BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Di tengah krisis sampah yang membayangi hampir semua kota besar di Indonesia, Universitas Islam Bandung (Unisba) mengambil bagian lewat Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Berdampak Zero Waste, yang menerjunkan sekitar lima puluh empat Dosen Pendamping Lapangan dan ratusan mahasiswa untuk aktivitas lapangan dan aksi pilot zero waste di seluruh kelurahan se-Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung.
Program ini juga didampingi oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat, serta bersinergi dengan Pemerintah Kota Bandung, Kecamatan Arcamanik, dan Forum Bank Sampah Jawa Barat. Posisi Unisba di sini ganda, yaitu sebagai mitra yang menyumbang riset dan teknologi pengolahan sampah “Reaktor Plasma Dingin”, sekaligus penggerak dari sisi akademik yang menjaga keberlanjutan program di tingkat komunitas.
Salah satu titik pilot itu adalah RW 08 Kelurahan Cisaranten Endah yang punya cerita yang jarang terdengar, di mana 100 persen sampah dapur basah warganya sudah tidak lagi berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Tidak ada residu organik dari RW 08 Kelurahan Cisaranten Endah yang menumpuk di truk sampah kota. Semuanya diproses di tingkat RW.
Ketika Sampah Dapur Tak Lagi Menumpuk
Setiap Senin pagi, warga RW 08 sebenarnya masih menghadapi lonjakan sampah dapur hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan hari biasa, imbas dari jadwal pengangkutan yang libur di akhir pekan.
Melalui kombinasi metode olah sampah skala rumah tangga seperti Loseda (Lodong Sesa Dapur), lubang biopori, komposter, eco-enzyme, dan gerakan Zerosima (Zero Sisa Makanan), lonjakan sampah dapur itu diserap dan diproses di lingkungan RW itu sendiri, bukan dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS), apalagi ke TPA kota.
Keberhasilan ini sejalan dengan konsep waste hierarchy dalam teori pengelolaan sampah, kerangka yang menempatkan pencegahan dan pengolahan di tingkat sumber sebagai prioritas tertinggi, jauh di atas opsi pembuangan akhir.
Model piramida hierarki sampah pangan berbasis inovasi sosial menegaskan bahwa intervensi paling efektif justru berada di lapisan rumah tangga, persis seperti yang dipraktikkan warga RW 08 setiap harinya, jauh sebelum sampah itu sempat menjadi “masalah kota”.

Modal Sosial
Keberhasilan semacam ini tidak lahir dari infrastruktur mahal. Fondasinya justru sesuatu yang jauh lebih sederhana dan sering diabaikan yaitu modal sosial warga. RW 08 memiliki delapan petugas kebersihan (K2) yang bekerja rutin mengelola sampah lingkungan, didukung kelompok warga zero waste yang secara sukarela menggerakkan edukasi dan praktik pengolahan sampah dari rumah ke rumah.
Yang membuat model ini bertahan bukan sekadar semangat sesaat. Ada kesediaan dan kemampuan finansial warga yang konsisten di baliknya. Seluruh rumah tangga di RW 08 tercatat patuh membayar iuran kebersihan bulanan, cukup untuk membiayai honor petugas K2 tanpa harus bergantung penuh pada anggaran dari luar.
Warga yang mau memilah sampah adalah satu hal. Warga yang mau dan mampu membayar rutin agar petugas kebersihan tetap bekerja adalah hal lain yang sama pentingnya dan sering kali lebih sulit dicapai.
Sampah Sudah Diolah, Bagaimana Memanfaatkannya?
Dalam konsep ekonomi sirkular, limbah biologis semestinya menjadi input bagi rantai nilai baru, istilahnya closing the loop, menutup lingkaran dari sampah menjadi sumber daya.
RW 08 dan Kelurahan Cisaranten Endah sudah menuntaskan separuh pertama dari lingkaran itu dengan mengubah sampah menjadi bahan olahan. Separuh berikutnya, memastikan hasil olahan benar-benar terserap pasar atau termanfaatkan secara berkelanjutan.
Di Kelurahan Cisaranten Endah, sampah organik dapur warga bermuara ke fasilitas Ruggot (Rumah Maggot), yang memanfaatkan larva Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia illucens untuk mengurai 400 hingga 500 kilogram sampah organik per hari.
Metode ini punya dasar ilmiah yang kuat. Penelitian tentang biokonversi menunjukkan larva BSF sebagai agen biokonversi yang sangat efisien, mampu mereduksi volume sampah organik antara 37 hingga 80 persen sekaligus menghasilkan biomassa larva kaya protein.
Masalah justru muncul setelah proses biokonversi selesai. Yang paling krusial adalah belum ada pembeli tetap (offtaker) untuk produk maggot segar maupun pupuk kasgot yang dihasilkan. Akibatnya, stok hasil olahan kerap menumpuk tanpa kepastian ke mana harus disalurkan.
Kerja sama dengan komunitas urban farming, peternak ikan atau unggas lokal, dan dinas pertanian daerah berpotensi jadi jalur penyerapan hasil olahan. Saat ini pemanfaatan pupuk kompos RW dan residu olahan (kasgot) dari fasilitas Ruggot Kelurahan Cisaranten Endah disalurkan untuk pakan ternak bebek dan lele, mendukung program ketahanan pangan Buruan Sae serta menyuburkan taman-taman lingkungan.
Mengurangi Sampah dari Rumah
Dalam hierarki pengelolaan sampah, menyalurkan hasil olahan ke pasar itu sulit dikendalikan sepenuhnya karena terlalu banyak pihak dan faktor luar yang ikut menentukan. Yang jauh lebih bisa dikendalikan, dan dampaknya justru lebih besar, adalah langkah sederhana yaitu mengurangi sampah dari rumah, sebelum ia sempat jadi masalah.
Warga RW 08 sudah membuktikan mampu mengolah sampah organik secara mandiri, sesuatu yang tidak semua wilayah sanggup lakukan. Dengan modal itu, langkah paling masuk akal berikutnya bukan menunggu penyaluran hasil olahan menjadi sempurna dulu, tapi terus menekan volume sampah sejak sumbernya.
Bagi warga yang sudah terbiasa memilah dan mengolah sampah dapur sendiri, mengurangi timbulan dari sumber semestinya jadi kebiasaan yang dirawat terus-menerus, bukan beban tambahan. Belanja secukupnya, menghabiskan makanan yang dimasak, memanfaatkan sisa dapur sebelum menjadi sampah, ini edukasi paling dasar yang bisa terus digaungkan kelompok zero waste RW 08 kepada tetangga dan wilayah sekitar.
Intervensi pemilahan sampah rumah tangga di banyak negara menunjukkan bahwa edukasi dan komunikasi langsung antarwarga adalah strategi yang paling banyak terbukti efektif dalam mengubah perilaku semacam ini. RW 08, dengan modal sosial dan rekam jejak yang sudah dimiliki, punya posisi kuat untuk jadi contoh sekaligus penggerak edukasi tersebut.
Target global sebenarnya bertumpu pada logika serupa. SDG 12.3 dalam Agenda 2030 PBB menargetkan pengurangan separuh sampah pangan global per kapita pada 2030. Intervensi paling efektif untuk mencapai target itu justru berada di tingkat konsumen, bukan teknologi pengolahan rumit di ujung hilir.
Pengalaman RW 08 Cingised dan Kelurahan Cisaranten Endah membuktikan bahwa pengolahan sampah organik hingga nol persen ke TPA bisa dimulai dari rumah tangga sekecil apa pun, dengan modal sosial sesederhana kesediaan warga membayar iuran dan bergotong royong menjaga lingkungannya sendiri. Kemampuan mengolah sampah organik secara mandiri sudah terbukti di sana. Yang tersisa sekarang adalah menjadikan kebiasaan mengurangi sampah dari rumah sebagai kebiasaan hidup warga sehari-hari.
Bagi Unisba, kegiatan PKM Berdampak ini merupakan salah satu bukti kecil dari komitmen yang lebih besar melalui konsep Hi-Care (Halal Integrated Carbon Credit Academic Resilience), yaitu model kampus berdampak yang memadukan riset, inovasi teknologi, dan pemberdayaan masyarakat berbasis nilai gotong royong. Dengan pilot aksi yang kini merambah seluruh kelurahan se-Kecamatan Arcamanik, menuju cita-cita zero food waste yang lebih luas. [ ]
Dok foto: Unisba












