BERITAUNGGULAN.COM, CIGUDEG BOGOR – Jumat (08/05/2026) Pendidikan sering kali terjebak dalam sekat-sekat dinding beton dan tumpukan kertas ujian. Namun, bagi Pondok Pesantren Muhammadiyah Boarding School (MBS) A.R. Fachruddin Kota Bekasi—atau yang akrab disapa MBS Kampung Sawah—kurikulum terbaik justru terkadang ditemukan di bawah langit terbuka dan di antara rimbunnya pepohonan.
Pada 5 hingga 7 Mei 2026, sebanyak 86 santri tingkat SMP dan SMA melakukan perjalanan transformatif bertajuk MBS Camp & Field Trip 2026. Mengusung tema “Spirit of Unity and Leadership”, kegiatan ini bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan sebuah ikhtiar panjang untuk membentuk karakter pemimpin masa depan.
Akar Agraris dan Identitas Bangsa Perjalanan dimulai tidak dengan kemewahan, melainkan dengan pembelajaran akar rumput di Museum Tanah dan Pertanian, Bogor. Mengapa museum? Di sinilah para santri diingatkan kembali pada identitas Indonesia sebagai negara agraris. Memahami tanah berarti memahami sumber kehidupan. Langkah awal ini krusial untuk menanamkan rasa syukur dan nasionalisme sebelum mereka menghadapi tempaan fisik yang lebih berat di lokasi perkemahan.
Laboratorium Karakter di Cigudeg Setelah membekali diri dengan pengetahuan, rombongan bergerak menuju Yayasan Amanah Sarbini di Cigudeg, Kabupaten Bogor. Kawasan ini berubah menjadi “laboratorium karakter”. Di bawah pengawasan ketat 10 guru pendamping, para santri dipaksa keluar dari zona nyaman.
Mudir MBS A.R. Fachruddin, Ustaz R. Setiawan, Lc., M.H., menekankan bahwa di alam terbuka, semua atribut kenyamanan di rumah dilepaskan. “Tujuan kami jelas: membentuk santri yang memiliki tanggung jawab tinggi, jiwa sportif, dan mental kepemimpinan yang tangguh,” tegas beliau. Di sini, ego pribadi harus luruh demi kepentingan kelompok.
Sinergi Fisik dan Spiritual Agenda selama tiga hari tersebut sangat padat namun bermakna. Para santri belajar kemandirian melalui funcooking—sebuah tantangan sederhana yang mengajarkan bahwa untuk menikmati sepiring nasi, dibutuhkan proses dan kerja keras. Mereka juga ditempa melalui materi kepanduan Hizbul Wathan (HW), yang merupakan DNA organisasi Muhammadiyah dalam mencetak kader tangguh.
Namun, yang membedakan kegiatan ini dengan perkemahan biasa adalah napas spiritualnya. Di tengah sunyinya malam Cigudeg yang dingin, para santri tetap menjaga rutinitas murojaah berjamaah dan sujud syukur dalam shalat tahajud. Ini adalah keseimbangan yang dicari: fisik yang kuat, otak yang cerdas, dan hati yang terpaut pada Sang Pencipta.
Puncaknya adalah malam api unggun. Di bawah temaram api yang berkobar, rasa persatuan (unity) benar-benar terasa. Tawa dan diskusi yang mengalir di sela-sela kegiatan outbound menjadi perekat persaudaraan yang mungkin tidak akan mereka dapatkan hanya dengan duduk di bangku kelas.
Pulang sebagai Pemimpin Baru Ketika bus rombongan kembali membelah kemacetan Bekasi, 86 santri tersebut tidak lagi sama. Mereka pulang membawa lebih dari sekadar suvenir; mereka membawa mentalitas baru. MBS Kampung Sawah telah membuktikan bahwa mencetak kader pemimpin bukan tentang memberikan instruksi, tapi tentang memberikan pengalaman. Melalui MBS Camp & Field Trip 2026, mereka telah membuktikan bahwa untuk melihat masa depan bangsa yang cerah, kita harus mulai dengan membina karakter pemudanya di tempat-tempat yang penuh tantangan. –red.djaddie












