BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Rektor Universitas Islam Bandung, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU, ASEAN Eng., menjadi khatib Salat Jumat di Masjid Agung Trans Studio Bandung pada Jumat (29/5/2026). Dalam khutbahnya, Prof. Harits mengajak umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan dengan menjalankan seluruh perintah Allah SWT, menjauhi larangan-Nya, serta memperkuat keimanan.
Prof. Harits menjelaskan mengenai keistimewaan empat bulan haram dalam Islam sebagaimana disebutkan dalam Surah At-Taubah ayat 36, yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Ia menyampaikan bahwa pada bulan-bulan tersebut umat Islam dianjurkan untuk lebih menjaga diri dari segala bentuk kezaliman dan memperbanyak amal saleh.
“Pada bulan-bulan haram ini, dosa akibat perbuatan zalim dilipatgandakan, begitu pula pahala amal kebaikan. Karena itu, umat Islam harus lebih menjaga lisan, perbuatan, dan hati dari segala bentuk kezaliman, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain,” ujarnya.

Selain itu, Prof. Harits menuturkan bahwa bulan-bulan istimewa tersebut juga menjadi momentum terbaik untuk meningkatkan ibadah, seperti memperbanyak puasa sunnah, membaca Al-Qur’an, beristigfar, dan bersedekah sebagai bentuk evaluasi dan perbaikan kualitas keimanan.
Pada kesempatan tersebut, khutbah juga menyoroti keutamaan Hari Tasyrik yang berlangsung pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Menurutnya, Hari Tasyrik merupakan hari-hari yang memiliki banyak keutamaan dan sering kali luput dari perhatian umat Islam.
Ia menjelaskan bahwa Hari Tasyrik merupakan waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak zikir kepada Allah SWT melalui takbir, tahmid, tahlil, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak doa dan istigfar. Selain itu, Rasulullah SAW juga melarang umat Islam berpuasa pada hari-hari tersebut karena Hari Tasyrik merupakan hari makan, minum, dan bersyukur atas nikmat Allah SWT.
“Hari Tasyrik mengajarkan umat Islam untuk senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial melalui berbagi makanan dan daging kurban kepada sesama,” katanya.
Prof. Harits juga menekankan bahwa Hari Tasyrik menjadi momentum penting untuk memperkuat syiar Islam melalui gema takbir serta mempererat silaturahmi dan kepedulian terhadap masyarakat, khususnya kepada kaum dhuafa dan mereka yang membutuhkan.
Melalui khutbah tersebut, Prof. Harits mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan Hari Tasyrik sebagai sarana meningkatkan ketakwaan, memperbanyak amal saleh, serta memperkuat nilai-nilai kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari. [ ]
Dok foto: Unisba












