Sosialisasi Langkah Holistik Upaya Pencegahan Stunting

Oleh: Dr. Yani Triyani, dr., SpPK., M.Kes

 BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Penjelasan ini, disampaikan pada kegiatan Pembukaan Pengabdian Kepada Masyarakat Hibah Internal Unit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (UPPM) Fakultas Kedokteran Unisba Tahun 2025-2026, dengan Judul PKM: Upaya Holistik Pencegahan Stunting: Sosialisasi dan Pemberdayaan Komunitas Pepeling di Desa Patrolsari Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung

Kondisi kesehatan masyarakat di Desa Patrolsari, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, angka prevalensi stunting di wilayah ini mencapai 24,1% pada tahun 2024. Meski angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 5,1% dari tahun sebelumnya (25,9%), posisi ini masih jauh di atas rata-rata nasional yang berada di angka 19,8% dan rata-rata Jawa Barat sebesar 15,9%.

Desa Patrolsari, yang secara geografis merupakan wilayah perdesaan agraris, memiliki potensi besar namun masih terbelenggu masalah kesehatan fundamental. Hal ini disebabkan berbagai faktor antara lain masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat—yang didominasi lulusan sekolah dasar—serta keterbatasan ekonomi menjadi faktor yang berpengaruh.

Data menunjukkan bahwa sekitar 58,5% pria dan 69,8% wanita di desa ini tidak memiliki penghasilan tetap, yang berimplikasi langsung pada rendahnya frekuensi pemeriksaan kesehatan rutin bagi ibu hamil dan balita. Menanggapi tantangan ini, program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (FK Unisba) hadir sebagai solusi transformatif melalui pemberdayaan Komunitas Pepeling.

Langkah ini bukan sekadar intervensi medis, melainkan upaya membangkitkan kesadaran holistik yang mengkolaborasikan pendekatan spiritual-medis praktis kepada para orang tua muda yang masih baru memiliki anak antara 0–5 tahun.

Anak adalah amanah dari Sang Maha Menjaga dan yang Maha Melindungi (Al Waliy) dan Menjaga (AL Hafidz). Kehadiran mereka bukan sekadar pelengkap keluarga, melainkan titipan suci yang kelak dipertanggungjawabkan. Dalam QS 16:78, Allah membekali semua manusia (baik orang tua dan anak-anak) dengan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar manusia bersyukur melalui ikhtiar nyata menjaga keselamatannya melalui ilmu dan aplikasi keilmuannya.

Syukur sejati bukanlah ucapan lisan semata, melainkan tindakan menjaga fisik dan jiwa mereka. QS 17:36 menegaskan bahwa kita dilarang melakukan sesuatu apapun tanpa ilmu yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan, setiap indra akan dimintai pertanggungjawaban.

Maka, mengasuh dengan ilmu adalah bentuk cinta tertinggi kepada Sang Pencipta, memastikan amanah-Nya tumbuh sehat, kuat (ilmu dan fisik), dan optimal sesuai fitrah yang telah Allah tetapkan. Mari kita mendidik buah hati dengan keikhlasan dan berbekal ilmu yang cukup, baik secara spiritual maupun medis praktis sebagaimana yang disampaikan pada kegiatan PKM tersebut.

Salah satu upaya yang menjadi tujuan PKM adalah menumbuhkan kesadaran ibu dalam memantau tumbuh kembang di fasilitas kesehatan adalah fondasi utama melawan stunting. Masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan, sejak konsepsi hingga usia dua tahun, merupakan periode emas yang tak tergantikan. Kelalaian mengunjungi Posyandu berisiko fatal, karena gangguan pertumbuhan sering kali tidak terlihat secara kasat mata dan baru disadari saat dampaknya permanen.

Ikhtiar ini dimulai sejak kehamilan melalui Antenatal Care minimal enam kali. Selama masa ini, kepatuhan mengonsumsi tablet tambah darah sangat krusial untuk mencegah anemia, pemicu utama kegagalan pertumbuhan janin. Di Desa Patrolsari, pemanfaatan Buku KIA dan Kartu Menuju Sehat harus menjadi budaya, bukan sekadar administrasi.

Melalui grafik KMS, ibu dapat mendeteksi dini jika berat badan anak tidak naik, sehingga intervensi medis segera diberikan sebelum terjadi stunting kronis. Kehadiran rutin di fasilitas kesehatan memungkinkan tenaga medis memberikan edukasi gizi yang tepat sasaran bagi ibu-ibu muda. Jangan biarkan masa keemasan buah hati terlewati tanpa pengawasan ahli.

Pencegahan stunting adalah manifestasi kasih sayang yang terukur, memastikan anak memiliki bekal fisik mumpuni untuk masa depannya. Dengan pemantauan rutin, kita sedang membangun benteng pertahanan bagi kualitas hidup generasi mendatang. Ingatlah, satu kunjungan rutin ke layanan kesehatan adalah langkah besar demi menyelamatkan masa depan bangsa. Kehadiran kita di Posyandu menandakan kepedulian kita terhadap umat.

Selain usaha memantau tumbuh kembang ke Posyandu, para orang tua perlu juga mengetahui tentang faktor-faktor yang mengganggu tumbuh kembang anak, tidak hanya makanan, salah satu faktor penting yang masih sering terlupakan adalah adanya penyakit infeksi kronis, terutama Tuberkulosis, yang memiliki kaitan erat dengan kejadian stunting.

Saat anak terinfeksi, nutrisi yang seharusnya mendukung pertumbuhan tulang dan otak justru tersedot habis untuk melawan agen penyakit. Akibatnya, tubuh mengalami stagnasi pertumbuhan fisik yang berujung pada perawakan pendek. Literasi kesehatan orang tua di Patrolsari perlu ditingkatkan untuk mengenali gejala spesifik, seperti batuk terus-menerus, demam berulang, atau berat badan yang sulit naik meskipun asupan gizi terlihat cukup.

Melalui media edukasi interaktif dan video kesehatan yang disiapkan tim PKM FK Unisba, orang tua diajak memahami terapi dan pencegahan infeksi secara mendalam. Jika tanda-tanda tersebut muncul, segera lakukan rujukan ke Puskesmas Arjasari atau Puskesmas Lebakwangi untuk penanganan medis yang tepat.

Pemahaman mengenai cara penularan dan pentingnya sanitasi lingkungan menjadi kunci memutus rantai infeksi ini. Pengetahuan yang memadai akan mengubah pola asuh dari pasif menjadi proaktif. Sinergi antara perlindungan dari penyakit dan pemenuhan gizi seimbang adalah syarat mutlak bagi pertumbuhan optimal.

Jangan biarkan infeksi merampas potensi masa depan anak kita. Dengan literasi yang kuat, ibu mampu menjadi garda terdepan dalam mendeteksi ancaman kesehatan lingkungan. Pencegahan infeksi adalah bagian integral dari upaya holistik mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan tangguh. Waspada terhadap infeksi berarti menjaga keberlangsungan hidup anak.

Pemberdayaan 20 hingga 25 pasangan muda dari Komunitas Pepeling sebagai kader kesehatan adalah kunci keberlanjutan program di Desa Patrolsari kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung. Kader berbasis komunitas ini bertindak sebagai jembatan hidup yang menghubungkan kebutuhan warga dengan layanan kesehatan formal.

Mereka dibekali keterampilan menggunakan media edukasi video untuk menyebarkan informasi pencegahan stunting secara mandiri. Peran kader memastikan bahwa semangat menjaga gizi dan kebersihan tetap menyala meskipun pendampingan formal berakhir.

Melalui pendekatan ukhuwah, kader menggerakkan kepedulian antarwarga, menciptakan ekosistem sosial yang saling mendukung. Keberadaan mereka mengubah masyarakat dari sekadar objek menjadi subjek aktif dalam menjaga kesehatan generasi mendatang.

Inilah ikhtiar kolektif sebagai Upaya Holistik mencegah stunting di komunitas Pepeling desa Patrolsari. Anak yang sehat adalah cerminan keluarga yang taat. Sesuai peringatan QS 4:9, janganlah kita meninggalkan keturunan yang lemah dalam hal fisik maupun ilmu,  sehingga kita songsong generasi demi kejayaan umat dan masa depan bangsa yang akan datang menjadi generasi Basthotan fil ilmi wal jismi (QS 2: 247) yaitu generasi yang memiliki kelebihan atau keluasan dalam ilmu pengetahuan dan ketangguhan fisik (tubuh yang kuat). [ ]