Keragaman Mewarnai Langkah di Kampus Biru Unisba

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Memulai kehidupan sebagai mahasiswa di lingkungan baru menjadi pengalaman tersendiri bagi setiap orang. Tahun ini, lima mahasiswa baru non-Muslim memilih Universitas Islam Bandung (Unisba) sebagai tempat untuk melanjutkan pendidikan.

Dua di antaranya adalah I Gusti Agung Ayu Lely Pramesthi, mahasiswa Fakultas Kedokteran yang beragama Hindu, dan Josuan Samuela Tandiah, mahasiswa Teknik Pertambangan yang beragama Kristen Protestan.

Keduanya datang dari daerah dan latar belakang yang berbeda serta membawa cita-cita masing-masing. Meski begitu, mereka memiliki kesamaan, yaitu memilih Unisba sebagai tempat untuk belajar dan berkembang.

Kehadiran mahasiswa dengan latar belakang agama yang berbeda juga menunjukkan Unisba sebagai kampus yang terbuka dan inklusif. Di tengah identitasnya sebagai perguruan tinggi Islam, Unisba menjadi ruang belajar yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk saling mengenal, menghargai, dan tumbuh bersama.

Bagi Lely, menjadi dokter bukanlah cita-cita yang baru muncul ketika memilih Fakultas Kedokteran. Sejak kecil, ia sudah memiliki keinginan untuk menekuni profesi tersebut.

Lingkungan keluarganya pun turut memperkuat keinginannya. Sang ibu pernah bekerja sebagai perawat, sementara ayahnya hingga kini masih menjalankan praktik sebagai akupunkturis di Bali.

Pilihan terhadap Unisba sendiri datang melalui rekomendasi keluarga. Selain memiliki keluarga di Bandung, Lely juga sudah cukup mengenal kota tersebut. Ia pernah tinggal di Bandung selama sekitar satu tahun untuk menjalani latihan bersama Jawa Barat sebagai persiapan mengikuti PON. “Saya sempat tinggal di Bandung cukup lama,” tuturnya.

Di luar dunia akademik, Lely juga merupakan atlet fin swimming. Ia telah menekuni renang sejak sekolah dasar dan mulai serius berprestasi sejak kelas satu SMP. Berbagai kompetisi tingkat daerah hingga nasional pernah diikutinya. Bahkan, ia pernah membawa nama Papua dalam ajang PON serta meraih medali pada kejuaraan internasional di Thailand dan Taiwan. Puluhan medali telah dikoleksinya.

Kesibukan sebagai mahasiswa kedokteran nantinya tidak membuat Lely ingin meninggalkan olahraga. Ia justru telah menyiapkan cara untuk tetap menjalani keduanya. Lely memilih berlatih sejak dini hari sebelum mengikuti perkuliahan. “Biasanya latihan dari subuh,” katanya.

Kelak, ia berharap bisa menyelesaikan Pendidikan dan profesi kedokterannya paling lama dalam lima setengah tahun. Untuk bidang spesialis, Lely masih mempertimbangkan beberapa pilihan, termasuk anestesi dan bedah plastik.

Sebagai mahasiswa Hindu yang masuk ke perguruan tinggi Islam, Lely menyadari bahwa dirinya akan berada dalam lingkungan dengan nuansa keislaman yang kuat. Namun, ia tidak melihat perbedaan tersebut sebagai sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

Pengalamannya bersekolah di lingkungan dengan latar belakang agama yang beragam membuatnya cukup terbiasa dengan perbedaan.

“Pasti mengikuti,” ujarnya ketika ditanya mengenai aturan dan lingkungan kampus.

Menariknya, salah satu alasan Lely memilih Unisba justru berkaitan dengan lingkungan pertemanan. Setelah melewati masa SMA, ia ingin menemukan lingkungan yang menurutnya lebih aman dan sehat. “Di Unisba saya merasa lebih aman,” katanya.

Bagi Lely, menjadi mahasiswa baru berarti kesempatan untuk memperluas pertemanan, mendapatkan dukungan dari teman maupun dosen, serta menjalani perkuliahan dengan baik tanpa menjadikan perbedaan sebagai batas.

Cerita berbeda datang dari Josuan Samuela Tandiah. Berasal dari Pangkalpinang, Bangka Belitung, Josuan memilih Bandung karena menyukai karakter kotanya yang sejuk dan nyaman untuk kehidupan mahasiswa.

Unisba kemudian menjadi pilihannya karena ia menilai kampus tersebut memiliki reputasi yang baik, sementara Program Studi Teknik Pertambangan yang diminatinya memiliki akreditasi yang menurutnya sangat baik.

Pilihan jurusan pun berkaitan erat dengan rencana masa depannya. Josuan ingin bekerja di sektor pertambangan, khususnya di daerah asalnya, Bangka Belitung, yang dikenal dengan industri timah.

Namun, memasuki kampus Islam sempat membuatnya memiliki kekhawatiran tersendiri.

Sejak TK hingga SMA, Josuan bersekolah di lingkungan Katolik. Karena itu, ia sempat membayangkan akan mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan kampus yang mayoritas Muslim.

Kekhawatiran tersebut perlahan hilang ketika ia datang ke Unisba untuk mengambil Kartu Tanda Mahasiswa (KTM).

“Saya melihat teman-teman Unisba dan kakak-kakak tingkat Unisba menyambut saya dengan baik,” ujarnya.

Pengalaman sederhana tersebut justru memberikan kesan penting bagi Josuan. Ia menjadi lebih optimistis menghadapi kehidupan barunya sebagai mahasiswa.

Bagi Josuan, keberagaman bukan sesuatu yang harus dihindari. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kesempatan untuk mengenal orang lain lebih jauh.

Ia berharap dosen maupun lingkungan kampus tidak menjadikan perbedaan sebagai penghalang dalam berkomunikasi dan berdiskusi.

“Menjadikan perbedaan sebagai pintu untuk membuka diri lagi untuk menjadi jembatan memahami satu sama lain,” katanya.

Pandangan tersebut menjadi salah satu harapan Josuan selama menjalani perkuliahan di Unisba. Ia ingin bertemu dengan mahasiswa dari berbagai suku, budaya, dan agama, sekaligus menggunakan masa t’aaruf sebagai kesempatan untuk membangun relasi dengan sesama mahasiswa baru.

Bahkan, mahasiswa yang sebelumnya belum aktif berorganisasi ini mulai tertarik untuk mencoba kegiatan kemahasiswaan. Ia mengaku tertarik dengan organisasi mahasiswa yang berkaitan dengan bidang studinya.

Mereka datang ke Unisba dengan cerita yang berbeda. Lely membawa mimpi menjadi dokter sekaligus pengalaman sebagai atlet, sedangkan Josuan datang dengan cita-cita bekerja di dunia pertambangan dan pengalaman memenangkan lomba kreativitas melalui karya daur ulang sampah menjadi kursi.

Lely dan Josuan datang dari latar belakang pendidikan dan agama yang berbeda dengan mayoritas mahasiswa di Unisba. Namun, perbedaan itu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk beradaptasi dan berteman.

Bagi keduanya, kuliah di Unisba bukan hanya soal belajar dan meraih gelar. Ada pengalaman baru, pertemanan, dan kesempatan untuk mengenal lingkungan yang berbeda.

Perjalanan Lely dan Josuan sebagai mahasiswa baru pun baru saja dimulai di Unisba. [ ]

Dok foto: HUMAS