Dosen UNISA Bandung Berdayakan Lansia Sukapura Lewat Terapi SEFT dan Mindfulness Islami

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG  — Di tengah meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Jawa Barat, sekelompok dosen Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Bandung menghadirkan pendekatan sederhana namun menyentuh sisi spiritual untuk membantu para lansia merawat diri sendiri: pelatihan Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) dan mindfulness Islami.

Program pengabdian kepada masyarakat ini digelar bersama jemaah pengajian Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sukapura, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, dan diikuti oleh 42 peserta dari kelompok pra-lansia dan lansia. Kegiatan dipimpin oleh Sajodin bersama tim, yakni Perla Yualita, Nike Arta Puspitasari, Muhammad Insan Jawwad Haifa, dan Fadilla Nur Handayani.

Latar belakang program ini cukup mendesak. Sebagian besar anggota pengajian yang rata-rata berusia 51 tahun ke atas menghadapi penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan rematik, yang kerap dibarengi persoalan psikologis seperti stres, kesedihan, dan kesepian. Kondisi itu membuat sebagian dari mereka menurun kemandiriannya dalam beraktivitas sehari-hari.

“Kami ingin lansia tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga tenang secara batin. SEFT dan mindfulness Islami kami pilih karena selaras dengan nilai keagamaan yang sudah mereka hidupi sehari-hari, sehingga lebih mudah diterima dan dipraktikkan,” ujar Sajodin, ketua tim pengabdian.

Menggabungkan spiritualitas dan teknik relaksasi

SEFT merupakan teknik yang memadukan doa, keikhlasan, dan kepasrahan kepada Allah dengan ketukan ringan (tapping) pada titik-titik meridian tubuh sambil memusatkan perhatian pada persoalan yang dirasakan. Sementara mindfulness Islami melatih peserta hadir penuh pada saat ini melalui zikir, muhasabah (introspeksi diri), dan tadabbur, hingga menumbuhkan ketenangan.

Kegiatan dijalankan secara bertahap, mulai dari observasi kebutuhan, penyuluhan kesehatan, pelatihan langsung, pendampingan harian, hingga pembentukan kelompok dukungan sebaya agar praktiknya berkelanjutan. Peserta dilatih mempraktikkan urutan tapping dan sesi mindfulness secara mandiri, mulai dari berwudu, berzikir, hingga tadabbur.

Pengetahuan peserta meningkat

Hasilnya terukur nyata. Sebelum pelatihan, tidak ada satu pun peserta yang berada pada kategori pengetahuan tinggi, sementara 76,2 persen masih pada kategori rendah. Setelah pelatihan, peserta di kategori tinggi melonjak menjadi 31 persen dan kategori rendah turun ke 23,8 persen. Secara keseluruhan, pengetahuan peserta tentang SEFT dan mindfulness Islami meningkat rata-rata 23,97 persen.

Selain angka, perubahan juga terlihat pada sisi kejiwaan. Para peserta melaporkan merasa lebih tenang dan tidak lagi merasa kesepian setelah rutin mempraktikkan teknik tersebut. Sebagian besar bahkan sudah mampu melakukannya sendiri tanpa pendampingan.

Relevan dengan lonjakan populasi lansia

Program ini dinilai relevan dengan tren demografi di Jawa Barat, yang menghadapi aging population dengan jutaan lansia yang masih membutuhkan pemberdayaan. Tim menilai pendekatan berbasis komunitas keagamaan seperti ini terbilang murah, mudah diterapkan, dan sejalan dengan nilai spiritual peserta sebuah kombinasi yang jarang dijangkau pendekatan medis semata.

Meski demikian, tim menegaskan bahwa praktik spiritual ini bersifat pelengkap, bukan pengganti layanan medis. Lansia dengan gangguan berat tetap membutuhkan pendampingan tenaga profesional.

Tim pengabdian menyampaikan terima kasih kepada Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, LPPM UNISA Bandung, serta pimpinan dan anggota PRM Sukapura atas dukungan penuh selama program berlangsung. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat direplikasi lebih luas dengan pendampingan berkelanjutan agar manfaatnya semakin dirasakan para lansia. [ ]

Dok foto: UNISA Bandung