BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Upaya pencegahan stunting tidak selalu harus dimulai dari makanan yang sulit diperoleh. Melalui inovasi OMEGA (Olahan Menu Gizi Anak), dosen Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Bandung Mulyanti, S.ST., M.Keb., Bdn., bersama tim memperkuat kapasitas kader Posyandu di Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, agar mampu mengolah pangan lokal menjadi menu bergizi sekaligus media edukasi bagi keluarga.
Program bertajuk “Cegah Stunting melalui Pelatihan Inovasi OMEGA (Olahan Menu Gizi Anak) Berbahan Pangan Lokal di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Ibrahim Adjie Kota Bandung” tersebut merupakan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dengan pendanaan tahun 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI).
Program yang berlangsung sekitar empat bulan ini tidak hanya memberikan edukasi mengenai gizi balita, tetapi juga mengajak kader belajar melalui praktik langsung. Rangkaian kegiatan dimulai dari koordinasi dan analisis kebutuhan bersama UPTD Puskesmas Ibrahim Adjie serta Ketua Pokja 4 Posyandu Dahlia, kemudian dilanjutkan dengan seminar dan edukasi gizi, pemberian media edukasi, serah terima aset pendukung, hingga cooking class.
Ketua Tim PKM OMEGA, Mulyanti, mengatakan pendekatan berbasis pangan lokal dipilih agar edukasi gizi lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kader tidak cukup hanya memahami konsep makanan bergizi, tetapi juga perlu memiliki keterampilan untuk mengolah dan menjelaskan menu tersebut kepada keluarga.
“OMEGA menempatkan pangan lokal bukan hanya sebagai bahan makanan, tetapi juga sebagai sarana belajar agar kader dan keluarga mampu memilih, mengolah, menyajikan, serta menjelaskan menu anak secara praktis,” ujar Mulyanti, Rabu (19/08/2026)
Mulyanti menuturkan bahwa Program ini menyasar 10 kader Posyandu yang mewakili dari setiap Posyandu di wilayah kelurahan Cibangkong. Pada tahap awal, tim melakukan analisis kebutuhan untuk memetakan persoalan terkait stunting, pemenuhan gizi balita, pengolahan makanan, Pemberian Makanan Tambahan (PMT), hingga kebutuhan edukasi gizi di Posyandu. Hasil pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar dalam penyusunan materi seminar, buku saku, leaflet, poster, serta kegiatan praktik pengolahan menu gizi anak.
“Dalam edukasi yang diberikan, kader mendapatkan penguatan mengenai prinsip makanan yang bergizi, seimbang, beragam, aman, dan menarik dengan memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar. Salah satu perhatian juga diarahkan pada penguatan fungsi Meja 4 Posyandu sebagai ruang Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) bagi ibu balita dan keluarga” terangnya.
Mulyanti menuturkan bahwa inovasi OMEGA dirancang sebagai paket yang dapat digunakan kembali dalam kegiatan Posyandu. Paket tersebut mencakup standar menu dan resep PMT, materi edukasi gizi, teknik pengolahan pangan lokal yang ramah balita, serta media edukasi berupa buku saku, leaflet, dan poster.
“Yang kami harapkan bukan hanya kader memahami materi saat pelatihan, tetapi mereka mampu meneruskannya kepada keluarga dan menggunakannya dalam kegiatan Posyandu. Karena itu, pendampingan dan praktik langsung menjadi bagian penting dalam program ini,” kata Mulyanti.
Salah satu perangkat utama dalam program ini adalah Buku Saku OMEGA yang diberikan kepada kader. OMEGA juga menargetkan sedikitnya lima varian menu yang dapat diuji coba dan dikembangkan sesuai ketersediaan pangan lokal.
Dalam rangka mendukung keberlanjutan program, tim juga menyerahkan perlengkapan pengolahan menu gizi anak kepada mitra di setiap Posyandunya.
“Pendampingan ini tidak berhenti pada seminar atau penyerahan alat. Kader perlu terus didampingi agar mampu menggunakan media edukasi, mempraktikkan menu, dan menerapkan pengetahuan tersebut dalam kegiatan Posyandu secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Program PKM OMEGA dirancang dengan pendekatan pelatihan, praktik langsung, dan pendampingan selama enam bulan efektif yang dilakukan sejak bulan April sampai nanti September 2026. Peningkatan kapasitas kader akan dipantau melalui pengukuran pengetahuan, observasi keterampilan, peningkatan jumlah dan variasi menu PMT, serta frekuensi penyajian PMT inovatif.
Kader juga diharapkan mampu menggunakan buku saku dan media edukasi dalam kegiatan Posyandu, mendemonstrasikan menu kepada keluarga, membantu keluarga menyusun menu berdasarkan bahan yang tersedia di rumah, serta berkoordinasi dengan bidan, petugas gizi, dan Puskesmas apabila ditemukan persoalan pertumbuhan, kesulitan makan, atau kondisi yang membutuhkan tindak lanjut.
Program ini menegaskan bahwa upaya pencegahan stunting dapat diperkuat melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat: memanfaatkan pangan lokal, meningkatkan keterampilan kader, serta menghadirkan edukasi yang dapat diterapkan secara langsung oleh keluarga.
Tim pelaksana kegiatan ini terdiri atas Mulyanti, S.ST., M.Keb., Bdn. selaku ketua, bersama Muhammad Syakib ‘Asqalani Rifai, A.Md.Par., S.ST.Par., dan Nurhayati, S.ST., M.Kes., Bdn. sebagai anggota, serta mahasiswa Annisa Rahma Fadlillah dan Yosa Canla Dwiba. [ ]
Dok foto: UNISA Bandung












