Sekda Jabar dan Rektor Unisba Pantau Uji Coba Reaktor Plasma Dingin di TPS Berbudaya

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG —  Pemanfaatan teknologi Reaktor Plasma Dingin Pemusnah Sampah,  ditinjau Rektor Universitas Islam Bandung (Unisba) bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat  di Living Laboratory Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Berbudaya, Arcamanik, Kota Bandung, Minggu (22/2/2026).

Kegiatan ini dihadiri Ketua LPPM Unisba, Ketua Tim Task Force Zero Waste Unisba, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Sekretaris Kecamatan Arcamanik serta Lurah Sukamiskin.

Peninjauan dilakukan untuk melihat perkembangan optimalisasi teknologi reaktor plasma dalam mendukung pengelolaan sampah yang lebih efektif dan ramah lingkungan.

Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menyoroti pentingnya perbaikan pada sistem input sampah. Menurutnya, proses pemilahan seharusnya diperkuat dari hulu, mulai dari rumah tangga hingga tingkat kelurahan, agar pengolahan di TPS dapat berjalan lebih efisien.

“Kendala utama saat ini adalah input sampah yang masih membutuhkan pemilahan. Idealnya, pemilahan dilakukan di sumber. Kami berharap ada dukungan pemerintah daerah untuk membangun sinergi dari rumah tangga hingga TPS sehingga kapasitas produksi pengelolaan sampah bisa meningkat dan lebih efektif,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa solusi pengelolaan sampah yang ditawarkan Unisba bersifat terintegrasi, mencakup teknologi reaktor plasma dingin, pengolahan food waste, serta pendekatan socio-engineering untuk membangun budaya pemilahan sampah di masyarakat.

Sekda Provinsi Jawa Barat, Dr. Drs. Herman Suryatman, M.Si., menyampaikan bahwa kerja sama antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kota Bandung, dan Unisba terkait penggunaan teknologi reaktor plasma masih dalam tahap pengembangan.

“Prosesnya masih berjalan. Kapasitas saat ini berkisar 1,5 hingga 2 ton per hari, dengan harapan dapat meningkat hingga 5 ton. Dari sisi polusi, hasil sementara menunjukkan kondisi yang jauh lebih baik, dan kita terus dorong menuju minimal polusi,” ungkapnya.

Dr. Imam Indratno, S.T., M.T., Ketua Tim Task Force Zero Waste Unisba, menjelaskan bahwa timnya saat ini tengah melakukan optimalisasi kapasitas reaktor plasma.

Selain itu, Unisba bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kota Bandung telah menyepakati rekayasa sosial sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari tiga program zero waste Unisba, yakni reaktor plasma, pengelolaan food waste, dan rekayasa sosial.

Kegiatan rekayasa sosial tersebut dalam waktu dekat akan dilaksanakan melalui koordinasi kewilayahan, baik dengan camat maupun lurah, dengan melibatkan dosen dan mahasiswa untuk melakukan pendampingan di Kecamatan Arcamanik.

Ia menegaskan perbedaan mendasar antara teknologi reaktor plasma dan insinerator konvensional. “Insinerator mengandalkan bahan bakar untuk proses oksidasi.

Sementara teknologi yang kami gunakan berbasis ionisasi dengan bantuan sinar ultraviolet untuk menghasilkan plasma, yang kemudian menjadi sumber energi bagi reaktor,” jelasnya.

Terkait emisi, Imam menyebutkan bahwa hasil uji laboratorium yang bersertifikasi menunjukkan performa yang baik.

“Secara umum hasil uji emisi sudah jauh berada di bawah batas ambang yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.70/Menlhk/Setjen/Kum.1/8/2016. Uji lanjutan terkait dioksin dan furan akan kami lakukan bekerja sama dengan PUSARPEDAL (Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan) Kementerian Lingkungan Hidup,” pungkasnya. [ ]

Dok foto: Unisba