Tak Hanya Reaktor Plasma Dingin, Unisba Andalkan Social Engineering untuk Atasi Sampah di Arcamanik

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Universitas Islam Bandung (Unisba) terus memperkuat kontribusinya kepada masyarakat melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Berdampak Zero Waste di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. Program ini mengedepankan pendekatan social engineering atau rekayasa sosial sebagai strategi utama untuk membangun kesadaran sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis wilayah.

Arcamanik dipilih sebagai wilayah percontohan (pilot project) yang diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah terpadu, tidak hanya bagi Kota Bandung tetapi juga Jawa Barat. Upaya ini diawali dengan pengembangan Living Laboratory Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Berbudaya yang dilengkapi inovasi Reaktor Plasma Dingin.

Namun, pendekatan yang dilakukan Unisba tidak hanya bertumpu pada teknologi. Program ini juga menekankan pentingnya perubahan perilaku masyarakat, khususnya dalam mengurangi sampah dari sumbernya melalui gerakan zero food waste. Pendekatan inilah yang menjadi inti dari strategi social engineering yang diterapkan.

Person in Charge Social Engineering Tim Zero Waste Unisba, Dr. Titik Respati, drg., M.Sc.PH., menegaskan bahwa penyelesaian persoalan sampah memerlukan pendekatan yang komprehensif. Ia menjelaskan, awalnya pengembangan Reaktor Plasma Dingin ditujukan agar pengolahan sampah lebih efisien dan efektif. Namun, berdasarkan hasil riset lapangan, komposisi sampah di masyarakat didominasi oleh sampah organik atau sampah basah, terutama sisa makanan rumah tangga.

“Reaktor plasma dingin akan optimal jika komposisi sampah basah maksimal sekitar 20 persen, sementara 80 persen lainnya adalah sampah residu. Faktanya di lapangan justru sebaliknya, sehingga teknologi saja tidak cukup,” ujarnya.

Ia menambahkan, temuan tersebut menjadi dasar pentingnya penguatan pendekatan sosial. “Permasalahan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan teknologi. Aspek sosial menjadi kunci. Karena itu, kami menggunakan pendekatan berbasis data agar solusi yang dirancang benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” kata Titik.

Melalui pendekatan ini, Unisba mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya, sehingga pengelolaan sampah dapat berjalan lebih efektif, berkelanjutan, dan berdampak luas.

Pelaksanaan program dilakukan secara bertahap. Setelah pembekalan pada 9–17 Maret 2026, kegiatan dilanjutkan dengan koordinasi mahasiswa bersama perangkat wilayah dan aparat setempat pada 30 Maret–3 April 2026. Tahap berikutnya berupa need assessment dan pengisian kuesioner pada 6–10 April 2026, yang kemudian dilanjutkan dengan analisis data survei pada 13–17 April 2026.

Memasuki tahap perencanaan, kegiatan berlangsung pada 20 April–1 Mei 2026, sebelum berlanjut ke tahap edukasi dan pendampingan masyarakat pada 4–17 Mei 2026. Selanjutnya, dilakukan monitoring dan evaluasi pada 18–24 Mei 2026, diikuti penyusunan luaran kegiatan pada 25–31 Mei 2026 dan penyusunan laporan pada 1–7 Juni 2026.

Sebagai tahap akhir, program akan ditutup dengan seminar dan diseminasi hasil pada 8–12 Juni 2026, serta dilanjutkan dengan pengembangan model pada 15–26 Juni 2026.

Sebanyak sekitar 350 mahasiswa dan 60 dosen terlibat aktif di 56 titik di Kecamatan Arcamanik. Mahasiswa berperan dalam pengumpulan data, dosen pembimbing lapangan (DPL) memastikan kualitas pelaksanaan, sementara masyarakat menjadi mitra utama dalam implementasi program.

Kegiatan ini juga diperkuat melalui Pelatihan Waste Management System dan pembekalan aksi solusi penanggulangan sampah di masyarakat pada Program PkM oleh Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN pada Rabu, 22 April 2026, di Ruang Pertemuan Gedung LPPM Unisba. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Ir. Prasetiyadi, M.M. dari Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN.

Selain itu, dilaksanakan pula Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Model Pengelolaan Sampah Berbudaya di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat” di Gedung LPPM Unisba lantai 3 pada Senin (18/5). Kegiatan ini dihadiri oleh Camat Arcamanik, para lurah se-Kecamatan Arcamanik, perwakilan pemerintah daerah, akademisi, serta tim pelaksana program social engineering Zero Waste Unisba.

FGD tersebut menjadi bagian dari penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun model pengelolaan sampah berbasis budaya dan partisipasi publik. Sambutan disampaikan oleh Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., serta Sekretaris Daerah Jawa Barat, Dr. Herman Suryatman, Drs., M.Si.

Saat ini, program memasuki tahap monitoring dan evaluasi. Target yang ingin dicapai adalah pengurangan sampah, khususnya organik, hingga 50 persen di tingkat rumah tangga.

Luaran program mencakup peta hotspot sampah, data terstruktur, serta rencana aksi yang dapat langsung diimplementasikan. Program ini juga mendorong penguatan semangat gotong royong antarwarga dalam pengelolaan sampah.

Dengan dukungan masyarakat yang tinggi, program ini diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah berkelanjutan yang dapat direplikasi di berbagai wilayah. Hal ini sekaligus menegaskan komitmen Unisba dalam menghadirkan solusi nyata berbasis keilmuan yang berdampak bagi masyarakat. [ ]

Dok foto: Unisba