BERITAUNGGULAN.COM, JAKARTA—Senin (20/07/2026) Rumah senantiasa diromantisasi sebagai tempat perlindungan paling utama, sebuah tempat di mana kehangatan didekap erat dan rasa aman dijamin penuh. Namun, data mutakhir dari SIMFONI-PPA sepanjang tahun 2025 mengoyak kenyataan pahit tersebut: sebanyak 60,1% dari 15.300 kasus kekerasan seksual dan 12.160 kasus kekerasan fisik terhadap anak justru terjadi di dalam perimeter domestik. Rumah, secara ironis, bertransformasi menjadi ruang paling rentan bagi tunas-tunas masa depan bangsa.
Di tengah kepungan realitas yang mengkhawatirkan ini—ditambah dengan beban 29,8 juta anak yang mengalami ketertinggalan pembelajaran, angka stunting yang masih bertengger di 19,8%, serta bayang-bayang 4.727 bencana alam sepanjang tahun lalu—hadir sebuah refleksi besar dari setengah abad perjalanan Save the Children Indonesia. Sejak menapakkan kaki pertama kali pada tahun 1976, organisasi ini tidak sekadar menyaksikan dinamika jaman, melainkan aktif mengintervensi dan merombak struktur perlindungan anak lintas sektor.
Perjalanan 50 tahun ini bukanlah jalan yang linier, melainkan sebuah perjuangan sistemik. Salah satu pencapaian fundamental adalah pergeseran paradigma pengasuhan dari yang semula berbasis institusi masif, kini bertumpu pada kehangatan keluarga. Melalui advokasi regulasi seperti Permensos No. 30/2011 dan PP No. 44/2017, Save the Children berhasil mendorong negara untuk mengakui bahwa hak asasi anak dimulai dari dekapan keluarga yang sehat. Tak hanya itu, gerakan di akar rumput melalui transformasi Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) menjadi Lembaga Ketahanan Desa (LKD) membuktikan bahwa benteng perlindungan terbaik harus dibangun dari tingkat komunitas terkecil.
Namun, tantangan zaman berganti. Perlindungan anak kini tidak lagi terbatas pada ruang fisik, melainkan telah merambah ke ranah digital dan adaptasi perubahan iklim. Melalui pembentukan Children and Youth Advisory Network (CYAN), anak-anak Indonesia tidak lagi ditempatkan sebagai objek pasif yang dikasihi, melainkan sebagai subjek aktif yang suaranya didengar dalam merumuskan kebijakan. Keberhasilan kampanye Stop Pneumonia (2019-2022) yang berhasil mendorong vaksinasi PCV ke dalam program imunisasi nasional dasar adalah bukti sahih bagaimana suara kolektif mampu menyelamatkan sekitar 10.000 balita dari ancaman kematian.
Sebagaimana ditegaskan oleh Dessy Kurwiany Ukar, CEO Save the Children Indonesia:
“Selama 50 tahun, Save the Children Indonesia belajar bahwa perubahan yang paling bermakna tidak pernah lahir dari satu pihak, melainkan dari kolaborasi. Keberpihakan terhadap anak tidak boleh berhenti sebagai komitmen, tetapi harus diwujudkan melalui kolaborasi yang semakin kuat dan aksi yang konkret serta berkelanjutan.”
Sebagai puncak refleksi dan titik awal bagi transformasi berikutnya, Festival Pahlawan Anak yang akan digelar pada 13–16 Agustus 2026 di Gandaria City, Jakarta, hadir bukan sebagai selebrasi kosmetik. Didukung penuh oleh Pemprov DKI Jakarta, Pakuwon Group, Narasi, serta tokoh publik seperti Maudy Ayunda dan Najwa Shihab, festival ini dirancang sebagai ruang temu lintas generasi. Di sinilah ekosistem perlindungan anak diuji: apakah kita hanya akan menjadi penonton dari statistik yang memilukan, atau memilih mengambil peran sebagai pahlawan nyata yang mengawal hak-hak mereka menuju Indonesia Emas?











