung, serta relawan dan umum.
“Disamping program Beasiswa, saat ini SDF pun sedang menjalankan program Akselerasi Pendidikan Indonesia Timur Go Global berupa pelatihan koding dan kecerdasan artifisial bagi siswa SMA serta para guru, berkolaborasi dengan Educourse.id. Bekerjasama dengan Difabelajar, SDF fasilitasi pula pelatihan daring AI for The Blind, yang baik peserta maupun pengajarnya adalah difabel netra. Lebih dari itu, bulan Mei lalu, SDF telah rampungkan bantuan perbaikan ruang kelas, fasilitas belajar bagi MI Cangkuang, Kab. Bandung Barat yang sejak terdampak gempa di 2025 belum diperbaiki. Bagi para penerima Beasiswa SDF, di kelas XII SMA dapat mengikuti program pendukung bimbingan belajar gratis untuk membantu mereka mempersiapkan ujian ke perguruan tinggi. Mereka juga diberi kesempatan tuk ikut program pengembangan diri, juga temukan potensinya tuk asah kepekaan sosial dan kecerdasan emosional serta spiritualnya,” jelas Laila Panchasari, Manager SDF.

Untuk bangkitkan kesadaran dan motivasi, SDF hadirkan dr. Dani Ferdian, M.K.M., Sp.KKLP., Subsp. COPC, seorang dokter, dosen, dan konsultan di bidang kesehatan masyarakat yang aktif kembangkan inovasi kesehatan berbasis masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.
Kali ini dr. Dani bagikan pengalaman beliau bertajuk ‘Bergerak dari Hati, Memimpin untuk Berdampak’, “Volunteerism tidak sekadar tentang bekerja tanpa dibayar atau mengikuti kegiatan sosial. Bagi saya, volunteerism adalah keberanian untuk berikan sebagian dari waktu, pikiran, kompetensi, dan kemampuan yang kita miliki untuk sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan diri sendiri.
Volunteerism mengajarkan kita untuk peduli, tetapi leadership mengajarkan bagaimana kepedulian itu dapat diubah menjadi perubahan. Pemimpin yang baik bukan membuat orang lain terus bergantung kepadanya. Pemimpin yang baik justru membuat semakin banyak orang mampu menjadi pemimpin bagi lingkungannya. Jangan hanya bertanya apa yang bisa kita ubah di Indonesia.
Mulailah dengan pertanyaan yang lebih sederhana: siapa yang kehidupannya bisa menjadi sedikit lebih baik karena kita hadir? Dari perjalanan saya sejak masih menjadi mahasiswa kedokteran tingkat dua pada tahun 2009 dengan membangun Volunteer Doctors, dalam menerjemahkan tiga prinsip penting SDF dalam volunteerism dan leadership yang saya pahami, adalah:
• Berhati Emas: memiliki kepekaan untuk melihat, mendengar, dan peduli terhadap persoalan di sekitar kita.
• Berpikir Bernas: tidak berhenti pada niat baik, tetapi mampu memahami masalah secara kritis, mencari akar persoalan, menggunakan ilmu dan data, serta memilih solusi yang benar-benar dibutuhkan.
• Bekerja Cerdas: menyadari bahwa persoalan besar tidak mungkin diselesaikan sendirian. Seorang pemimpin harus mampu membangun tim, mempertemukan berbagai pihak, memberdayakan masyarakat, dan menciptakan sistem agar dampak dapat terus bertahan.
Bagi The Scholars, beasiswa seharusnya tidak hanya dipandang sebagai bantuan pendidikan, tetapi juga sebagai sebuah kepercayaan. Dukungan yang diterima hari ini tidak harus dikembalikan kepada orang yang sama, tetapi suatu hari dapat diteruskan kepada orang lain melalui ilmu, waktu, kompetensi, kesempatan, maupun kebermanfaatan,” tutur dr. dani lebih lanjut.
“Fokus SDF di bidang kesehatan yang awalnya hanya pada penyandang autoimun dan difabel netra, diperluas lagi ke bidang kesehatan secara umum. Rangkaian program yang sudah dilakukan antara lain hadirkan psikiater di SMAN 19 Bandung, membedah kesehatan mental, ajak para siswa untuk memahami dan mengenali emosi diri serta membangun pola pikir yg sehat.
Kami berupaya bantu atasi masalah ini karena menurut WHO, secara global, satu dari tujuh remaja berusia 10-19 tahun mengalami gangguan mental, yang menyumbang 15% dari beban penyakit global pada kelompok usia ini. Kami pun adakan serangkaian seri webinar mengenai TBC, Diabetes, Kesehatan Mental serta 6 sesi pendampingan online bersama penyintas, psikolog dan psikiater melalui ‘Ruang Belajar Bahagia’.
Adapun di bidang pemberdayaan, SDF bantu usaha keluarga penyandang lupus supaya dapat terus jalani pengobatannya. Selain itu, juga hadirkan 8 praktisi dalam seri webinar ‘Impact Talks’, untuk berikan wawasan kewirausahaan sosial terutama bagi Gen-Z dalam membangun karir bermakna, bagaimana kerja profesional dan dampak sosial bisa berjalan bersama,” ungkap Dian Syarief, Founder SDF yang juga penyandang lupus dan low vision.
Para penerima beasiswa umum dan khusus, sampaikan harapan mereka: “Saya amat bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga besar SDF, bantuan ini memberikan ketenangan finansial yang sangat berarti bagi saya dan keluarga. Kegiatan SDF pun selaras dengan visi program pengabdian masyarakat dan rencana Tugas Akhir saya di program akselerasi S1-S2 (fast track), Desain Interior ITB,” tutur Azam.
Sedangkan Annisa, penyandang autoimun, mahasiswi Teknologi Pangan, Unpas, utarakan, “Program ini tidak hanya membantu secara finansial, tetapi juga memberi dukungan bagi para penyandang autoimun dan low vision agar memiliki hak dan kesempatan yang sama dalam pendidikan serta membantu mereka wujudkan mimpinya.” [ ]
Dok foto: SDF












