Rizki

Rizki Ulfahadi Tekankan Nilai SIAP sebagai Fondasi Kader GMH di NGL Jawa-Bali

BERITAUNGGULAN.COM, YOGYAKARTA — Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH) Rizki Ulfahadi menegaskan pentingnya penguatan nilai dasar organisasi sebagai fondasi pembentukan karakter kader Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH).

Hal tersebut disampaikan Rizki saat memberikan materi dalam kegiatan Next Gen Leaders (NGL) Regional Jawa-Bali yang berlangsung di Asrama Haji Yogyakarta, Jumat (7/8/2026).

Dalam kesempatan itu, Rizki memperkenalkan Core Values GMH yang dirumuskan dalam akronim SIAP, yakni Spiritualitas, Intelektualitas, Aktivisme, Pemberdayaan, dan Pengabdian.

Menurutnya, kelima nilai tersebut merupakan satu kesatuan yang menjadi pijakan kader GMH dalam menjalani proses pembinaan, baik sebagai mahasiswa, aktivis organisasi maupun bagian dari masyarakat.

“Core Values GMH kami rumuskan dalam akronim SIAP. Kader GMH harus memiliki spiritualitas yang kuat, intelektualitas yang unggul, aktivisme yang produktif, semangat pemberdayaan, dan seluruh proses itu bermuara pada pengabdian kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan,” ujar Rizki.

Spiritualitas sebagai Fondasi

Rizki menjelaskan bahwa spiritualitas menjadi dasar pertama yang harus dimiliki setiap kader. Kekuatan spiritual dinilai penting agar aktivitas intelektual, organisasi, dan sosial yang dilakukan mahasiswa tetap memiliki landasan moral serta orientasi ibadah.

Menurutnya, kaderisasi tidak semata-mata diarahkan untuk melahirkan mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik dan kepemimpinan, tetapi juga pribadi yang memiliki integritas serta kesadaran terhadap tanggung jawabnya kepada Allah SWT dan masyarakat.

Sementara intelektualitas, lanjut Rizki, menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam memahami berbagai persoalan secara kritis dan objektif. Mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan gagasan sekaligus menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.

“Mahasiswa tidak cukup hanya aktif berorganisasi atau berprestasi secara akademik. Yang lebih penting adalah bagaimana ilmu, karakter, dan kepemimpinannya mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Aktivisme Harus Produktif

Selain spiritualitas dan intelektualitas, Rizki menekankan pentingnya aktivisme. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam organisasi harus diarahkan pada gerakan yang produktif dan memberikan dampak nyata.

Aktivisme mahasiswa, kata dia, jangan sampai berhenti pada rutinitas kegiatan organisasi. Sebaliknya, setiap gerakan perlu memiliki tujuan yang jelas, mampu menjawab persoalan, serta menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Nilai berikutnya adalah pemberdayaan. Rizki menjelaskan bahwa kader GMH perlu memiliki keberpihakan terhadap masyarakat dengan tidak hanya memahami berbagai persoalan sosial, tetapi juga ikut mendorong lahirnya kemandirian di tengah masyarakat.

“Pemberdayaan mengajarkan kita untuk tidak sekadar melihat persoalan, tetapi ikut menghadirkan solusi dan membantu masyarakat agar semakin mandiri dan berdaya,” ujarnya.

Pengabdian sebagai Muara Kaderisasi

Dari seluruh nilai SIAP tersebut, pengabdian menjadi muara dari proses kaderisasi GMH. Ilmu pengetahuan, pengalaman organisasi, kemampuan kepemimpinan, serta berbagai kompetensi yang diperoleh kader diharapkan dapat dikembalikan untuk memberikan manfaat yang lebih luas.

“Pengabdian adalah tujuan akhir dari seluruh proses kaderisasi. Sebaik-baik ilmu, kepemimpinan, dan aktivitas adalah yang memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat,” tutur Rizki.

Melalui pelaksanaan NGL Regional Jawa-Bali, PP GMH berharap para peserta tidak berhenti pada pemahaman konseptual mengenai Core Values SIAP. Nilai tersebut diharapkan dapat diterjemahkan menjadi sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Penerapannya dapat dimulai dari lingkungan kampus, organisasi kemahasiswaan, hingga kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, kader GMH diharapkan mampu tumbuh sebagai generasi muda Muslim yang memiliki karakter kuat, kapasitas intelektual, kepedulian sosial, serta kesiapan untuk mengambil peran strategis dalam kehidupan berbangsa.

Penguatan nilai SIAP tersebut sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar PP GMH dalam mempersiapkan generasi muda yang mampu berkontribusi dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.