Dari Kader hingga Aparat Desa: Ciburial Memperkuat Kesiapsiagaan Kesehatan di Jalur Sesar Lembang

Oleh: Dr. Yuli Susanti, dr., M.M.; Yuniarti, drg., M. Kes.; Siska Nia Irasanti, drg., M.M.

Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Gempa bumi bukan hanya peristiwa geologi, tetapi juga ancaman kesehatan masyarakat. Dalam waktu singkat, guncangan dapat menimbulkan cedera, mengganggu akses menuju fasilitas kesehatan, memutus layanan dasar, dan meningkatkan kerentanan kelompok yang membutuhkan bantuan khusus. Besarnya dampak tidak hanya ditentukan oleh kekuatan gempa, tetapi juga oleh kesiapan masyarakat dan kemampuan sistem lokal dalam merespons keadaan darurat.

Pada fase awal bencana, keluarga, tetangga, kader kesehatan, serta aparat setempat berada paling dekat dengan warga yang terdampak. Pengetahuan mengenai perlindungan diri, pertolongan pertama, jalur evakuasi, komunikasi darurat, dan pendataan kelompok rentan menjadi modal penting untuk mengurangi risiko kematian, kecacatan, dan masalah kesehatan pascabencana.

Karena itu, desa tangguh bencana tidak cukup ditandai dengan keberadaan rambu evakuasi atau titik kumpul. Ketangguhan tumbuh dari kemampuan warga memahami risiko, bertindak secara tepat, melindungi kelompok rentan, menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan dasar, dan bekerja sama dalam menghadapi serta memulihkan diri setelah bencana.

Kesiapsiagaan Dimulai Sebelum Bencana

Sesar Lembang merupakan patahan aktif sepanjang kurang lebih 29 kilometer yang membentang di wilayah utara Bandung. Keberadaannya perlu dipahami secara proporsional, bukan untuk menimbulkan ketakutan, melainkan untuk mendorong kesiapan. Masyarakat yang mengenali ancaman di wilayahnya akan lebih mampu menyusun rencana darurat keluarga, menentukan jalur evakuasi, menyiapkan titik kumpul, dan membagi peran ketika keadaan darurat terjadi.

Kesiapsiagaan tidak dimulai ketika guncangan terasa, tetapi jauh sebelumnya. Warga perlu memahami langkah perlindungan diri saat gempa, seperti merunduk, berlindung di bawah meja yang kokoh atau di tempat yang lebih aman, serta berpegangan hingga guncangan berhenti. Setelah kondisi memungkinkan, evakuasi dilakukan secara tertib menuju titik kumpul, tanpa berdesakan dan tanpa kembali ke bangunan yang belum dipastikan aman.

Perhatian khusus perlu diberikan kepada kelompok rentan, antara lain anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, penyandang disabilitas, dan warga dengan penyakit kronis. Dalam situasi bencana, kelompok tersebut membutuhkan pendampingan lebih cepat, obat rutin, bantuan mobilitas, dan akses terhadap layanan kesehatan. Oleh karena itu, pendataan kelompok rentan oleh kader, RT, RW, dan aparat desa merupakan bagian penting dari kesiapsiagaan komunitas.

Menolong Tanpa Menjadi Korban Berikutnya

Salah satu kemampuan dasar yang perlu dimiliki masyarakat adalah pertolongan pertama. Niat menolong harus disertai pengetahuan yang benar agar tindakan yang dilakukan tidak memperburuk kondisi korban. Prinsip pertama adalah memastikan lokasi aman sehingga penolong tidak menjadi korban berikutnya.

Setelah keamanan lokasi dipastikan, penolong dapat menilai kondisi korban, menghentikan perdarahan dengan memberikan tekanan langsung pada luka, menjaga korban tetap tenang, dan segera mencari bantuan apabila ditemukan tanda kegawatan. Korban yang diduga mengalami patah tulang tidak boleh dipindahkan atau dipaksa menggerakkan bagian tubuh yang cedera, kecuali terdapat ancaman langsung di lokasi.

Pelatihan dengan alat peraga membantu kader dan aparat desa memahami tindakan awal yang dapat dilakukan sembari menunggu tenaga kesehatan. Dalam kegiatan ini, materi kebencanaan disampaikan oleh Rano Harjaya dari Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Jawa Barat. Pelatihan penanganan luka dipandu oleh Dr. Sandy Armandha A. Dj., dr., Sp.OT., M.Kes., AIFO. Kegiatan dipimpin oleh Dr. Yuli Susanti, dr., M.M., bersama Yuniarti, drg., M.Kes., dan Siska Nia Irasanti, drg., M.M.

Ancaman Kesehatan Tidak Berakhir Saat Guncangan Berhenti

Dampak bencana tidak hanya berupa luka atau kerusakan bangunan. Setelah gempa, masyarakat dapat menghadapi masalah sanitasi, keterbatasan air bersih, kepadatan pengungsian, terputusnya akses transportasi, serta terganggunya pelayanan kesehatan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko diare, infeksi kulit, gangguan pernapasan, dan kekambuhan penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes.

Dampak psikologis juga tidak boleh diabaikan. Rasa takut, sulit tidur, kecemasan, dan trauma dapat muncul, terutama pada anak-anak, lanjut usia, serta warga yang kehilangan anggota keluarga atau tempat tinggal. Dukungan sosial, komunikasi yang menenangkan, penyampaian informasi yang jelas, dan rujukan kepada tenaga profesional bila diperlukan merupakan bagian penting dari respons kesehatan pascabencana.

Dalam konteks inilah kader kesehatan, aparat desa, RT, dan RW memiliki posisi strategis. Mereka mengenal warga, memahami kondisi lingkungan, dan dapat bergerak cepat untuk mendata kebutuhan, menyampaikan informasi, membantu kelompok rentan, serta menghubungkan masyarakat dengan puskesmas, rumah sakit, BPBD, dan layanan terkait.

Dari Pelatihan Menuju Sistem Kesiapsiagaan Desa

Penguatan kesiapsiagaan tidak boleh berhenti pada penyampaian materi. Pengetahuan yang diperoleh perlu diterjemahkan menjadi sistem yang dapat digunakan oleh seluruh warga ketika keadaan darurat terajdi. Di Desa Ciburial, upaya tersebut didukung melalui pemasangan papan informasi mengenai Sesar Lembang, rambu jalur evakuasi, dan penanda titik kumpul di lokasi strategis. Keberadaan penanda ini membantu masyrakat mengenali risiko di lingkungannya seklaigus memahami arah pergerakan saat evakuasi.

Namun, sarana fisik saja belum cukup. Kesiapsiagaan perlu dibangun melalui kebiasaan bersama, seperti menyusun rencana darurat keluarga, mengenali warga yang membutuhkan bantuan khusus, memastikan jalur evakuasi tetap aman, dan membiasakan masyarakat merespons ancaman secara tertib. Dalam situasi bencana, kejelasan peran dan koordinasi menjadi sama pentingnya dengan ketersediaan informasi.

Penguatan Desa Ciburial menuju desa tangguh bencana membutuhkan proses yang berkelanjutan. Pelatihan perlu diikuti dengan simulasi rutin, pembaruan data kelompok rentan, pengecekan rambu dan jalur evakuasi, penyediaan perlengkapan pertolongan pertama, serta koordinasi yang jelas antara pemerintah desa, masyarakat, puskesmas, BPBD, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya.

Menjaga Jiwa sebagai Tanggung Jawab Bersama

Kesiapsiagaan merupakan wujud kepedulian dan tanggung jawab sosial. Dalam nilai Islam, menjaga keselamatan jiwa dan saling menolong dalam kebaikan merupakan prinsip yang perlu diwujudkan dalam tindakan nyata. Pengetahuan kebencanaan, keterampilan pertolongan pertama, dan kepedulian terhadap kelompok rentan adalah bentuk ikhtiar untuk melindungi kehidupan.

Kepala Desa bersama kader, aparat desa, dan unsur kewilayahan memiliki peran penting dalam memastikan hasil pelatihan diterapkan dalam tata kelola desa. Kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga kebencanaan menjadi langkah strategis agar kesiapsiagaan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan berkembang menjadi budaya bersama.

Bencana memang tidak selalu dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat dikurangi. Ketika kader memahami pertolongan pertama, aparat desa mengetahui alur koordinasi, RT dan RW mengenali warga rentan, serta keluarga memiliki rencana darurat, ketangguhan desa mulai terbentuk. Dari kesiapan individu tumbuh kesiapan keluarga; dari kesiapan keluarga lahir komunitas yang lebih kuat.

Desa Ciburial sedang menapaki proses tersebut. Melalui pengetahuan, latihan, penanda evakuasi, dan semangat saling menjaga, masyarakat tidak hanya belajar menghadapi risiko gempa, tetapi juga membangun kemampuan untuk melindungi diri, menjaga sesama, dan pulih lebih cepat ketika bencana benar-benar terjadi. [ ]