PSIKOEDUKASI
Oleh: Elfreda Haura Fawwaz, S.Psi.
Program Studi Pendidikan Profesi Psikolog, Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung
BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Setiap hari Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.300 ton sampah, dan sebagian besar di antaranya adalah sampah organik dapur. Di tengah keterbatasan tempat pembuangan akhir, lahir satu solusi yang sederhana namun menjanjikan: rumah maggot, fasilitas pengolahan sampah organik yang memanfaatkan larva Black Soldier Fly untuk mengurai limbah menjadi sesuatu yang bernilai. Namun di balik tumpukan biopon dan aroma sampah yang sedang terolah, ada cerita yang jarang kita perhatikan — cerita tentang sekelompok orang yang setiap hari bekerja keras menjaga lingkungan, sekaligus diam-diam memendam pertanyaan: apakah saya benar-benar bagian dari tempat ini?
Di sebuah rumah maggot yang dikelola secara komunal di salah satu kelurahan di Kota Bandung, para petugas terlihat kompak menyelesaikan pekerjaan. Mereka membagi tugas dengan rapi: ada yang mengangkut dan memilah sampah, ada yang merawat maggot dari pagi hingga siang hari, bahkan bisa sampai sore atau malam hari. Sekilas, mereka tampak seperti satu tim yang solid.
Akan tetapi, ketika diajak berbincang lebih dalam, terungkap bahwa kedekatan itu sebagian besar hanya terbentuk di seputar pekerjaan. Setelah jam kerja usai, masing-masing kembali ke kesibukan pribadinya. Sebagian petugas memilih diam ketika ada yang mengganjal di hati, enggan menyampaikan pendapat karena takut dianggap terlalu banyak mengeluh, dan menyimpan rasa lelah maupun perasaan ketidakadilan sendirian.
Mereka bekerja bersama, tetapi belum tentu merasa menjadi sebuah komunitas. Temuan ini menjadi menarik bagi saya sebagai praktikan. Di satu sisi, saya melihat bagaimana para petugas mampu bekerja sama untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari. Namun di sisi lain, ada jarak yang tidak langsung terlihat: mereka belum selalu memiliki ruang untuk berbicara, saling mendengarkan, dan merasa menjadi bagian dari kelompok yang lebih besar dari sekadar divisinya masing-masing.
Dalam psikologi, perasaan menjadi bagian dari sebuah kelompok ini dikenal dengan istilah sense of community atau rasa kebersamaan komunitas. Dua orang psikolog, David McMillan dan David Chavis, menjelaskan bahwa rasa kebersamaan yang sehat tumbuh dari empat hal yang saling menopang. Yang pertama adalah rasa menjadi anggota (membership), yaitu keyakinan bahwa “saya diterima dan benar-benar bagian dari sini”.
Yang kedua adalah rasa memiliki pengaruh (influence), yaitu perasaan bahwa suara dan pendapat saya didengar serta ikut menentukan arah kelompok. Yang ketiga adalah terpenuhinya kebutuhan bersama (integration and fulfillment of needs), yaitu keyakinan bahwa dengan bekerja sama, kebutuhan setiap orang ikut terpenuhi. Dan yang keempat adalah keterhubungan emosional (shared emotional connection), yaitu ikatan yang lahir dari pengalaman, suka, dan duka yang dilewati bersama.
Pada para petugas rumah maggot, keempat unsur tersebut sebenarnya sudah memiliki benih, tetapi belum tumbuh sepenuhnya. Mereka berbagi tujuan mulia untuk menjaga lingkungan dan merasa bangga karena pekerjaannya bermanfaat bagi banyak orang. Namun rasa memiliki itu masih terbatas pada konteks pekerjaan. Banyak yang merasa belum punya ruang aman untuk bersuara, sehingga ketidaknyamanan lebih sering dipendam daripada dibicarakan.
Pembagian beban kerja yang dirasa belum merata memunculkan menimbulkan rasa ketidakpuasan yang jarang dibicarakan secara terbuka. Keputusan-keputusan penting pun masih banyak bergantung pada satu figur tertentu, sehingga inisiatif untuk bergerak bersama belum berkembang. Singkatnya, mereka adalah rekan kerja yang baik, tetapi belum sepenuhnya menjadi komunitas yang saling terhubung.
Temuan-temuan tersebut kemudian membuat saya berpikir: bagaimana jika mereka diberi ruang untuk berkumpul bukan sebagai petugas dari divisi masing-masing, melainkan sebagai satu kelompok? kegiatan yang membantu menumbuhkan rasa kebersamaan tersebut, dilakukan sebuah kegiatan sederhana yang dekat dengan budaya setempat.
Dari pertanyaan sederhana itu, lahirlah sebuah kegiatan yang dekat dengan keseharian mereka, yaitu ngariung — berkumpul sambil menikmati hidangan dan berbincang santai. Kegiatan ini dirancang menggunakan pendekatan Appreciative Inquiry, sebuah cara pandang dalam psikologi yang berfokus pada kekuatan dan pengalaman terbaik yang sudah dimiliki kelompok, bukan pada kekurangannya dengan mengajak kelompok mengenali kekuatan, pengalaman positif, dan hal-hal yang sudah berjalan baik sebagai pijakan untuk membayangkan masa depan yang lebih baik.
Alih-alih sibuk membahas apa yang salah, para petugas justru diajak menceritakan pengalaman paling berkesan selama bekerja, menggambar “pohon harapan” untuk masa depan rumah maggot, hingga menuliskan komitmen kecil yang bisa mereka lakukan untuk komunitasnya. Suasananya cair, penuh canda dan tawa.
Yang menarik, di dalam ruang yang terasa aman dan setara seperti itu, orang-orang yang biasanya pendiam mulai berani bercerita. Petugas dari divisi yang berbeda, yang sehari-hari jarang berinteraksi, duduk bersama dan menyadari bahwa mereka sebenarnya bagian dari satu cerita yang sama.
Mereka menemukan bahwa rumah maggot tidak akan berjalan tanpa peran masing-masing, dan bahwa kebanggaan terhadap pekerjaan adalah sesuatu yang mereka miliki bersama. Tentu, satu kali pertemuan tidak serta-merta mengubah segalanya — rasa kebersamaan membutuhkan waktu, pengulangan, dan konsistensi untuk benar-benar mengakar. Namun kegiatan itu memberi gambaran satu hal penting: bahwa benih kebersamaan tersebut sebenarnya sudah ada.
Yang dibutuhkan mungkin bukan menciptakan kebersamaan dari awal, melainkan menyediakan ruang agar kebersamaan yang sudah ada dapat tumbuh dan meluas. Rasa memiliki tidak muncul begitu saja dari pembagian tugas. Ia tumbuh ketika setiap orang merasa diterima, merasa suaranya didengar, merasa diperlakukan adil, dan merasa terhubung secara emosional dengan orang-orang di sekitarnya.
Membangun rasa itu tidak selalu membutuhkan program besar atau anggaran yang mahal. Kadang, ia bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana: menyediakan waktu untuk berkumpul tanpa agenda pekerjaan, memberi ruang bagi yang biasanya diam untuk bersuara, dan sesekali saling mengapresiasi hal-hal baik yang sudah dilakukan bersama.
Pada akhirnya, komunitas yang kuat bukanlah komunitas yang anggotanya tidak pernah lelah atau tidak pernah berbeda pendapat, melainkan komunitas yang anggotanya merasa cukup aman untuk jujur, cukup dihargai untuk bertahan, dan cukup terhubung untuk saling menjaga.
Para petugas rumah maggot mengajarkan kepada kita bahwa mengubah sampah menjadi berkah memang penting, tetapi menumbuhkan rasa memiliki di antara orang-orang yang bekerja di dalamnya adalah pekerjaan yang sama berharganya — dan keduanya sama-sama dapat dimulai dari kemauan untuk duduk bersama. [ ]
Penulis: Elfreda Haura Fawwaz, S.Psi. — Mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Psikolog, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Bandung
Pembimbing: Rizka Hadian Permana, M.Psi., Psikolog (Supervisor Internal); Deden Juhaeri, M.Psi., Psikolog (Supervisor Eksternal); Dr. Eneng Nurlailiwangi, M.Psi., Psikolog (Penguji);
mengetahui Dr. Eneng Nurlailiwangi, M.Psi., Psikolog (Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Psikolog Unisba)
Lokasi Kegiatan: Balai Pertemuan Kelurahan Cisaranten Endah Kecamatan Arcamanik Kota Bandung
Artikel psikoedukasi ini disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) sebagai alat bantu dalam proses penulisan dan penyuntingan naskah. Seluruh substansi, data, serta interpretasi yang dimuat bersumber dari laporan layanan psikologi komunitas yang dibuat dan telah diverifikasi langsung oleh penulis, sehingga akurasi maupun tanggung jawab atas keseluruhan isi tetap berada pada penulis selaku manusia yang mengendalikan proses dari awal hingga akhir. Artikel ini tidak memuat gambar rekayasa, personalisasi atau avatar, maupun suara hasil kecerdasan buatan. Penyusunannya berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik serta Peraturan Dewan Pers Nomor 1/Peraturan-DP/I/2025 tentang Pedoman Penggunaan Kecerdasan Buatan dalam Karya Jurnalistik.











