Jahitan Rapi, Tubuh Tetap Sehat: Mengapa Ergonomi Penting bagi Pekerja Konveksi Informal

Oleh: Titik Respati, Budiman, Ganang Ibnusantosa, Susan Fitriyana, R Kince

Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Di balik pakaian yang kita kenakan, ada pekerja yang menghabiskan berjam-jam duduk di depan mesin jahit. Tangan bergerak cepat mengikuti pola, kaki terus menginjak pedal, sementara leher menunduk dan punggung bertahan dalam posisi yang hampir tidak berubah. Aktivitas tersebut terlihat ringan karena dilakukan sambil duduk. Padahal, duduk terlalu lama dengan posisi yang tidak sesuai dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius.

Keluhan nyeri pinggang, pegal pada leher, kesemutan pada tangan, dan kaku pada bahu sering dianggap sebagai bagian biasa dari pekerjaan. Banyak pekerja memilih bertahan, mengoleskan obat pereda nyeri, atau beristirahat sebentar sebelum kembali bekerja. Namun, keluhan yang muncul berulang kali dapat menjadi tanda adanya gangguan muskuloskeletal, yaitu gangguan pada otot, sendi, tendon, saraf, atau struktur tubuh lain yang berkaitan dengan sistem gerak.

Masalah ini perlu mendapat perhatian khusus pada industri konveksi informal. Di Desa Kutawaringin, Kabupaten Bandung, misalnya, terdapat sentra industri yang dikenal sebagai Kampung Jeans. Diperkirakan terdapat sekitar 300–500 pekerja konveksi yang bekerja di rumah maupun di lokasi usaha milik pengusaha. Penelitian sebelumnya pada pekerja di wilayah tersebut menunjukkan bahwa punggung bawah merupakan salah satu bagian tubuh yang paling sering dikeluhkan.

Risiko yang Tidak Selalu Terlihat

Kecelakaan kerja biasanya dibayangkan sebagai kejadian mendadak, seperti terjatuh, terkena mesin, atau tertimpa benda. Padahal, penyakit akibat kerja juga dapat berkembang perlahan. Posisi duduk yang salah mungkin tidak langsung menimbulkan cedera pada hari pertama. Dampaknya dapat muncul setelah dilakukan setiap hari selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.

Pekerja jahit umumnya menghadapi beberapa faktor risiko secara bersamaan. Mereka dapat duduk dalam waktu lama, melakukan gerakan tangan berulang, menundukkan kepala untuk melihat jahitan, membungkukkan badan ke depan, serta mempertahankan bahu dalam posisi terangkat karena meja atau mesin tidak sesuai dengan tinggi tubuh.

Risiko akan semakin besar ketika pekerja jarang beristirahat, kurang melakukan peregangan, atau tidak mengetahui seperti apa posisi kerja yang lebih aman. Lingkungan kerja yang sempit, pencahayaan yang kurang, suhu panas, kebisingan, serta tekanan untuk menyelesaikan target produksi juga dapat memperberat kelelahan tubuh. Faktor individu seperti usia, kebiasaan berolahraga, status gizi, dan kebiasaan merokok turut memengaruhi munculnya keluhan otot dan sendi.

Masalahnya, pekerja informal sering kali tidak memiliki akses yang memadai terhadap program kesehatan dan keselamatan kerja. Berbeda dengan perusahaan besar yang memiliki petugas keselamatan kerja, pemeriksaan kesehatan rutin, serta standar stasiun kerja, usaha konveksi rumahan biasanya menggunakan fasilitas yang tersedia. Kursi rumah tangga, meja sederhana, ruang produksi yang terbatas, dan mesin jahit yang digunakan bertahun-tahun menjadi bagian dari keseharian.

Ergonomi Bukan Kemewahan

Ergonomi merupakan upaya menyesuaikan pekerjaan, alat, dan lingkungan dengan kemampuan tubuh manusia. Prinsipnya sederhana: pekerjaan seharusnya disesuaikan dengan pekerja, bukan tubuh pekerja yang terus dipaksa menyesuaikan diri dengan pekerjaan.

Penerapan ergonomi tidak selalu membutuhkan kursi mahal atau renovasi besar. Perubahan sederhana dapat memberi manfaat. Kursi sebaiknya memiliki sandaran yang menopang punggung. Tinggi kursi perlu disesuaikan agar kedua telapak kaki dapat menapak dengan nyaman. Apabila kaki menggantung, pekerja dapat menggunakan pijakan sederhana yang kokoh.

Posisi meja dan mesin juga perlu diperhatikan. Meja yang terlalu tinggi membuat bahu terus terangkat, sedangkan meja yang terlalu rendah menyebabkan tubuh membungkuk. Bahan yang sedang dijahit sebaiknya dapat terlihat tanpa membuat leher terus menunduk tajam. Peralatan yang sering digunakan perlu ditempatkan dalam jangkauan tangan agar pekerja tidak berulang kali memutar atau membungkukkan tubuh.

Punggung idealnya tetap tersangga, bahu rileks, siku berada pada posisi yang nyaman, dan pergelangan tangan tidak terus-menerus menekuk. Tidak ada satu ukuran meja atau kursi yang cocok untuk semua orang. Karena itu, penyesuaian harus mempertimbangkan tinggi badan, bentuk tubuh, jenis mesin, dan aktivitas masing-masing pekerja.

Jangan Menunggu Sampai Nyeri

Tubuh membutuhkan variasi gerak. Bahkan posisi yang dianggap baik dapat menimbulkan masalah apabila dipertahankan terlalu lama. Karena itu, pekerja perlu mengubah posisi secara berkala dan mengambil jeda singkat.

Peregangan sederhana dapat dilakukan selama tiga sampai lima menit. Leher dapat digerakkan perlahan ke kanan dan kiri. Bahu dapat diputar, tangan diluruskan, jari-jari diregangkan, serta punggung ditegakkan setelah lama membungkuk. Pekerja juga dapat berdiri dan berjalan singkat sebelum kembali duduk.

Jeda kerja tidak harus panjang. Yang penting dilakukan secara rutin. Istirahat singkat dapat membantu mengurangi ketegangan otot, memperbaiki aliran darah, dan mengembalikan konsentrasi. Dalam pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi, kondisi tubuh yang lebih nyaman juga dapat membantu mengurangi kesalahan.

Pekerja perlu mengenali tanda-tanda awal gangguan, seperti nyeri yang terus berulang, kesemutan, mati rasa, kelemahan pada tangan, kaku setelah bekerja, atau nyeri yang mengganggu tidur. Keluhan yang menetap tidak seharusnya hanya ditahan. Pemeriksaan ke fasilitas kesehatan diperlukan agar penyebabnya dapat dinilai dan ditangani lebih awal.

Pengetahuan Harus Mudah Dipraktikkan

Penyuluhan kesehatan kerja tidak cukup hanya berisi larangan untuk membungkuk atau anjuran agar duduk tegak. Pekerja perlu memperoleh contoh yang sesuai dengan kondisi tempat kerja mereka. Edukasi akan lebih efektif apabila disertai praktik mengenali postur yang tidak aman.

Pekerja dapat diminta memperagakan posisi kerja sehari-hari, kemudian bersama-sama menilai bagian tubuh yang terlalu menunduk, terangkat, terpuntir, atau tidak tersangga. Dari situ, koreksi dapat dilakukan menggunakan sumber daya sederhana yang tersedia. Pendekatan semacam ini lebih mudah diterapkan dibandingkan memberikan standar ideal yang tidak sesuai dengan kondisi usaha rumahan.

Media pengingat juga dapat membantu. Poster mengenai posisi duduk, pengaturan kursi, dan gerakan peregangan dapat ditempel di ruang produksi. Stiker kecil di dekat mesin jahit dapat mengingatkan pekerja untuk memperbaiki posisi dan mengambil jeda. Pesannya tidak harus rumit. Kalimat sederhana seperti “Duduk Tegak, Jahitan Rapi” dapat menjadi pengingat harian.

Kesehatan Pekerja adalah Investasi

Kesehatan kerja sering dianggap sebagai biaya tambahan. Padahal, pekerja yang mengalami nyeri berkepanjangan dapat kehilangan produktivitas, membutuhkan pengobatan, lebih sering tidak masuk kerja, atau bahkan tidak mampu melanjutkan pekerjaannya. Bagi usaha kecil, kehilangan satu pekerja terampil dapat memengaruhi seluruh proses produksi.

Perlindungan kesehatan pekerja informal membutuhkan kerja bersama. Pemilik usaha dapat memperbaiki stasiun kerja secara bertahap dan memberikan kesempatan istirahat. Puskesmas dapat memperkuat edukasi, deteksi dini, dan pendampingan kesehatan kerja.

Perguruan tinggi dapat membantu mengembangkan metode pelatihan dan teknologi sederhana yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sementara itu, pekerja perlu dilibatkan sebagai pihak yang paling memahami kondisi pekerjaan mereka.

Industri konveksi memiliki peran penting dalam membuka lapangan kerja dan menopang ekonomi keluarga. Namun, produktivitas tidak boleh dibayar dengan nyeri yang dianggap normal. Pakaian yang baik tidak hanya dihasilkan oleh mesin dan keterampilan menjahit, tetapi juga oleh pekerja yang sehat.

Sudah saatnya kesehatan kerja di sektor informal tidak ditempatkan sebagai persoalan tambahan. Ergonomi sederhana, kebiasaan melakukan peregangan, dan kemampuan mengenali postur berisiko dapat menjadi langkah awal. Jahitan boleh terus berjalan, tetapi tubuh pekerja juga harus dijaga agar tetap kuat, nyaman, dan sehat. [ ]

Dok foto: Unisba