KDEI Taiwan Dukung Program Internasional UNISA Bandung, Ingatkan Pentingnya Regulasi

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG  (UNISA-BANDUNG.AC.ID) — Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) Taiwan menyambut baik dan mendukung program kerja sama yang dilakukan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Bandung dengan sejumlah perusahaan dan lembaga di Taiwan.

Demikian dikemukakan Kepala KDEI Taipei, Arif Sulistiyo kepada Rektor UNISA Bandung, Prof. Dr. Sitti Syabariyah, S.Kp., MS.Biomed dalam pertemuannya di kantor KDEI Taipei, Rabu (17/6/2026).
Arif Sulistiyo mengatakan, di Taiwan ada banyak perusahaan dan lembaga bisnis yang layak dijalin kerja sama oleh UNISA Bandung dalam kaitannya dengan realisasi Tridharma Perguruan Tinggi. Hal ini tentunya merupakan peluang yang prospektif sekaligus tantangan bagi kampus UNISA Bandung.

“Di Taiwan ada sekitar empat ratus ribu Warga Negara Indonesia (WNI). Mereka mayoritas di sini bekerja. Selebihnya adalah studi,” ujar Arif Sulistiyo yang didampingi Novrizal, Kepala Bidang Perlindungan WNI dan Penerangan Sosial Budaya KDEI Taipei.

Seraya mengutip data dan informasi yang dimiliki KDEI Taipei, Arif Sulistiyo mengatakan, program kerja sama itu positif. Namun, program tersebut juga harus diwujudkan dengan cermat dan sesuai regulasi yang terkait di pemerintahan Indonesia dan Taiwan. Alasannya, KDEI Taipei mencatat sejumlah kasus yang menimpa WNI di Taiwan. Misalnya, ada sejumlah WNI yang terlantar dan bahkan menjadi korban penipuan mafia tenaga kerja.

“Konsep MoU-nya harus jelas, dicermati, dan sesuai regulasi. Ketika realisasinya, juga harus ada monitoring dan evaluasi yang rutin. Lakukanlah komunikasi dan koordinasi dengan instansi terkait, khususnya dengan KDEI Taipei,” tutur Arif Sulistiyo.

Dalam konteks ini, Novrizal mengemukakan bahwa kejelasan klausul dalam MoU antarpihak seperti UNISA Bandung dengan perusahaan atau lembaga di Taiwan itu sangat penting. Jangan sampai timbul problem yang akhirnya membuat WNI datang dan memohon perlindungan ke KDEI Taipei.

“Contoh problemnya, WNI yang overstay dan akhirnya berurusan dengan aparat keamanan di sini,” ujar Novrizal, sambil menambahkan bahwa WNI atau mahasiswa yang mengikuti program UNISA Bandung hendaknya juga harus mampu minimal berbahasa Inggris serta paham sosial budaya masyarakat Taiwan.

Sementara itu, Rektor UNISA Bandung, Prof. Dr. Sitti Syabariyah, S.Kp., MS.Biomed mengemukakan kesiapan kampus UNISA Bandung melakukan komunikasi dan koordinasi yang baik dengan KDEI Taipei serta perusahaan maupun lembaga terkait lainnya.

“Terima kasih atas sambutan positifnya. Kami siap merealisasikan masukan dari KDEI Taipei sebagai ikhtiar realisasi Tridharma Perguruan Tinggi,” kata Sitti yang didampingi Resi Roswulan PN, Kepala Kantor Kerja Sama dan Urusan Internasional (KUI) UNISA Bandung.

Sitti mengatakan, maksud dan tujuan kedatangannya selain untuk silaturahmi, juga untuk menjajaki berbagai peluang kerja sama di Taiwan.

“Untuk program yang dalam waktu dekat kami laksanakan adalah Program Internship dan KKN Internasional bekerja sama dengan sebuah perusahaan di Taipei. Ya, sejumlah mahasiswa UNISA Bandung akan mengikuti Program Internship di perusahaan di Taipei,” ujar Sitti.

Upaya penguatan jejaring internasional dan pengembangan program pengabdian kepada masyarakat bagi mahasiswa UNISA Bandung ini, menurut Sitti, juga dilaksanakan oleh UNISA Bandung di beberapa negara lainnya, antara lain Malaysia.

Untuk program Internship, ungkap Sitti, dari hasil seleksi beberapa tahap dinyatakan lulus sebanyak 10 mahasiswa. Mereka adalah mahasiswa program studi pariwisata yang masih aktif kuliah di UNISA Bandung.
“Saat ini mereka sedang menunggu keluarnya visa ke Taiwan,” kata Sitti.

Selama kunjungan kerja di Taiwan, ujar Sitti, rencananya ia juga akan bersilaturahmi serta berdiskusi dengan pengurus Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Taiwan.

“Kami ingin berdiskusi mengenai peluang, mekanisme, dan bentuk kolaborasi dalam penyelenggaraan program internasional yang melibatkan mahasiswa dan sivitas akademika UNISA Bandung,” kata Sitti.
Selain itu, kunjungan ini juga akan membahas kemungkinan realisasi program lainnya sebagaimana yang pernah terlaksana dengan dukungan dan fasilitasi PCIM Malaysia.

“Kami pun ingin mengidentifikasi potensi program pengabdian masyarakat, pendidikan, dakwah, pemberdayaan komunitas Indonesia, serta kegiatan sosial lainnya yang dapat dilaksanakan secara kolaboratif di Taiwan,” tutur Sitti. [ ]

Dok foto: UNISA Bandung