CEGAH ANEMIA SEJAK DINI, KONSUMSI TABLET FE DAN POLA MAKAN REMAJA PUTRI DI AISYIYAH BOARDING SCHOOL PERLU DIPANTAU BERSAMA

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG  — Anemia masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian pada kelompok remaja putri. Kebutuhan zat besi yang meningkat selama masa pertumbuhan, ditambah kehilangan darah saat menstruasi, membuat remaja putri menjadi kelompok yang rentan mengalami anemia. Sebuah pengabdian masyarakat integrative yang dilakukan di Aisyiyah Boarding School oleh tim dosen Universitas Aisyiyah Bandung bekerjasama dengan Majelis Kesehatan PWA Jawa Barat, yang diketuai oleh Annisa Ridlayanti, S.Keb.,Bd.,M.Keb dan tim menunjukkan pentingnya pemantauan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) yang mengandung zat besi serta pola makan dalam upaya deteksi dini anemia pada remaja putri.

Dalam studi yang dilakukan oleh Annisa Ridlayanti S.Keb.,Bd.,M.Keb; Dian Siti Awali S.ST.,Bd.,M.Kes; dr. Rachma Wardani MMRS; Hj. Hotindrayanti, S.Pd; dan Hj. dr Dian Indahwati, SpOG Studi ini melibatkan 98 remaja putri dengan pendekatan analitik observasional cross-sectional.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar hemoglobin (Hb) responden mencapai 13,8 g/dL. Sebagian besar responden berada dalam kategori normal, yaitu 85,7 persen. Sementara itu, ditemukan 7,1 persen mengalami anemia ringan, 5,1 persen anemia sedang, dan 1 persen anemia berat.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa meskipun mayoritas remaja putri memiliki kadar Hb dalam batas normal, masih terdapat kelompok yang mengalami anemia dan membutuhkan perhatian lebih lanjut. Selain pemeriksaan Hb, penelitian juga melihat pola konsumsi makanan melalui food recall 24 jam serta konsumsi Tablet Fe.

Hasilnya menunjukkan bahwa 89,8 persen responden memiliki hasil penilaian asupan makanan dalam kategori baik, 8,2 persen kategori cukup, dan 2 persen kategori kurang. Sementara itu, konsumsi Tablet Fe menunjukkan 89,8 persen responden berada dalam kategori baik dan 10,2 persen dalam kategori cukup.

Menariknya, analisis statistik menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi Tablet Fe dan kondisi anemia. Hubungan juga ditemukan antara hasil food recall 24 jam dan anemia.

“Temuan ini memperlihatkan bahwa pemantauan anemia pada remaja putri tidak cukup hanya dengan melihat kadar hemoglobin. Asupan makanan dan kepatuhan konsumsi Tablet Fe juga penting diperhatikan sebagai bagian dari pendekatan yang lebih komprehensif,” ujar Annisa Ridlayanti.

Menurut peneliti, pemeriksaan Hb dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk mendeteksi anemia secara lebih dini. Namun, hasil pemeriksaan tersebut perlu dipertimbangkan bersama dengan informasi mengenai pola konsumsi makanan dan kebiasaan mengonsumsi Tablet Fe.

Pendekatan terpadu tersebut dinilai relevan diterapkan di lingkungan sekolah, khususnya di Aisyiyah Boarding School, karena sekolah memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan hidup sehat pada remaja.

Program pencegahan anemia dapat dilakukan melalui edukasi gizi, pemantauan konsumsi Tablet Fe, evaluasi pola makan, serta pemeriksaan hemoglobin secara berkala. Dengan demikian, remaja putri tidak hanya mendapatkan suplementasi zat besi, tetapi juga memperoleh pemahaman mengenai pentingnya pola makan bergizi dan seimbang.

Studi ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara institusi pendidikan, tenaga kesehatan, keluarga, dan organisasi masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan remaja putri.

“Deteksi dini dan pencegahan anemia perlu dilakukan secara berkelanjutan. Remaja putri yang sehat merupakan bagian penting dari investasi kesehatan generasi mendatang,” ungkap tim peneliti.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan program kesehatan remaja berbasis sekolah, terutama dalam memperkuat integrasi antara skrining hemoglobin, pemantauan konsumsi Tablet Fe, dan evaluasi asupan makanan sebagai strategi pencegahan anemia. [ ]

Dok foto: UNISA Bandung